geografi lingkungan

Khoirunnas anfa'uhum linnas

Jumat, 05 Oktober 2012

Pengamatan cuaca di Indonesia Pertama Kali Pada Tahun 1758-2000



Tahun 1758. Data cuaca. Data cuaca di Indonesia sudah ada sejak lama tetapi tidak dihasilkan dari pengamatan yang secara terus-menerus, seperti misalnya data pengamatan suhu dan tekanan atmosfer di Jakarta yang dilakukan oleh nachoda kapal yang sedang berlabuh di Jakarta tahun 1758 (Januari), perhitungan hari hujan di Jakarta tahun 1778, pengamatan badai di Laut Banda, pengamatan cuaca laut , oleh vessels Gouverments Marine Jakarta (2 April 1778.)

Tahun 1841. Pengukuran suhu. Seperti yang ditulis oleh Dr. W. Van Bemmelen dalam buku Obsevations Made At Secondary Stations in Netherlands East-India vol. I tahun 1913 yang diterbitkan oleh Pemerintah Netherlands East-India, menyebutkan bahwa pengamatan meteorologi yang lebih tetap dan menggunakan peralatan, seperti pengukuran suhu udara dengan termometer, dilakukan secara amatur oleh Dr. Onnen, direktur Rumah Kesehatan di Bogor pada tahun 1841. Dengan demikian tahun 1841 kiranya dapat dipandang sebagai awal pengamatan cuaca dengan peralatan di Indonesia. Namun demikian kegiatan pengamatan tersebut tidak sebagai kegiatan awal dari pengamatan cuaca yang dilakukan oleh lembaga resmi yang ditugasi dalam bidang meteorologi selanjutnya. Tetapi dari apa yang dilakukan oleh Dr Onnen tersebut menunjukkan bahwa saat itu sudah ada pemikiran adanya kaitan cuaca dan kesehatan. Adanya perhatian tentang cuaca dalam kaitannya dengan bidang lain juga dapat ditunjukkan dengan adanya pengamatan cuaca oleh dinas-dinas lain meskipun masih terbatas untuk keperluan sendiri seperti antara lain dinas Angkatan Perang, dinas Pertanian.
Tahun 1856.. Gagasan. Gagasan tentang adanya kegiatan meteorologi dalam suatu lembaga di Indonesia baru dimulai tahun 1856 tetapi baru menjadi kenyataan pada tahun 1866 setelah melalui proses yang tidak mudah. Seperti yang ditulis oleh Dr. P.A. Bergsma dalam buku Observation Made At Magnetical And Meteorological Observatory at Batavia Vol III terbitan tahun 1878, gagasan pendirian suatu lembaga untuk menangani kegiatan pengamatan cuaca di Indonesia baru dimulai tahun 1856 oleh Alexander von Humbolt. Pada tahun 1856, Alexander von Humboldt yang mewakili Ch. F. Pahud, Gubernur Jendral Hindia Belanda, mengunjungi Hindia Belanda (sebutan Indonesia pada masa penjajahan Belanda), singgah lebih dahulu di Berlin mempromosikan gagasannya tentang pentingnya didirikan observatorium magnet dan meteorologi di Batavia (sekarang Jakarta) untuk mengetahui sifat fenomena magnet bumi dan fenomena meteorologi di kawasan tropik. Gagasan tersebut mendapat sambutan yang baik dari para ilmuwan di sana. Dengan dukungan para ilmuwan di Berlin tersebut Alexander von Humbolt kemudian membuat surat usulan kepada Gubernur Hindia Belanda tentang pendirian observatorium magnet dan meteorologi di Batavia yang nantinya ada kaitannya dengan pengamatan di observatorium–observatorium lain yang sudah ada seperti yang ada di India dan Australia. Surat usulan tersebut diterima baik oleh Gubernur Jendral dan diteruskan kepada Menteri Bidang Kolonial di Den Haag. Selanjutnya Menteri Bidang Kolonial mengirimkan surat tersebut ke Royal Academy of Sciences di Amsterdam untuk dipelajari dan diminta pendapatnya. Akademi menilai bahwa gagasan yang diajukan Alexander von Gumbolt tersebut sangat baik dan Akademi sangat mendukung.
Tahun 1857. Rencana pendirian observatorium. Dengan dukungan para akademisi di Academic of Science di Amsterdam tersebut, selanjutnya Profesor Buys Ballot, Direktur Meteorologi Belanda (Royal Meteorological Institute) di Utrecht, ditugasi oleh Menteri Bidang Kolonial untuk membuat rencana rinci pendirian Observatorium seperti yang diusulkan Alexander von Humboldt. Setahun kemudian pada tahun 1857 Prof. Buys Ballot menyelesaikan tugasnya dan mengirimkan hasilnya kepada Menteri Bidang Kolonial. Rencana yang disusun meliputi tiga hal, yakni (a) pendirian observatoriun magnet dan meteorologi di Batavia (Jakarta); (b) pengorganisasian pengamatan meteorologi tingkat II (pengamatan meteorologi tiap 3 jam) di tempat-tempat lain di kepulauan Hindia Belanda; (c) survei magnet bumi di tempat lain di kepulauan Hindia Belanda dalam kaitannya dengan pengamatan magnet tetap yang dilakukan di Batavia.
Tahun 1859. Studi banding. Untuk menindak lanjuti rencana pendirian observatorium magnet bumi dan meteorologi tersebut pada tahun 1859 Dr. P.A. Bergsma ditunjuk sebagai direkturnya dan sekaligus sebagai ketua komisi untuk melakukan studi banding dan kemungkinan perbedaannya dengan sistem yang digunakan di Eropa agar alat yang digunakan dapat memperoleh hasil yang baik. Atas penunjukan tersebut kemudian Dr Bergsma mengunjungi observatori-observatori di Eropa, utamanya di Obsevatori Kew di Inggris. Dari hasil kunjungan studinya kemudian Dr Bergsma menyusun rencana yang lebih rinci dan mengajukan anggaran untuk membeli alat-alat yang diperlukan kepada Pemerintah Belanda. Sangat beruntung rencana anggaran yang disusun dapat disetujui. Dengan biaya yang ada, alat-alat magnet buatan Inggris dan Jerman serta alat-alat meteorologi buatan Belanda, yang beberapa diantaranya telah dan masih akan dilengkapi dengan alat rekam, dapat dikumpulkan dan sekaligus dibawa serta ke Batavia.
Tahun 1862. Menyewa bangunan. Pada tahun 1862 Dr Bergsma sampai ke Batavia dengan penuh harapan rencana pendirian observatorium magnet dan meteorologi dapat dilaksanakan. Setelah sampai di Batavia kemudian disusun anggaran untuk pembangunan observatotrium. Tetapi dalam kenyataan banyak mengalami kesulitan utamanya dalam hal biaya. Biaya yang diperhitungkan di tempat ditolak oleh Pemerintah Belanda karena dianggap terlalu besar dibandingkan dengan rencana biaya yang diusulkan sebelumnya. Dalam kenyataan memang demikian bahwa harga bahan-bahan yang diperlukan untuk pembuatan bangunan tetap dan gajih pegawai di Hindia Belanda lebih tinggi dibandingkan dengan biaya yang diperlukan untuk pembangunan observatorium serupa di Eropa. Karena masalah kekurangan biaya belum dapat diatasi maka pembangunan tertunda. Namun demikian Dr Bergsma mengambil alternatip untuk sementara menyewa bangunan sederhana yang dianggap dapat digunakan untuk melakukan pengamatan magnet bumi dan meteorologi sementara sebelum dapat dibangun bangunan yang tetap. Bangunan tersebut terletak di daerah Kwitang ( di Jl. Arief Rakhman Hakim no. 3 yang sebelumnya bernama Jalan Gereja Inggris sebagai pengganti sebelumnya bernama Engels Kerkweg). Tetapi tidak ada penjelasan pemilik bangunan yang disewa.
Tahun 1866. Awal pengamatan tetap. Meskipun dengan menggunakan bangunan sederhana, dengan dibantu oleh 5 pegawai penduduk pribumi yang dilatih sendiri oleh Dr Bergsma, mulai tanggal 1 Januari 1866 dilakukan pengamatan meteorologi setiap jam. Dengan dimulainya pengamatan tersebut maka tanggal 1 Januari 1866 ditetapkan sebagai awal kegiatan dalam bidang meteorologi secara resmi oleh Lembaga Pemerintah. Lembaga tersebut oleh Pemerintah Belanda diberi nama "Batavia Magnetisch en Meteorologisch Obsevatorium". Meskipun namanya "Batavia Magnetisch en Meteorologisch Obsevatorium" tetapi pengamatan magnet bumi pada saat itu belum dilakukan karena belum ada tempat untuk memasang alatnya. Pengamatan di tempat tersebut berlangsung sampai bulan September 1999 dengan menggunakan nomor kode stasiun pengamatan 96745. Berhentinya pengamatan di jl. Arief Rkhman Hakim no.3 Jakarta karena kantor di Jl. Arief Rakhman Hakim dipindah ke Kemayoran.
clip_image002
Gb. 1. Pengamat
(koleksi Chaidir T)
Tahun 1871. Buku laporan yang pertama. Meskipun dalan bangunan sederhana pengamatan dan pencatatan datanya dapat dilakukan dengan teratur. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, pada tahun 1871 diterbitkan buku laporan pertama yang memuat kumpulan data hasil pengamatan tahun 1866, 1867, dan 1868. Direktur Obsevatorium masih DR. Bergsma dan mulai tahun 1874 Lieutnant L. Backer Overbeek R. D. N. diangkat sebagai wakil direktur sampai tahun 1877.
Tahun 1875. Bangunan Observatorium. Sampai tahun 1873 observatorium menempati bangunan yang disewa. Kemudian pada tahun 1874 tanah dan bangunan tersebut dapat dibeli Pemerintah Belanda. Setelah rancangan bangunan dan rencana anggaran diajukan dan mendapat persetujuan pemerintah maka pada tahun 1875 pembangunan dimulai. Untuk menandai lokasi obsevatorium dibuat pilar batu yang memuat tulisan menunjukkan posisi : 06o 11’ Lintang Selatan; 7h 7m 19’ atau 106o 49’ 45” Bujur Timur; elevasi 7 m di atas muka laut (asl = above sea level). Sejak itu obsevatorium menempati bangunan tetap.


clip_image004
Gb. 2. Bangunan yang disewa di Kwitang
(jl. Arief Rakhman Hakim 3 Jakarta
(foto tahun 1950)(koleksi Chaidir T)
Tahun 1876. Stasiun pengamatan hujan. Rencana penyelenggaraan dan pengorganisasian pengamatan di luar Batavia masih memerlukan pertimbangan mengingat kurangnya tenaga pengamat dan besarnya biaya apabila dilakukan sendiri oleh Observatorium. Namun demikian dengan dana yang ada pada tahun 1876 dapat dimulai pembangunan stasiun meskipun baru stasiun pengamatan hujan saja. Untuk mengatasi kendala kekurangan biaya diambil kebijaksanaan dengan membantu dan mengumpulkan data hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh berbagai kalangan dan minta bantuan bekerjasama dengan berbagai departemen pemerintah. Disamping itu dilakukan pendidikan dan latihan kepada pribumi. Dengan cara tersebut dapat dikumpulkan data hujan dari 95 lokasi yang berasal dari 55 tempat di Jawa, dari 22 tempat di Sumatra, dari 2 tempat di Bangka, dari 1 tempat di Biliton, dari 8 tempat di Borneo (Kalimantan), dari 4 tempat di Selebes (Sulawesi), dari 1 tempat di Amboina (Ambon), dari 1 tempat di Banda, dan dari 1 tempat di Ternate. Selanjutnya sampai tahun 1878 dapat bertambah menjadi 74 satsiun di Jawa dan 44 di luar Jawa.; dan pada awal tahun 1884 menjadi 90 stasiun di Jawa dan 77 di luar Jawa. Kemudian pada tanggal 1 Januari tahun 1879 buku laporan kumpulan data dari tempat-tempat pengamatan tersebut diterbitkan.
Tahun 1879. Alat ukur rekam. Teknologi pengukuran makin berkembang; alat-alat rekam mulai diketemukan. Demikian pula alat–alat yang digunakan di Batavia Magnetisch en Meteeorologisch Observatorium juga makin bertambah. Pada tahun 1879 mulai digunakan alat ukur yang dapat merekam sendiri secara mekanis dan fotografik, misalnya termograf, termohigrograf yang digunakan untuk merekam suhu dan kelembapan.
Tahun 1880. Survei. Data hujan yang dapat dihasilkan dari banyak pengukuran dipandang cukup baik untuk menandai ciri meteorologi di kepulauan yang bersangkutan; tetapi untuk mengenali sistem cuaca yang berkaitan dengan sistem cuaca di tempat lain Dr Bergsma berpendapat bahwa dengan hanya hujan belum mencukupi. Oleh karena itu masih perlu diamati unsur cuaca lain di tempat-tempat tertentu. Pendapat tersebut dikemukan kepada Pemerintah. Pemerintah menerima pemikiran tersebut dan kemudian pada tahun 1880 memberi kesempatan kepada Dr Bergsma untuk memilih lokasi-lokasi yang sesuai. Pada bulan September tahun itu pula (1880) Dr. Bergsma mulai melakukan perjalanan keberbagai pulau. Tetapi sesampai di Surakarta Dr. Bergsma jatuh sakit. Setelah sembuh dia melakukan survei lagi tetapi kesehatannya makin menurun dan pada tahun 1882 dia mengajukan kembali ke Eropa. Namun demikian sebelumnya dia menyelesaikan laporan hasil surveinya. Penyusunan laporan dilakukan dari tanggal 30 Maret sampai 16 April 1882 dan selanjutnya menyampaikannya kepada Pemerintah. Setelah itu dia berangkat kembali ke tanah asal. Sayang sekali dia tidak tahu lagi perkembangan hasil surveinya karena dia meninggal ketika sampai di Laut Merah (Red Sea).
Tahun 1882. Pengamatan magnet bumi. Setelah bangunan untuk pemasangan alat magnet selesai pada tahun 1882 pengamatan magnet dapat dimulai di Batavia. . Selanjutnya pada bulan April tahun 1883 magnetograf Adie dapat dipasang dan beroperasi dengan baik.

clip_image006
Gb.3. Foto bangunan untuk alat manet
di Jl. Gereja Inggris no.3 Jakarta
(foto th.1950)(koleksi Chaidir T)
Tahun 1883. Data pasang surut dan angin. Setelah Dr. Bergsma kembali ke Netherlands dan wafat pada tahun 1882 sewaktu dalam perjalanan sampai di laut Merah, tugas selanjutnya dipegang oleh Dr. J. P. Van Der Stock. Van Der Stock sebelumnya adalah wakil direktur observatorium yang diangkat sejak tahun 1877 mengganti Lieutnant L. Backer Overbeek R. D. N. setelah dia selesai studi khusus tentang meteorologi dan magnet bumi. Selain melanjutkan upaya yang telah dilakukan Dr. Bergsma, dia juga melakukan pengumpulan data dari hasil pengamatan kapal perang di laut sekitar Netherlans Indie. Selain itu dia juga dapat mengumpulkan data pasang surut laut dari 80 stasiun pengamatan yang juga melakukan pengamatan angin 3 kali setiap hari.
Tahun 1890. Kondisi iklim. Ketika Pemerintah Belanda mau mendirikan sebagian pusat angkatan darat (army) di Preanger (Priyangan) pada tahun 1890 Observatorium dimintai penjelasan tentang iklim daerah tersebut. Untuk mendukung jawaban yang diberikan maka dibangun stasiun pengamatan yang dilengkapi dengan alat-alat rekam otomatik di lima tempat selama satu tahun (note: tidak disebutkan tempatnya). Sementara itu di Pabrik-Pabrik Gula seperti di Pasoeroean, Kagok (Pekalongan) dalam keperluannya untuk penelitian juga melakukan pengamatan meteorologi. Selain itu juga ada pengamatan lain seperti yang dilakukan oleh Mr.Augustein di Tjepogo lereng timur gunung Merbabu dan pengamatan oleh Dr. Kohlenbrugge di Tosari lereng utara gunung Tengger pada ketinggian 1770 meter dari permukaan laut.
Tahun 1898. Pengamatan gempa bumi. Kegiatan pengamatan di Observatorium Batavia dan pengorganisasian pengamatan dari berbagai tempat pengamatan di luar Jakarta berlangsung dengan baik, dan pada tahun 1898 pengamatan gempa dengan seismograf pertama dilakukan di Batavia (Jakarta).

Tahun 1898. Perubahan nama. Batavia Magnetisch en Meterologisch Obsevatorium selama perjalanannya mengalami banyak perubahan. Pada tahun 1898 diusulkan nama obsevatorium menggunakan Koninklijke ( sebelumnya dalam bahasa Inggris orang menyebutkan dengan nama Royal Magnetical and Meteorological Observatory). Setahun kemudian yaitu tahun 1899 Pemerintah Belanda menyetujui pemakaian nama Koninklijke sehingga namanya diganti menjadi “Koninklijke Meteorologisch en Magnetisch Observatorium KMMO) ”
(Chaidir 1898; Susanto 1899 ?)

Tahun 1899. Dr. S. Figee. Pada tahun 1899 Dr. Van Der Stock meninggalkan Jawa kembali ke negeri Belanda. Jabatan Direktur Observatorium dipegang oleh Dr. S. Figee yang sebelumnya adalah Sekretari Observatorium. Mulai tahun 1899 instansi meteorologi menggunakan nama Koninklijke Meteorologisch en Magnetisch Observatorium (KMMO) sebagai ganti dari Batavia Meteorologisch en Magnetisch Observatorium, dibawah Departemen van Verkeer, Energie en Mijnweren.

Tahun 1900. Alat magnet dipindah. Setelah alat magnet dipasang dan beroperasi selama 15 tahun sejak tahun 1883, tahun 1898 mulai terganggu oleh beroperasinya trem listrik yang lewat dekat (kurang lebih 250 meter) (di jalan Menteng raya) lokasi pemasangan magnetograf. Karena gangguan tersebut, pada tahun 1900 alat magnet dipindahkan ke Bogor, yang oleh Prof. Treup direktur Kebun Pertanian (Kebon raya) disetujui di pasang di lingkungan Kebun Raya (menurut DR. Braak dalam buku Observations Made At Secondary Stations. Vol. I. Royal Magnetic and Meteorological Observation th. 1913 menyebutkan bahwa stasiun pengamatan meteorologi di Buitenzorg terletak di 6o 36’ LS, 106o 48’ BT di dekat pavilion alat magnet milik Magnetisch en Meteorologisch Observatorium). Namun demikian di Batavia juga masih ada pengamatan magnet yang dilakukan pada malam hari sesudah pukul 9 malam selama kereta listrik tidak beroperasi.
Pada tahun 1900 itu pula dipasang beberapa alat rekam meteorologi di beberapa tempat yang diperkirakan akan dilewati jalur gerhana matahari yang akan terjadi pada tahun 1901. Dari catatan tersebut dapat disimpulkan bahwa waktu itu sudah ada prakiraan gerhana matahari. Tidak lama sesudah itu Prof. Treub dengan dibantu oleh Dr. Van Breda De Haan, Inspektur Pertanian Pribumi (Inspector of Native Agriculture) mengorganisasi sejumlah stasiun meteorologi di Jawa yang pengamatnya orang-orang Jawa, dengan pusatnya di Buitenzorg (Bogor). Selain itu juga dengan cara yang sama dilakukan di Karesidenan Palembang Sumatra.


Tahun 1905. Stasiun pengamatan cuaca pertanian/perkebunan. Tahun 1905 terjadi pergantian jabatan. Direktur KMMO yang semula dijabat oleh Dr. Figee diganti oleh Dr. Van Breda De Haan karena Dr. Figee kembali ke negeri Belanda. Dr. Van breda De Haan sebelumnya adalah Inspektur Pertanian Pribumi ( Inspector of Native Agriculture) di Bogor. Selain melanjutkan kegiatan yang telah dilakukan oleh Dr. Figee, kegiatan pengamatan terus berlangsung dan berkembang. Dalam rangka studi cuaca untuk pertanian/perkebunan, dilakukan pengamatan cuaca di Medan dan Salatiga; tetapi di Salatiga tidak berlangsung lama. Selajutnya di Tosari, Sukabumi, Cianjur, Padalarang, Cimahi, Garut, Tomohon. Bangunan tempat pengamatan sangat sederhana tetapi sudah dilandasi dengan pemikiran-pemikiran yang cukup baik. Alat-alat ditempatkan di bawah atap bangunan (gubug) yang terbuka. Selain itu dilakukan pula pengamatan di berbagai tempat yang berbeda lingkungannya, di Pasoeroean, Tomohon, dan di kaki gunung bersalju di New Guinea (Papua).
clip_image008
Gb.4. Stasiun pengamatan klimatologi
pertama di Tosari


Tahun 1908. Seismograf komponen horizontal. Untuk melengkapi pengamatan gempa, pada tahun 1908 di Jakarta dipasang seismograf komponen horizontal (Wiechert – 1000 kg). Pimpinan Observatori pada waktu itu adalah Dr. Braak.

Tahun 1911. Kelompok Stasiun Pengamatan. Tahun demi tahun pengamatan dan kumpulan data yang dipublikasikan makin banyak. Akhirnya pada awal tahun 1908 timbul pertanyaan bagaimana homogenitas data dan cara menggabungkan berbagai data yang berasal dari berbagai tempat dan waktu pengamatan serta macam pengamatan yang berbeda-beda untuk dapat memperoleh kejelasan iklim secara umum. Segera setelah kembali ke Jawa dari menjalankan cuti ke Eropa selama kira-kira satu setengah tahun dalam tahun 1908 – 1910, Dr. Van Breda De Haan mengusulkan penambahan staf untuk membantu mengerjakan pekerjaaan – pekerjaan yang diperlukan. Meskipun tidak semua usulan disetujui oleh Pemerintah di Holland, namun dukungan Pemerintah di India Belanda ( Netherlands Indie) cukup membantu sehingga mulai tahun 1911 pekerjaaan dapat dilaksanakan. Untuk dapat memperoleh data yang homogen dan dapat digunakan untuk mengambil kesimpulan iklim secara umum, dikoordinasi pendirian stasiun pengamatan di tempat-tempat yang dipandang bebas dari pengaruh kondisi lokal. Pemilihan lokas juga didasarkan pendapat bahwa iklim di Netherlands Indie tidak banyak dipengaruhi ol;eh faktor geografi; oleh karena itu jumlah stasiun pengamatan tidak perlu terlalu banyak dan dipilih lokasi dekat lautan yang bebas dari pengaruh lokal. Untuk pertama kali kelompok stasiun tersebut adalah : Medan, Padang, Tanjongpandan, Manggar (Billiton), Batavia, Pasoeroean, Balikpapan, Tarakan, Menado, Ambon, Manokwari, Koepang. Stasiun di Billiton dibangun oleh Billiton Co; di Balikpapan oleh Batavia Petroleum Co; di Medan oleh Perkebunan Tembakau; dan di Pasoeroean oleh Stasiun Penelitian Gula. Selain itu juga dimasukkan kelompok dari berbagai stasiun yang melakukan pengamatan tekanan udara dengan barometer, yakni : Kotaradja, Rondeng (NW Sumatra), Merauke, dan berbagai stasiun yang melakukan pengamatan angin, yakni : Moety Miarang (laut Timor), de Brill (laut Flores), dan Discovery Eastbank (laut Jawa). Data hasil pengamatan di stasiun-stasiun terakhir tersebut dipandang cukup memadai untuk digunakan mempelajari monsun.
Monsun dan hujan dipandang penting untuk dipelajari di kawasan kepulauan ini (Indonesia). Disamping itu iklim pegunungan juga perlu dikenali karena mempunyai nilai ekonomi penting khususnya untuk perkebunan. Dengan dasar pandangan tersebut dibangunlah stasiun pengamatan di daerah pegunungan di gunung Idjen bekerja sama dengan Mr. T. Ottolander dari Besoeki Planters Association. Gunung Idjen terletak di ujung timur Jawa Timur yang waktu itu mempunyai kawah yang garis tengahnya sekitar 15 km dan tingginya sekitar 1800 meter diatas permukaan laut. Disamping penting untuk mempelajari iklim gunung, pengamatan di gunung Idjen tersebut juga penting untuk mempelajari angin pasat. Dari pandangan bahwa angin pasat tenggara yang berasal dari lautan India bagian timur bertiup menuju pantai dan kemudian naik melewati sepanjang lereng gunung Idjen sebelah selatan, serta kebalikannyanya angin monsun barat melewati pulau Jawa sebelum naik lereng bagian barat gunung Idjen, maka tempat-tempat yang dipilih adalah : Rogodjampi (di dekat pantai selatan); Tamansarie (di lereng selatan pada ketinggian 500 meter dan satu stasiun hujan di ketinggian 1800 meter dekat kawah, satu stasiun di lereng gunung Merapai pada ketinggian 2100 meter); Kalisat (pada ketinggian 1100 meter di lereng utara); Kajoemanis (pada ketinggian 1000 meter juga di lereng utara); Asembagoes (di dekat pantai sebelah utara gunung); Tosari (pada ketinggian 1700 meter di lereng utara gunung Tenggger).
Dari pandangan bahwa iklim di Jawa Timur berbeda dengan di Jawa barat, maka di Jawa Barat juga perlu didirikan stasiun pengamatan di tempat-tempat khusus. Gunung Gedeh – Pangerango yang tingginya 3000 meter dipilih sebagai tempat yang memadai. Selain puncaknya paling tinggi diantara gunung-gunung lain di sekitarnya, lereng gunung tersebut terbuka ke arah utara dan ke arah barat sehingga diperkirakan cukup baik untuk mengenali angin monsun barat. Untuk itu maka dibangun stasiun pengamatan di Tjibodas pada ketinggian 1400 meter. Stasiun tersebut selanjutnya dikelola oleh Departemen Pertanian. Selain itu juga dipasang alat rekam otomatik di tempat pada ketinggian 3025 meter yang tidak perlu dijaga orang melainkan hanya seminggu sekali ada petugas dari Tjibodas yang mengambil dan mengganti pias rekamnya. Selanjutnya disamping stasiun Tjibodas diperbesar dan ditambah alat-alatnya juga dibangun tempat pengamatan baru di Patjet pada ketinggian 1100 meter dan di Gunung Rosa yang terletak di lereng selatan bekerjasama dengan Mr. Addens dari perkebunan, di dataran tinggi Bandung pada ketinggian 700 meter.
. clip_image010clip_image012clip_image014














clip_image016clip_image017












Gb.5. Tempat pemasangan alat pengamatan di (I) Tjipetir,
(II) Discovery Oostbank, (III) Asembagoes, (IV) Tosari,
(V) Pangerango.


Kiranya perlu pula diketahui bahwa pemasangan alat-alat pengamatan tidak seragam, tetapi untuk alat-alat yang peka terhadap angin dan sinaran matahari diletakkan di dalam sangkar yang tingginya 2 meter seperti yang terlihat contohnya pada gambar di atas.

Alat-alat yang digunakan dari berbagai jenis, antara lain : termometer air raksa , termometer maksimum dan termometer minimum merk Olland; termohigrograf dengan pias harian dan mingguan merk Richard; sukat hujan biasa dan sukat hujan rekam merk Hillman – Fuess; pluviograf merk Negretti & Zanbra; alat rekam lamanya penyinaran matahari merk Jordan; barometer air raksa merk Olland & Adie; barograf merk Richard; anemometer merk Robinson; dan evaportimeter merk Wild. Selain itu tidak semua alat dipasang di setiap stasiun. Tetapi hampir di semua stasiun dipasang termometer, sukat hujan, dan alat rekam lamanya penyinaran matahari. Meskipun tidak ada penjelasan pemilihan tempatnya, namun kelihatannya barometer dipasang di stasiun-stasiun pengamatan yang terletak di pinggir mengelilingi kawasan Netherlands Indie, seperti di Kotaradja, Medan, Pontianak, Tarakan, Menado, Ambon, Merauke, Koepang, Pasoeroean, Tosari, Pekalongan, Padang,
Sampai tahun 1911 stasiun yang melakukan pengamatan dan laporannya teratur seperti yang dilaporkan Braak sebanyak 73 stasiun dari 48 di Jawa dan 25 di luat Jawa. Selengkapnya daftar stasiun pengamatan sampai tahun 1911 tersebut tercantum dalam lampiran ....

Th. 1911. Pengamatan udara atas. Pada tahun 1911 dimulai pengamatan udara atas di Batavia (Jakarta) dengan balon teodolit.
clip_image019
Gb. 6. Pengamatan angin dengan
Balon-teodolit (foto th. ….. )
(koleksi Chaidir T)





Tahun 1912. Reorganisasi. Sejak 1 Januari 1866 di Batavia dilakukan pengamatan cuaca setiap jam, sedangkan di luar Batavia baru setiap 3 jam. Reorganisasi pengamatan meteorologi di luar Jakarta dengan menambah jejaring stasiun sekunder yang permanen.

Tahun 1926. Seismograf komponen vertikal. Untuk melengkapi alat seismograf yang pada tahun 1909 hanya komponen horizontal, pada tahun 1926 di Jakarta ditambah dengan seismograf komponen vertikal.(Wiechert – 1300 kg)

Tahun 1928. Pulau Kuyper, seismograf di Medan. Pada tahun 1928 alat magnet yang ada di Bogor dipindahkan ke pulau Kuyper salah satu pulau dari kepulauan Seribu di teluk Jakarta, karena di Bogor terganggu lagi dengan operasi trem listrik. (Alasan lain kemungkinan juga ada hubungannya dengan Mr. D.G. Coleman, observer magnet dari Departement of Terrestrial Magnetism Carnegie Institute Washington yang ketika berkunjung ke Batavia tahun 1923 (Oktober) menyarankan untuk alat magnet di bandingkan dengan alatnya di Washington). Selain yang telah dipasang di Jakarta, pada tahun 1928 dipasang pula seismograf (Wiecheert – 1000 kg) di Medan.
Tahun 1930. Cuaca penerbangan. Tahun 1919 perusahaan penerbangan KLM membuka pelayanan udara jarak jauh dari Amsterdam ke Batavia.
clip_image021
clip_image023
clip_image024
KLM Boeing 737
KLM (lengkapnya: Koninklijke Luchtvaart Maatschappij, secara harafiah berarti Perusahaan Dirgantara Kerajaan) adalah sebuah maskapai penerbangan dari Belanda. KLM adalah maskapai utama Belanda dan beroperasi dari Bandara Schiphol, dekat Amsterdam.KLM mempunyai beberapa anak perusahaan: KLM Cityhopper, KLM Cargo dan KLM exel serta KLM Asia. KLM mempunyai saham sebesar 80% di Transavia Airlines, 50% di Martinair dan 26% di Kenya Airways. KLM uk adalah sebuah anak perusahaan lainnya namun akhirnya ia bergabung dengan KLM Cityhopper. KLM dicatat di bursa-bursa saham Amsterdam, New York dan Paris. Pada Mei 2004, KLM diambil alih Air France melahirkan Air France-KLM. Kedua maskapai penerbangan akan terbang dengan identitas masing-masing untuk 5 tahun ke depan. Perusahaan ini berada dalam hukum Perancis dengan pusat di Bandara Internasional Charles de Gaulle, Paris. Tahun 1928. Dibentuk Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM) ialah maskapai penerbangan Hindia Belanda. Perusahaan ini dibentuk pada 16 Juli 1928 sebagai perusahaan independen dan menawarkan layanan terjadwal di seluruh Hindia Belanda, dan ke bagian lain Asia Tenggara juga seperti ke Sydney (lewat Darwin, Cloncurry dan Charleville). Sebelum beroperasinya KNILM, usaha perintisan penerbangan untuk sipil dilakukan oleh para penerbang militer Hindia Belanda dengan penerbangan ujicoba dengan mengangkut penumpang atau barang. Waktu itu penumpang penerbangan Batavia-Soerabaja (Surabaya) pulang pergi dengan pesawat militer dikenakan biaya sebesar 230 gulden (F 230) dimana salah seorang penumpangnya adalah HGJ Termarsch, inspektur dari Stoomvaart Maatschapij Nederland yang terbang Batavia-Soerabaja pada tanggal 18 September dan kembali pada tanggal 21 September 1927. Untuk keperluan operasional KNILM, maka dikirimkan 4 pesawat terbang jenis Fokker, Fokker VII dengan tiga mesin Siddley-Link bertenaga masing-masing 230 tenaga kuda, yang mampu mencapai kecepatan jelajah sekitar 167 km/jam. Keempat pesawat tersebut beregistrasi HN-AFA, HN-AFB, HN-AFC dan HN-AFD. Selanjutnya, tanda registrasi penerbangan sipil Hindia Belanda menggunakan tanda PK yang dilanjutkan hingga kini oleh pemerintah Indonesia sejak kemerdekaannya. Pesawat ini diawaki dua orang penerbang dengan kapasitas maksimum 80 kg. Tangki bahan bakar 500 kg dan minyak pelumas 40 kg, kapasitas angkut 8 orang dengan bagasi 300 kg. Berat kosong adalah 2.900 kg dan berat keseluruhannya adalah 4.500 kg. Pelepasan keberangkatan empat pesawat Fokker VII tersebut disaksikan ribuan masyarakat Amsterdam pada tanggal 13 September 1928 dari Bandara Schipol menuju Batavia (Jakarta). Pesawat pertama HN-AFA diawaki pilot GA. Koppen dibantu pilot J. Moll dan ko-pilot Van Heselen, sedangkan HN-AFD oleh pilot J Schott dan ko-pilot Waltman. Jalur penerbangan yang ditempuh melalui Amsterdam-Neurenberg-Budapest-Sofia-Istanbul (Konstantinopel) - Alepo - Baghdad-Bushire-Bandar Abbas-Karachi-Nazirabad-Allahabad-Calcuta (Kolkata)-Rangoon (Yangoon)-Bangkok-Sengora-Medan-Palembang-Batavia. Pesawat HN-AFA dan HN-AFB tanpa banyak kesulitan mendarat di bandara Tjililitan (Sekarang Bandara Halim Perdanakusuma). Sementara pesawat HN-AFC akibat jeleknya landasan pacu di Cavonpore mengalami kerusakan, dan setelah diperbaiki secukupnya melanjutkan penerbangan sampai ke Calcutta. Dari Calcutta, pesawat ini diangkut menggunakan kapal laut menuju Batavia. Tidak ada keterangan mengenai penerbangan pesawat HN-AFD. Peresmian operasi penerbangan KNILM dilaksanakan pada tanggal 1 November 1928 dilaksanakan dengan upacara khusus yang disaksikan oleh penduduk Batavia di Bandara Tjililitan. Peresmian dilakukan oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda JHR AMR MR ACD De Graef dengan menyingkirkan ganjalan roda sebelah kiri pesawat udara PK-AFB yang merupakan prasasti bertuliskan " OP 1 November 1928 opende Zijne Excellente Gouverneur-General JFR. MR ACD De Graef de eerste Luchtdiensten der KNILM in Nederlandsch-Indie". Usai upacara, pesawat-pesawat tersebut langsung mengudara untuk melakukan penerbangan komersial pertama Batavia-Bandoeng (Bandung) dan Batavia-Soerabaja pulang-pergi
(Waktu itu lapangan terbang di Medan adalah Polonia; di Palembang adalah Talangbetutu; di Batavia adalah Tjililitan; di Bandoeng adalah Andir; di Surabaya adalah Morokrembangan).
Pelayanan cuaca untuk penerbangan waktu itu masih dilakukan oleh petugas dari KLM. Pelayanan cuaca penerbangan oleh Obsevatorium baru dilakukan pada tahun 1930 di Tjililitan. Setelah dibangun lapangan terbang di Kemayoran pengamatan cuaca penerbangan (angin, banglas) yang pertama kali dilakukan di Jakarta (Kemayoran). Kemudian stasiun meteorologi diberi nomor kode 96743.

Selain itu prakiraan musim yang dipelopori oleh Braack tahun 1909 makin banyak diperhatikan, dan makin banyak yang melakukan penelitian. Dalam tahun 1930 Tollenaar menurunkan metode untuk meramal akhir musim timur dengan kriteria permulaan musim hujan terlambat, normal, atau lebih awal.
Tahun 1940. Pengamatan udara atas di Tarakan. Dengan bertambahnya kegiatan penerbangan kebutuhan akan data angin makin bertambah. Pada tahun 1940 pengamatan udara atas pilot balon, selain dilakukan di Kemayoran ditambah di Tarakan.

Tahun 1948. Radiosonde. Dengan makin banyaknya penerbangan yang menggunakan pesawat yang terbang tinggi maka informasi mengenai udara atas makin diperlukan.

clip_image026











Gb. 7. Pengamatan radiosonde

Oleh karena itu dibangun stasiun pengamatan udara atas dengan radiosonde. Tahun 1948 adalah awal dilakukan pengamatan udara atas di Jakarta dan di Surabaya (Perak) dengan menggunakan radiosonde. Dengan data angin yang diperoleh, penelitian tentang monsun makin berkembang
Tahun 1950. Dioperasikan kembali. Sejak tahun 1942 magnetograf di pulau Kuyper yang dipasang pada tahun 1928 tidak dioperasikan. Setelah sekian lama tidak dioperasikan mulai tahun 1950 pengamatan magnet di pulau Kuyper diaktifkan kembali.

Masuk anggota OMD. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1994 Tentang pengesahan United Nations Framework Convention On Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim, Penjelasan Umum huruf A butir k, disebutkan bahwa Indonesia merupakan anggota Organisasi Meteorologi Dunia telah melakukan aksesi Convention of the World Meteorological Organization pada tanggal 16 Nopember 1950. (Indonesia masuk anggota PBB pertama kali pada tanggal 28 September 1950).

Tahun 1951. Tahun pertama. Tahun 1951 adalah tahun pertama setelah Indonesia menjadi anggota Organisasi Meteorologi Dunia (OMD).

Tahun 1954. Dasar-dasar Ilmu Tuatja. Pada tahun 1954, atas permintaan Kepala Lembaga Meteorologi dan Geofisik Prof. Ir. Goenarso, DR. Dengel seorang Jerman yang mendapat tugas dari Organisasi Meteorologi Dunia membantu mengajar meteorologi di Indonesia menerbitkan buku meteorologi yang diberi judul : Dasar-Dasar Ilmu Tjuatja”. Dalam kata pengantarnya dituliskan bahwa aslinya ditulis dalam bahasa Jerman yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh : Tuan Ardjo, Direktur Sekolah Menengah Atas di Djakarta. Buku tersebut adalah buku meteorologi pertama dalam bahasa Indonensia, dan digunakan sebagai bahan pelajaran pada Akedemi Meteorologi dan Geofisik tahun 1956 dan 1957. Buku meteorologi sebelumnya dalam bahasa Belanda ditulis oleh S.W. Visser tahun 1951 yang diberi judul “ Beknopte Inleiding tot de Meteorologie, Klimatologie Oceanografie” Groningen – Djakarta.
Dalam buku Dasar-Dasar Ilmu Tjuatja tersebut DR. Dengel menuliskan daftar nama-nama stasiun meteorologi yang telah mendapat nomor dalam jejaring stasiun meteorologi internasional (lihat tabel) sebanyak 66 stasiun. Nomor-nomor stasiun tersebut perlu dikenali karena untuk memperoleh analisis cuaca yang benar para analis cuaca harus dapat mengetahui kebenaran data yang dirajah pada peta, baik dari lambang-lambang cuacanya maupun dari letaknya. Selain itu juga memuat berbagai foto awan yang pernah dibuat di Indonesia dan berbagai kegiatan di Lembaga Meteorologi dan Geofisik. Disebutkan bahwa berdasarkan ketentuan internasional stasiun cuaca dikategorikan dalam 4 tingkat, yakni tingkat ke I, ke II, ke III, dan ke IV.
Stasiun tingkat ke I adalah stasiun utama, yang dilengkapi dengan aalat meteorologi lengkap dan alat-alat yang dapat mencatat sendiri. Di Stasiun tingkat ke I dilakukan pengamatan cuaca setiap jam setiap hari.
Stasiun tingkat ke II atau stasiun pelengkap, dilengkapi dengan alat-alat meteorologi lengkap, dan sekurang-kurangnya melakukan pengamatan semua unnsur meteorologi 3 kali setiap hari..
Stasiun tingkat III dilengkapi dengan alat-alat meteorologi kecuali alat ukur tekanan dan kelembapan dan tidak dilengkapi dengan alat yang dapat mencatat sendiri, dan melakukan pengamatan sekurang-kurangnya 3 kali setiap harinya.
Stasiun tingkat IV umumnya hanya dilengkapi dengan alat ukur endapan atau hujan. Selain mengukur hujan juga mengamati peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan hujan, misalnya kabut, hujan es, guntur, dan lain-lain.
Waktu itu juga dikenal jejaring pengamatan, yakni jejaring pengamatan sinoptis, jejaring klimatologis, dan jejaring aerologis. Jejaring sinoptis selain meliputi stasiun-stasiun dalam negeri juga stasiun-stasiun di luar negeri, stasiun-stasiun di pantai, stasiun cuaca kapal, di laut dan lain-lain. Jejaring klimatologis meliputi stasiun-stasiun yang mencatat semua unsur cuaca dan stassiun yang hanya mencatat hujan dan cuaca buruk. Jejaring aerologis meliputi stasiun-stasiun yang melakukan pengamatan cuaca dengan radio dan pengamatan udara atas.
Stasiun meteorologi ada yang bertugas melakukan pengumpulan dan penyiaran hasil pengamatan. Di Indonesia ada dua stasiun yang mempunyai tugas tersebut yakni Stasiun Meteorologi Kemajoran dan Stasiun Meteorologi Makassar

Daftar nama dan nomor stasiun meteorologi jejaring internasional.
NomorNamaNomorNama
96001
96003
96009
96011
96035
96039
96043
96055
96065
96073
96087
96091
96109
96145
96163
96179
96195
96205
96221
96237
96249
96253
96295
96509
96533
Sabang
Kutasradja / Lhonga
Lhoseumawe
Kutaradja/Blangbintang
Medan/Polonia
Tebingtinggi
Kisaran
Pematangsiantar
Tarutung
Sibolga /Pinangsore
Pulau Sambu
Tandjungpandan
Pakanbaru
Tarempa
Padang/Tabing
Dabosingkep
Djambi/Paalmerah
Belinju
Palembang/Talangbetutu
Pangkalpinang
Tandjungpandan/Buluhtumbang
Bengkulu
Telokbetung/Beranti
Tarakan/Djuwata
Singkawang II
96559
96583
96595
96633
96651
96685
96695
96737
96743
96745
96747
96755
96773
96781
96791
96797
96801
96805
96839
96845
96853
96881
96933
96947
96973
96987
Sintang
Pontianak
Muaratewe
Balikpapan/Sepinggan
Sampit
Banjarmasin/Ulin
Kotabaru
Serang
Djakarta/Kemajoran
Djakarta/Obsevatori
Djakarta/Halim
Bogor/Seplak
Kalidjati
Bandung/Husein
Djatiwangi
Tegal
Tasikmalaja
Tjilatjap
Semarang/Kalibanteng
Surakarta/Panasan
Djokja/ Adisutjipto
Madiun/Maospati
Surabaya/Perak
Malang/Abdurachman Saleh
Kalianget (Madura)
Banjuwangi
Daftar nama dan nomor stasiun meteorologi jejaring internasional (lanjutan).
NomorNamaNomorNama
97008
97010
97014
97024
97028
97048
97072
97086
97096
97100
97146
97180
97192
97198
97220
97230
97240
97260
97270
97290
Tahuna
Ulu Siau
Menado/Mapanget
Kakas/Tasuka
Toli-Toli
Gorontalo
Palu
Luwuk
Poso
Kolonedale
Kendari
Makassar/Mandai
Bau-Bau
Salayar
Singaradja
Denpasar/Tuban
Ampenan
Sumbawabesar
Bima
Endeh
97320
97330
97340
97372
97378
97404
97408
97430
97438
97460
97600
97700
97710
97724
97728
97748
97790
97810
97890
97900
Kalabahi
Wonreli
Waingapu
Kupang/Penfui
Baa
Morotai/Pitu
Tobelo
Ternate
Weda
Labuha
Sanana
Namlea
Piru
Ambon/Laha
Saparua
Geser
Neira
Tual
Tepa
Saumlaki


Tahun 1955. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli meteorologi dan ahli geofisika sebagai pengganti ahli meteorologi dan ahli geofisika Belanda yang meninggalkan Indonesia, pada tahun 1955 diselenggarakan awal pendidikan Akademi Meteorologi dan Geofisik di Bandung.

Tahun 1957. Stasiun magnet di Tangerang. Pada tahun 1957 alat magnetograf tipe Ruska dipasang di Tangerang.

Tahun 1962. Stasiun Meteorologi Pertanian. Untuk keperluan studi cuaca pertanian, selain dilanjutkan pengamatan cuaca permukaan, pada tahun 1962 pengamatan suhu tanah, lengas tanah, sinaran matahari, mulai dilakukan di Bogor, Manado, Banjarbaru, Medan.
Tetapi sayang sekali pengamatan magnet di pulau Kuyper terpakksa dihentikan pada tahun 1962 karena kesulitan transportasi; alat-alatnya dipindahkan ke Tangerang.
Stasiun Meteorologi Maritim. Kegiatan kelautan mulai mendapat perhatian. Pada tahun 1962 dibangun stasiun Meteorologi Maritim di Tanjung Priok. Sebenarnya mengenai cuaca kelautan sudah lama dikenal. Seperti yng ditulis oleh W Van Bemmelen (1913) dalam buku Observations Made At Secondary Stations. Vol. I. Royal Magnetic and Meteorological Observation. Batavia, .pengamatn cuaca di laut Indonesia sudah pernah dilakukan lama sebelumnya tetapi tidak dihasilkan dari pengamatan yang secara terus-menerus, seperti misalnya data pengamatan suhu dan tekanan atmosfer di Jakarta yang dilakukan oleh nachoda kapal yang sedang berlabuh di Jakarta tahun 1758 (Januari), perhitungan hari hujan di Jakarta tahun 1778, pengamatan badai di Laut Banda, pengamatan cuaca laut , oleh vessels Gouverments Marine Jakarta (2 April 1778.) Seperti yang ditulis oleh Dr. H.P. Berlage Jr. thn. 1927 dalam Verhandelingen no.19 tentang: Monsoon Currents in the Java Sea and its Entrances menuliskan bahwa pada trahun 917-1918 pernah dilakukan pengamatan di Selat Bangka ( di laut dan di sepanjang pantai Sumatera bagianTimur ), Selat Gaspar, pantai utara Jawa, pantai selatan Kalimantan, dan Selat Makasar. Dari hasil penelitiannya Dr. H.P. Berlage Jr. mengemukakan bahwa pada saat musim angintimur pasang surut laut lemah, sedangkan pada musim angin barat daya aliran pasang surut menguat. Penyebab utama naik turunnya kecepatan arus laut sangat dipangaruhi oleh angin musiman,pengaruh pengaruh surut cukup kecil.


Pada tahun 1963, Meteorologi Irian Barat. Tepatnya tanggal 1 Mei 1963 terjadi peristiwa penyerahan Irian Barat dari UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority) kepada Pemerintah Indonesia. Mulai saat itu Irian Barat resmi menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, termasuk Instansi meteorologi. Setelah penyerahan, Instansi Meteorologi di Irian Barat bernama Urusan Meteorologi dan Geofisik Kotabaru Irian Barat yang ada di dalam Dinas Perhubungan dan Pengangkutan. Pada waktu itu di Irian Barat terdapat 11 Stasiun Meteorologi Sinoptik, yakni Mokmer (Biak), Manokwari, Jefman (sorong) ada dua stasiun di pulau dan di daratan besar, Kokonao, Fak-Fak, Nabire, Sentani, Wamena, Mopah (Merauke), Tanahmerah, Mapia. Mapia adalah satu-satunya stasiun meteorologi yang letaknya di pulau kecil (pulau Mapia) dekat khatulistiwa sebelah utara Biak. Stasiun tersebut tidak tetap. Petugasnya dikirim dari Biak setiap tiga bulan sekali diadakan pergantian. Tetapi pada tahun 1964 tidak lagi beroperasi karena tidak ada lagi kapal dari Biak ke Mapia. Selain stasiun meteorologi juga ada stasiun pengamatan klimatologi, yakni di Nabire, Genyem, Mindiptanah, Sarmi, Wagete, dan stasiun pengamatan hujan sebanyak sekitar 80 lokasi. Stasiun meteorologi Biak terletak di lapangan terbang Mokmer, dilengkapi dengan radar cuaca dan radar angin. Tetapi radar hanya dapat berfungsi sampai tahun 1964 karena alatnya sudah tua dan tidak ada suku cadang untuk mengganti bagian-bagian yang rusak.













clip_image028


















Gb.8. Radar Angin di Mokmer Biak
(foto Soerjadi Wh 1963)

Tahun 1968. Daerah Prakiraan Musim. Seperti yang tercatat dalam kumpulan tulisan Menyambut Hari Meteorologi Dunia tahun 1968, Drs. Suhardi dalam tulisannya dengan judul “Ramalan Permulaan Musim Hujan dan Kemarau di Surakarta” mulai menggunakan istilah “Daerah Prakiraan Musim”. Definisi tersebut dibuat berkaitan dengan kriteria awal musim yang menggunakan banyaknya curah hujan per dasarian (dahulu digunakan decade) 50 mm tidak berlaku umum untuk semua daerah. Di Indonesia banyak daerah yang curah hujan bulanannya lebih dari 200 mm dan tiap dasarian lebih dari 50 mm. Daerah dengan curah hujan seperti yang disebutkan diklasifikasikan sebagai daerah tidak bermusim dan tidak tercakup dalam rumus prakiraan yang digunakan. Selanjutnya daerah yang memungkinkan digunakannya rumus prakiraan disebut “daerah prakiraan musim”.
Karena kondisi stasiun meteorologi dan sistem telekomunikasi saat itu tidak mendukung, dan sulit memperoleh data dari luar yang digunakan sebagai prediktor prakiraan musim, akhirnya rumus-rumus korelasi dengan menggunakan prediktor dari luar Indonesia tidak lagi digunakan. Sebagai penggantinya untuk membuat prakiraan musim digunakan metode persisten, dengan masih menggunakan kriteria musim de Boer.

Tahun 1969 . Rehabilitasi stasiun. Sejak tahun 1960 keadaan stasiun meteorologi makin menurun. Sistem telekomunikasi juga mulai sulit. Anggaran pemeliharaan makin berkurang sehingga alat dan bangunan banyak yang rusak. Dengan adanya Program Pembangunan Nasional mulai tahun 1969 ( awal Pembangunan Lima Tahun Pertama = PELITA I) rehabilitasi stasiun dapat dilakukan meskipun tidak secara sekaligus.
Data Hujan Standar Normal. Mekipun dana anggaran belanja kecil, penerbitan data masih diprioritaskan. Pada tahun 1969 (Juni) dapat diterbitkan Buku Meteorological Note No. 8 Part I yang memuat tabel rata-rata curah hujan dari stasiun hujan di Jawa dan Madura tahun 1931 – 1960. Dalam Meteorological Note No. 8 Part I tersebut dilaporkan hasil pengolahan data hujan rata-rata tahun 1931 sd. 1960 sebagai data rata-rata standar normal. Data yang diolah berasal dari sebanyak 3021 stasiun hujan di Jawa dan Madura yang sekurang-kurangnya melaporkan data hasil pengamatan selama 6 tahun. Pembagian wilayahnya masih menggunakan wilayah propinsi tahun 1917.
Tabel memuat data rata-rata curah hujan bulanan, rata-rata hari hujan, maksimum rata-rata harian, maksimum mutlak curah hujan sehari serta tanggal kejadiannya. Dalam tabel tersebut tercatat nilai tertinggi adalah data dari Stasiun Baturaden, nomor stasiun 25a, tingginya 650 meter diatas permukaan laut, daerah Banyumas Jawa Tengah, dengan:
* rata-rata hujan setahun sebanyak 8837 mm;
* rata-rata terbesar hujan sehari 303 mm bulan Desember;
* maksimum mutlak hujan sehari 650 mm terjadi dalam bulan Oktober 1960.
Penerbitan data hujan rata-rata serupa pernah dibuat dan diterbitkan dalam Verhandelingen nomor 14, 24, dan 37.Untuk data hujan dari stasiun hujan di luar Jawa dan Madura masih direncanakan akan diterbitkan kemudian dalam Meteorological Note No.8 Part II. Tetapi karena kekurangan dana, pembuatan petanya waktu itu belum dapat dilaksanakan.
Tahun 1969. Lembaga Meteorologi dan Geofisika. Pada tahun 1969 terjadi pergantian pimpinan. Kepala Direktorat Meteorologi dan Geofisika dijabat oleh W.E. Sijatauw yang sebelumnya sebagai Kepala Bagian Meteorologi. Pada akhir tahun 1969 yang sebelumnya bernama Dierktorat Meteorologi dan Geofisik diubah menjadi Lembaga Meteorologi dan Geofisika. Namun demikian masih ada dibawah Direktorat Jendral Perhubungan Udara sampai tahun 1972. Kepala Lembaga dijabat oleh W.E. Sijatauw.
Tahun 1975. Peta Hujan Standar Normal 1931-1960. Sebagai kelanjutan dari penerbitan buku data hujan standar normal pada tahun 1975 diterbitkan Peta Hujan Standar Normal 1931 – 1960.
clip_image030
Gb.9. Seismograf Kinematriks

Seismograf Kinematriks. Selama era pembangunan Pelita I sampai Pelita II pembangunan umumnya masih bersifat rehabilitasi. Penambahan yang kelihatan adalah pada pengamatan gempa dengan dibangunnya stasiun gempa baru dengan menggunakan alat seismpgraf periode pendek Kinematirks, meskipun cara pengumpulan datanya masih lambat sehingga apabila terjadi gempa di suatu tempat penentuan pusat gempanya masih memerlukan waktu karena menunggu data dari beberapa stasiun yang diperlukan. Pada akhir tahun 1980 jumlah stasiun gempa yang beroperasi sebanyak 28 lokasi.





Tahun 1984. Radar Cuaca dan Stasiun Bumi Satelit Cuaca. Dengan mengacu kepada buku Rencana Induk yang telah disyahkan tersebut pembangunan makin terarah. Tahun 1984 dipasang radar cuaca dan dicatat sebagai awal dilakukannya pengamatan radar cuaca di Jakarta, Medan, Palembang, Semarang, Denpasar, Kupang, Ujungpandang, Ambon. Namun demikian informasi cuaca radar masih dikhususkan untuk pelayanan penerbangan. Di Biak sebenarnya juga sudah pernah ada radar cuaca peninggalan dari Belanda sebelum tahun 1963; tetapi karena kondisinya sudah tua dan sulit diperoleh suku cadangnya, sejak tahun 1964 radar tersebut tidak beroperasi lagi. Pada tahun 1984 itu pula di Jakarta dilakukan pemasangan ground satellite untuk pengamatan cuaca. Dengan adanya data cuaca dari satelit pengetahuan dan pelayanan informasi cuaca dapat ditingkatkan.
Tahun 1988. Stasiun gempa telemetri. Mulai tahun 1988 disamping 28 stasiun seismograf kinematriks yang sudah ada dibangun jejaring stasiun gempa telemetri. Jejaring tersebut terdiri atas 27 stasiun yang dilengkapi dengan seismograf telemetri yang mampu mendeteksi gempa dengan kekuatan sampai 2 Skala Richter. Jejaring tersebut dibagi menjadi 5 jejaring regional yang masing-masing terdiri dari paling sedikit 3 stasiun sesmograf telemetri, dan mempunyai pusat regional yang disebut Pusat Gempa Regional (PGR). Lima PGR tersebut berlokasi di Balai Meteorologi dan Geofisika di Medan, Ciputat, Denpasar, Makassar, dan Jayapura.

Tahun 1990. Komputer DPS-7000. Pada tahun 1990 komputer DPS-7000 buatan Bull Perancis. dipasang di Pusat Pengolahan Data Kantor Pusat Jakarta . Komputer tersebut dilengkapi dengan dua buah data net serta sebuah jejaring lokal ethernet yang memungkinkan untuk berkomunikasi antar mainframe DPS-7000 dengan mini komputer SPS-7 yang ada di Kantor Pusat.
Jejaring lokal tersebut mempunyai kemampuan transfer sampai 10 megabyte per detik. Sedangkan komputer DPS-7000 mampu menerima instruksi sampai 4 juta instruksi tiap detik, dilengkapi dengan 16 megabyte RAM (Random Access Memory), serta perangkat lunak (software) untuk keperluan perhitungan-perhitungan parameter meteorologi, geofisika, dan parameter klimatologi .
Dengan komputer tersebut dapat dihasilkan beberapa produk, antara lain :
- olahan data grid ,
- peta rajahan data sinop.
- peta mawar angin (windrose),
- peta hujan,
- peta lokasi pusat gempa
clip_image032
clip_image034
Gb.10. Komputer DPS 7000.

Tahun 1991. Jejaring seismograf telemetri beroperasi. Pada tahun 1991 jejaring seimograf telemetri yang dibangun sejak tahun 1988 mulai beroperasi. Tetapi yang sudah lengkap peralatannya baru tiga yakni PGR Medan, PGR Ciputat, dan PGR Makassar; sedangkan PGR Denpasar dan PGR Jayapura baru lengkap pada tahun 1992 setelah jumlah stasiunnya memenuhi persyaratan. Data gempa yang direkam seismograf telemetri langsung dipancarkan ke Pusat Gempa Regional (PGR) masing-masing, dan selanjutnya dari Pusat Gempa Regional melalui satelit diteruskan ke Pusat Gempa Nasional (PGN) di Jakarta. Baik Pusat Gempa Regional maupun di Pusat Gempa Nasional dilengkapi dengan sistem alarm yang dapat memberikan signal apabila terjadi gempa dengan kekuatan 4 Skala Richter. Dengan sistem telemetri tersebut analisis gempa yang akurat sudah dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 30 menit. Bagan alur informasinya disusun sebagai berikut:

Tahun 1995. Global Atmosphere Watch (GAW) di Kototabang. Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Framework On Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim) disebutkan bahwa perubahan iklim bumi yang diakibatkan oleh peningkatan kadar gas rumah kaca di atmosfer dipandang akan memberi pengaruh merugikan pada lingkungan hidup dan kehidupan manusia. Dalam hal tersebut Indonesia dipandang mempunyai peranan strategis dalam struktur iklim geografi dunia karena asebagai Negara tropis khatulistiwa yang mempunyai hutan tropis basah terbesar kedua di dunia dan Negara kepulauan yang memiliki laut terluas di dunia mempunyai fungsi sebagai penyerap gas. Oleh karena itu Indonesia perlu ikut aktif mengambil bagian bersama-sama dengan anggota masyarakat internasional lainnya dalam upaya mencegah meningkatnya kadar gas rumah kaca di atmosfer, dan menanda tangani United Nations Framework Convention on Cilamte Change tersebut di Rio de Janeiro, Brasil, pada tanggal 5 Juni 1992. Selanjutnya dalam rangka upaya pencegahan meningkatnya kadar gas rumah kaca tersebut Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro, Brasil, pada tanggal 14 Juni 1994 menghasilkan komitmen internasional dengan ditandatanganinya United Nations Framework Convention on Climate Change oleh sejumlah besar Negara di dunia, termasuk Indonesia. Salah satu butir dalam konvensi tersebut disebutkan komintmen Negara-negara maju untuk menyediakan bantuan dana dan alih tekonologi kepada Negara-negara berkembang dalam upaya yang berkaitan dengan perubahan iklim tersebut. Sebagai implementasi dari Konvensi tersebut dengan bantuan dan kerjasama dengan Organisasi Meteorologi Dunia (OMD = WMO), mulai tahun 1994 dilakukan persiapan pendirian Stasiun Pemerhatian Atmosfer Global (Global Atmosphere Watch = GAW) di Kototabang, Bukittinggi Sumatra Barat.
Pada tahun 1995 pembangunan Stasiun GAW di Bukitinggi dapat diselesaikan dan dapat beroperasi mulai bulan Oktober 1995 dengan pengamatan radiasi surya.
Tahun 1996. Pengamatan Ozon, CO2. Pada bulan Januari 1966 pengamatan di GAW Kototabang ditambah dengan pengamatan Ozon, CO2, dll Bulan September 1996 Stasiun GAW Kototabang, Bukittinggi resmi dioperasikan sebagai stasiun pengamatan tetap UPT dalam organisasi Badan Meteorologi dan Geofisika.
Bahan rujukan.
Berlage Jr. H.P. (1927). Monsoon-Current in the Java Sea and Its Entrances. Verhandelingen no. 19. Koninklyk Magnetisch en Meteorologisch Observatorium te Batavia.
BMG. Almanak BMG
Boerema J. (1926). Typen van den Regenval in Nederlandsh-Indie. Verhadelingen no.18. Koninklyk Magnetisch en Meteorologisch Observatorium te Batavia.
Boerema J. (1934). Daily Forecast of Windforce on Java. Verhadelingen no.27. Koninklyk Magnetisch en Meteorologisch Observatorium te Batavia.
Euwe (1949). Forecasting Rainfall in the Periods December – January – February and April – May – June for Parts of Celebes and South Borneo. Verhandelingen no. 38. Departemen van Verkeer, Energie en Mijwezen Meteorologische en Geophysische Diennst.
Karjoto (1991). Jejaring Pemantauan Gempa Bumi Telemetri di Indonesia. Badan Meteorologi dan Geofisika. Departemen Perhubungan.
Menteri Perhubungan (2001). Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM. 24 Nugroho Notosusanto (1980). Sejarah Nasional Indonesia untuk SMA jilid II. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, hal. 64.
R. Susanto (2000). Perkembangan Meteorologi dan Geofisika di Indonesia. Presentasi di Badan Litbang Departemen Perhubungan 15 Februari 2000.
Schmidt F.H. and J. van der Vecht (1952). East Monsoon Fluctuations in Java and Madura During the Period 1880 – 1940. Verhandelingen no. 43. Kementerian Perhubungan, Djawatan Meteorologi dan Geofisik. Djakarta.
--------- (1992). WMO and the Ozone Issue. WMO no. 778.
--------- (1993). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cetakan kedua. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1994 Tentang pengesahan United Nations Framework Convention On Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim).
W Van Bemmelen (1913). Observations Made At Secondary Stations. Vol. I. Royal Magnetic and Meteorological Observation. Batavia.

0 comments:

Poskan Komentar