geografi lingkungan

Khoirunnas anfa'uhum linnas

Senin, 12 Desember 2011

Peta Dalam Sektor Perbankan

geospatial-think

William Crozier, seorang Banker kenamaan di Amerika Serikat, layak diacungi jempol oleh para profesional  geospasial di dunia. Crozier ketika pada tahun 1973 masih menjadi Senior Vice President Baystate, sebuah perusahaan induk perbankan besar di Massachusetts. Ia menyadari betapa pentingnya sebuah peta sebagai teknik pendekatan dalam mengatasi kemelut perbankan, dengan menuliskannya dalam sebuah “Buku Putih” yang ditujukan kepada Dewan Komisaris dalam suatu pernyataan tentang apa yang akan dilakukan Crozier jika ia diangkat sebagai CEO (Michael B. McCaskey, 1982).

Dan ketika pada Juni 1974 kemudian Crozier terpilih menjadi CEO, dan itu artinya “Buku Putih” nya juga segera menjadi kenyataan. Sebelumnya, bank-bank menghadapi masalah karena tidak adanya koordinasi dan pelipatgandaan pelayanan IT dalam mengelola asset perbankan. Crozier dan stafnya melihat masalah itu dari perspektif yang lebih kuat, dan mengembangkan suatu gambaran yang lebih lengkap tentang kenyataan dan kemungkinan pentingnya korelasi pihak bank dan para nasabah mereka. Oleh karena itu, mereka mengubah apa yang mereka dan orang lain lihat setelah mereka melihat kondisi nyata perbankan saat itu.
Penyusunan dan penataan kembali persoalan oleh Crozier, yang disebut pemetaan konsepsional ini merupakan langkah yang kritis. Salah satu titik krusial terbesar bagi manager dalam menghadapi ketidakpastian dan perubahan ialah bagaimana mereka berpikir tentang keadaan itu. Pemetaan, dalam pengertian “peta konsepsional” menurut pandangan Crozier adalah merupakan suatu sarana penting yang berguna untuk memahami dan menyelidiki gambaran-gambaran mental kita terhadap situasi lingkungan sekitar dan hubungan mental  kita dengan tindakan yang akan dilakukan, yang kemudian digambarkan secara visual detail dan pola dari semua elemen yang terlibat.
Peta merupakan buku pedoman yang tidak bernilai harganya sebagai peta jalan yang mengkawal kemana arah yang seharusnya kita tuju, tetapi juga dapat membatasi pengetahuan kita jika tidak didasari perspektif dan visi yang kuat. Dengan memahami bahwa peta merupakan suatu model yang harus dikuasai oleh seorang pimpinan dalam menghadapi ketidakpastian dan perubahan dalam mencapai tujuan tertinggi, sehingga semua persoalan bisa dihadapi dengan lebih mudah.
Dengan dalil-dalinya tentang pemetaan, Crozier menciptakan suatu cara berpikir baru tentang masalah-masalah perbankan. Ia mengembangkan suatu perspektif yang mengubah masalah pertentangan intern dan inefisiensi sumber daya menjadi suatu peluang bagi perluasan jaringan lokasi perusahaan induk yang khas. Bidang-bidang eksisting dipetakan kembali, hubungan-hubungan baru diciptakan, dan kemungkinan-kemungkinan baru dibuka secara lebih luas.
Tentu tidak semua orang setuju dengan peta baru yang dibangun Crozier. Beberapa presiden bank lain, terutama mereka dari bank-bank besar dan kaya, merasa sudah mempunyai peta-peta yang nampaknya efektif buat mereka. Mereka mengatakan, “Keadaan kami baik. Persaingan di antara kami membuat kami sehat. Mengapa harus berubah?”
Pemetaan oleh suatu kelompok tidak selalu merupakan suatu proses yang terus-menerus dan mudah. Para presiden bank lebih mencurahkan perhatian pada pemeliharaan otonomi tradisionalnya dalam menjaga stabilitas perusahaan. Sebaliknya sang CEO perusahaan induk, Crozier, tetap konsisten dengan dalil-dalilnya dan melaksanakan kemungkinan-kemungkian baru yang lebih baik.
Beberapa ahli sosiologi yang telah mempelajari proses pandangan yang bertentangan menunjukkan bahwa, ”Orang yang mempunyai togkat lebih besar mempunyai kesempatan lebih baik untuk memaksakan definisi-definisinya tentang kenyataan.” Demikianlah yang terjadi dalam kasus perbankan. Crozier masih mempunyai dukungan yang sebagian besar para pemegang saham, dan kemudian memaksakan peta-nya pada para pimpinan di bawahnya yang kadang-kadang enggan untuk melaksanakannya di lapangan. Hingga pada akhirnya, peta itu benar-benar membawa perubahan yang luar biasa. (Michael B. McCaskey, 1982).
Sumber :
Buku Pemetaan di DKI Jakarta : Sejarah dan Prospek Pengembangannya
(Samsul Hadi 
– Cardiyan – Deden Anwar – Zulfiarman)

0 comments:

Poskan Komentar