geografi lingkungan

Khoirunnas anfa'uhum linnas

Minggu, 25 Desember 2011

Bergetar Tanpa Gempa (Aseismic Tremor)

Ketika sebuah patahan bergeser dan bergerak secara mendadak maka akan menimbulkan getaran atau goyangan yang disebut gempa. Namun ada kalanya gerakan dari bagian-bagian bumi yang terpatahkan itu tidak bergerak secara mendadak dengan sangat cepat. Namun gerakannya sedikit demi sedikit. Gerakan yang sedikit demi sedikit ini walaupun tidak menyebabkan gempa namun menyebabkan bumi tergetar disebut tremor.
Gambar di atas adalah yang dimaksud dengan teori elastic rebound atau “teori pelentingan”. Teori yang dijelaskan untuk gempa-gempa akibat patahan geser/ sesar. 

Goyangan-goyangan akibat terlepasnya energi yang terkumpul perlahan-lahan ketika akan melenting bisa dilihat seperti gambar di atas. (sumber gambar :www.uwgb.edu/DutchS/EarthSC202Notes/quakes.htm)

Membedakan Tremor dengan Gempa.
Gempa dan tremor dapat dibedakan dengan mudah bila dilihat pada rekaman seismograf. Getaran tremor berupa getaran yang terus menerus, tidak dijumpai dimana awal dari getarannya secara jelas. Getaran gempa berupa getaran yang besar dan mendadak sangat mengejutkan.

Dibawah ini perbandingan dua jenis rekaman tremor dan rekaman gempa. Perhatikan goyangan tremor yang terus-menerus terekam. Tremor sering dijumpai ketika terjadi aktifitas magmatik (vulkanik). 
Perbedaan rekaman getaran tremor dengan getaran gempa (earthquake)
Tremor akibat tektonik yang sering disebut juga aseismic (tidak menyebabkan gelombang seismic /gempa) sering diikuti oleh pergeseran patahan secara lambat, slow slip. Dibawah ini sebuah rekamanslow slip (Aseismic) yg direkam pada sebuah patahan yang dimonitor sejak tahun 1990-2008.

Dalam sebuah pengamatan tremor oleh Earthscope di Cascadia (USA), terlihat bahwa aktifitas tremor terjadi sangat sering yang diikuti dengan pergeseran (slip).
Pemangamatan pergerakan yang disertai Tremor di Cascadia, Calif, USA

Penelitian dan pengamatan tremor ini juga telah memperkirakan adanya zona-zona yang memiliki karakteristik kegempaan yang berbeda-beda dalam satu zona penunjaman. Pada bagian paling dangkal disitu terjadi luncuran stabil (Stable Sliding), kemudian semakin kedalam terdapat tempat yang sering terkunci – Stick Slip (Locked), disinilah gempa-gempa besar sering terjadi. Masuk kedalam lagi akan memasuki zona transisi dan akhirnya masuk lagi ke zona luncuran stabil (stable sliding)
Luncuran stabil, luncuran terkunci, dan luncuran transisi dalam sebuah penunjaman kerak lempeng.
Dalam zona tumbukan (subduction zone), tidak seluruhnya akan menyebabkan gempa. Dengan demikian beberapa zona yang meluncur stabil meluncur dengan sangat sedikit atau bahkan tidak menyebabkan getaran yang berarti. Pada tempat gesekan ini seringkali juga terjadi penguncian atau macet tidak begerak maju, karena itu suatu ketika zona gesekan ini melepaskan getaran yang menyebabkan getaran gempa yang sangat kuat.

Penelitian-dan gambar-gambar ini diambil dari penelitian-penelitian yang baru saja dilakukan, tahun 2004. Artinya ini menunjukkan bahwa ilmu kegempaan juga terus berkembang.
Implikasi dari terjadinya tremor dan luncuran (slip)

Perhatikan perbandingan jumlah tremor yang terjadi.

Zona seismigenic dalam sebuah penunjaman

Tremor akan lebih sering terjadi ketimbang gempanya sendiri. Gerakan patahan ini terjadi secara kontinyu (terus menerus), sedikit demi sedikit dan berulang-ulang. Tentunya harus dimengerti bukan berarti daerah ini tidak membahayakan, namun penelitian memberikan hasil menarik seperti dibawah ini.
Hubungan anti korelasi antara ambang Tremor, Slow Slip dan seismisitas
Saat ini tremor masih diteliti dengan seksama. Hubungan korelasi antara tremor dengan gempa tentulah sangat menarik untuk diteliti. Apalagi keduanya berada pada daerah yang secara geologi memiliki kesamaan, bahkan secara genetis (terbentuknya) dapat diketahui hubungannya. 

Selain diperoleh pengetahuan baru adanya model seismogenic zone, juga diketahui adanya antikorelasi antara tremor, perambatan luncuran (slow slip) dan seismisitas.
Jenis batuan memiliki sifat Rheology yang berbeda, dan memiliki sifat seismisitas yang juga berbeda. Karena friksi antar batuan yang berbeda memiliki karakteristik sendiri-sendiri
Dengan diketahuinya hubungan spasial (keruangan) antara lokasi tremor dengan lokasi yang sering terkunci (stick slip) yang merupakan zona gempa besar, maka dengan meneliti karakteristik tremor dimungkinkan untuk memperkirakan dimana lokasi gempa besar. Seperti yang terlihat dibawah ini
Lokasi Slow Slip dan Tremor dapat dipakai untuk memperkirakan dimana zona-zona yang memungkinkan terjadi gempa besar.
Aseismic creep (Rayapan tanpa seismik)
Gambar diatas menunjukkan bawa di Sesar (Patahan) San Andreas juga terdapat zona dimana diperkirakan terjadi Aseismic Zone, atau zona tanpa seismic. Dengan demikian zona Aseismik ini perlu diketahui untuk sesar-sesar yang sudah diketahui (dipastikan) aktif. Di Indonesia tentunya perlu juga diteliti disepanjang Sesar Semangko, Sesar Palu-Koro, dan juga Sesar Sorong serta lainnya
Kajian lain sepanjang zona subduksi
Selain diteliti secara fisis. Proses-proses kimiawi, Hidrothermal dan proses metamorfisme juga diteliti oleh Hydmam tahun 2008 diatas. Jadi penelitian ini sangat baru. Indonesia sebagai tempat yang paling rawan terhadap bencana gempa perlu juga dilakukan penelitian seperti ini.

 

Peramalan gempa

Tentunya hipotesa ini yang paling menarik yaitu kemungkinan terbukanya peramalan gempa besar dengan mengamati tremor-tremor yang terjadi disuatu daerah. Memang belum dapat dikatakan pasti akan dapat diramalkan namun disinilah mulai terbukanya peluang riset untuk melakukan peramalan gempa.

Nah, jangan terlalu risau namun juga jangan lengah. Tremor merupakan sebuah fenomena yang saat ini masih terus diteliti. Doakan saja para peneliti ini menemukan hal baru untuk mengurangi risiko gempa. Dan yang lebih penting lagi, melakukan penelitian bahkan pengamatan terus-menerus pada daerah-daerah yang sering merasakan getaran tremor ini di Indonesia.


Pustaka
·       Deep Tremor in Subduction Zones: The transition from stick-slip to stable sliding, Justin R. Brown, Gregory C. Beroza
·       Detecting Large-scale Intracontinental Slow‑slip Events (SSE s) Using Geodograms, Brian Wernicke and James L. Davis
-   http://rovicky.wordpress.com

1 comments:

Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Rosnida zainab asal Kalimantan Timur, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil, dan disini daerah tempat saya mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali, bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya dan 3 bln kemudian saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, Satu minggu kemudian saya sudah ada panggilan ke jakarta untuk ujian, alhamdulillah berkat bantuan beliau saya pun bisa lulus dan SK saya akhirnya bisa keluar,dan saya sangat berterimah kasih ke pada beliau dan sudah mau membantu saya, itu adalah kisah nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya, anda bisa Hubungi Bpk Drs Tauhid SH Msi No Hp 0853-1144-2258. siapa tau beliau masih bisa membantu anda, Wassalamu Alaikum Wr Wr ..

 

Poskan Komentar