geografi lingkungan

Khoirunnas anfa'uhum linnas

Senin, 12 Desember 2011

Peta Di Era Revolusi Industri (Abad 18)

cassini-map

Pada abad ke-18, terjadilah zaman reformasi kartografi yang diperkenalkan oleh Perancis. Pada masa itu, Perancis melakukan survei-survei nasional guna pembuatan peta yang dipimpin oleh Caesar Francois Casssini dan Comte de Thury (1714-1784). Survei ini menghasilkan peta Perancis dengan 18 basis, 2000 segitiga, dengan dilampiri tabel lintang dan bujur dari kota-kota Perancis.
Pendukung pembuatan peta lainnya adalah Kaisar Napoleon Bonaparte. Sebagai seorang Kaisar sekaligus Panglima Perang Perancis, dia sangat sadar betapa pentingnya peta dalam mewujudkan ambisi ekspansinya. Oleh karena itu, dia menugaskan Bacler d’Albe untuk menyiapkan peta negara-negara tetangga seperti Italia dengan skala 1:250.000. Proyek besar Napoleon adalah peta-peta Eropa dengan skala 1:100.000. Rupanya kegiatan survei dan pemetaan Perancis ini menimbulkan kegelisahan dan kepanikan Inggris (musuh tradisional Perancis). Untuk mengantisipasi ambisi Napoleon, maka pada tahun 1791, Inggris mendirikan Ordonance Survey of Great Britain.
Begitu pula peta dalam perkembangan kemajuan Jepang. Jepang bisa maju seperti sekarang tak bisa dilepaskan dari adanya kebijakan di bidang Survei dan Pemetaan yang tepat dan sistematis. Pekerjaan yang mendasari kegiatan ini dilakukan dalam tahun 1799 oleh Takado Ino, sosok pelopor dalam Survei dan Pemetaan modern Jepang, di bawah perintah Shogun Tokugawa.
Jepang memandang Survei dan Pemetaan sebagai suatu kebutuhan yang teramat penting dalam pertahanan nasional. Dengan kelahiran Jepang sebagai sebuah negara yang modern di tahun 1868, survei dan pemetaan menjadi suatu bagian yang vital dari politik nasional di bawah komando Korp Topografi Angkatan Darat Kekaisaran. Itulah yang menjadi tonggak awal berdirinya Institut Survei Geografi yang ada sekarang, diperlengkapi dengan pengetahuan dan teknologi yang modern. Korp Topografi AD ini ditugaskan untuk membuat peta topografi negara Jepang dengan skala 1:50.000.
Dalam pelaksanaannya, Korps tersebut menggunakan metode dasar survei trigonometri. Peta topografi ini diselesaikan pada tahun 1925. Cukup lama memang, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan peta topografi tersebut dengan menggunakan jarring-jaring triangulasi nasional dan survei waterpas. Tetapi dengan adanya kerangka dasar untuk survei nasional yang telah dibuat itu, menyebabkan Jepang berhasil merehabilitasi ekonomi dan sosialnya sesudah Perang Dunia II dalam waktu singkat. Dengan latar belakang historis ini, Institut Survei Geografi ini kemudian melaksanakan program lanjutan yang ketiga dan seterusnya sampai sekarang ini.
Tidak dapat disangkal lagi, sejak masa-masa awal sejarah penggunaan peta dan pengembangan kartografi sebelum zaman peta modern sekarang ini, ada sedikitnya 6 (enam) aktifitas manusia yang secara efektif terlibat dalam pemakaian peta yakni sebagai berikut :
(1) Perhubungan. Kegiatan pelayaran yang aktifitasnya jelas sangat membutuhkan suatu petunjuk alamiah maupun berupa tanda/catatan untuk dapat berlayar membelah lautan dan mencapai atau kembali ke daratan tertentu. Dan tentu perhubungan dasar tetap memerlukan peta yang sederhana sekalipun.
(2) Perpajakan. Pemakaian peta praktis secara efektif bagi pemungutan pajak pertama kali diterapkan di Mesir, akibat adanya irigasi yang teratur sebagai hasil pembuatan bendungan di sungai Nil. Pemerintah Mesir pada waku itu melakukan pemungutan pajak tanah guna menutup biaya investasi pembuatan dan perawatan bendungan Aswan.
(3) Tata pemerintahan. Suatu daerah kekuasaan yang terlalu luas akan sangat sulit dikontrol dan dikuasai tanpa tata kelola yang efektif. Agaknya inilah yang menyebabkan China menjadi negara pertama yang mempergunakan peta sebagai bagian dari alat yang efektif dalam menjalankan tata pemerintahan China. Terlebih lagi, negeri ini ditunjang oleh kemajuan seni lukis dan seni tulis, yang telah sejak lama berkembang dan mencapai kemajuan yang sangat berarti. Maklum China merupakan negara pertama di dunia yang menemukan kertas, oleh Ts’ai Lun.
(4) Militer. Dalam suatu perang yang melibatkan ratusan ribu tentara dan daerah pertempuran yang luas, panglima perang jelas membutuhkan suatu peta dan alat penunjang lainnya yang dapat dipakai untuk menyusun strategi. Dia juga harus dengan tepat mengetahui dimana posisi terakhir pasukannya, dan dimana posisi pasukan musuh berada.
(5) Pembangunan infrastruktur. Dalam cakupan secara keseluruhannya, sejak proses awal perencanaan hingga akhir pembangunan dan pemeliharaan, jelas sangat memerlukan peta dalam berbagai skala sesuai dengan kemajuan pada zamannya ketika itu.
(6) Penggalian sumber daya alam. Baik itu tambang mineral, batu bara, emas, dan logam lainnya, pertanian, kehutanan, dan perikanan. Dari awal perencanaan, eksplorasi hingga eklpoitasi, keberadaan peta sangat dibutuhkan.
Dari keenam aktivitas tersebut di atas, peta untuk keperluan militer menempati prioritas utama pada zaman itu. Bangsa pertama yang berusaha membuat peta untuk keperluan militer adalah bangsa Romawi. Oleh karena itu, mereka tidak menggunakan sistem kartografi Yunani yang terlalu matematis, tetapi memilih peta buatanmereka sendiri yang dipandangnya lebih praktis.
Atas alasan kepraktisan inilah, daerah yang sama dapat dipetakan dengan cara yang berbeda-beda. Peta tentang kekaisaran Romawi misalnya, mencerminkan kebutuhan, kekuatan, dan tingkat psikologi penduduknya. Seperti halnya suatu daerah dapat digambarkan secara politis, topografis, maupun geografis, organisasi atau kelompok dapat juga memetakan dunia mereka sendiri dengan cara yang berbeda-beda. Peta-peta jalan Romawi mengubah laut dan daratan untuk menyesuaikan sistem jalan kekaisaran dalam suatu ruang yang terbatas. Semuanya itu, didasarkan pada kebutuhan praktis Romawi untuk kepentingan militernya dalam memperkuat militernya, dan menaklukkan musuh-musuhnya.
Sumber :
Buku Pemetaan di DKI Jakarta : Sejarah dan Prospek Pengembangannya
(Samsul Hadi – Cardiyan – Deden Anwar – Zulfiarman)

0 comments:

Poskan Komentar