geografi lingkungan

Khoirunnas anfa'uhum linnas

Senin, 08 Oktober 2012

Paleogeomorfologi Blok Cepu


Paleogeomorfologi merupakan suatu aspek yang sangat bermanfaat jika kita dapat memanfaatkannya dengan baik. Bentang alam atau morfologi-morfologi yang telah terbentuk pada masa lampau dapat juga “hilang” karena terkubur oleh sedimen atau material lain hingga morfologi ini tidak dapat terlihat di permukaan bumi. Tanpa adanya batasan waktu berapa lama morfologi itu terkubur, jika morfologi itu tersingkap atau dapat terekam dalam citra baik citra satelit maupun menggunakanseismic interpretation, inilah yang dinamakan dengan Paleogeomorfologi.

Secara garis besar, paleogeomorfologi terbagi menjadi 3, yaitu: topografi tersingkap kembali, topografi terkubur, dan topografi sisa. Keseluruhan topografi purba ini dapat menjadi sangat bermanfaat dalam bidang penambangan atau sumber daya yang lain, karena apabila toografi-topografi ini ternyata mengandung bijih –bijih mineral ekonomis atau bahkan hidrokarbon, kita dapat memanfaatkannya sebagai area tambang yang baru. Inilah yang sebenarnya terjadi di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Foto Sumur minyak tradisional yang terdapat di Cepu
Daerah Cepu sejak lama dikenal sebagai daerah tambang minyak bumi, yang dieksploitasi sejak era Hindia Belanda. Blora mendapat sorotan internasional ketika di kawasan Blok Cepu ditemukan cadangan minyak bumi sebanyak 250 juta barel. Cepu merupakan bagian Kabupaten Blora dari terdiri atas dataran rendah dan perbukitan dengan ketinggian 20-280 meter dpl. Bagian utara merupakan kawasan perbukitan, bagian dari rangkaian Pegunungan Kapur Utara. Bagian selatan juga berupa perbukitan kapur yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng, yang membentang dari timur Semarang hingga Lamongan. Ibukota kabupaten Blora sendiri terletak di cekungan Pegunungan Kapur Utara. Zona Kendeng merupakan rangkaian pegunungan yang memanjang dari barat ke timur mulai dari Ungaran hingga ke Ngawi dan Mojokerto bahkan hinggga ke Madura. Rangkaian pegunungan ini tersusun atas sedimen laut dalam yang terlipatkan dan tersesarkan secara intensif membentuk suatu antiklinorium.
Fisiografi Jawa Tengah dan Jawa Timur (Bemmelen)
Randublatung zone merupakan suatu depresi yang terbentuk akibat adanya tektonik diantara Kendeng zone dan Rembang zone pada Pleistosen dengan litologi berupa lempung dan lanau. Sedangkan Rembang zone sendiri merupakan suatu antiklinorium dengan trend yang mengarah dari barat ke timur. Litologi yang terdapat pada zona ini merupakan suatu campuran batuan sedimen silisiklastik, karbonat laut dangkal dan asal daratan, lempung, dan napal laut dalam.
Zona Kendeng pada Miosen Awal merupakan zona tektonik aktif dan dalam,Kendeng zone masuk dalam Cekungan Jawa Timur. Cekungan ini mengalami gaya ekstensi pada Paleosen dan menghasilkan banyak sesar turun sehingga muncullah morfologi-morfoogi tinggian dan rendahan. Pada Neosen, cekungan ini mengalami gaya kompresi sehingga terjadilah reaktivasi sesar turun menjadi sesar-sesar naik dan lipatan-lipatan yang pada akhirnya menjadi antiklinorium.
PETROLEUM SYSTEM
Source rock yang berpotensi menghasilkan hidrokarbon dalam jumlah yang cukup melimpah antara lain terdiri dari 4 Formasi yaitu : Formasi Ngrayong, Formasi Kujung, Formasi Ngimbang, dan Formasi Tuban. Secara umum formasi-formasi ini tersusun atas shale yang dapat menghasilkan kerosen. Formasi ini mencapai tingkat kedewasaan secara temperatur (mature thermally) pada Paleosen, kecuali Formasi Tuban yang matang pada umur Miosen. Hidrokarbon yang dihasilkan oleh source rock kemudian bermigrasi dan terakumulasi dalam Reservoir Rocks berupa quatrz sandstone, micritic sandstone, reefal limestone, tuffaceous sandstone, dan mudsdari Formasi Kujung, Formasi Ngrayong, dan Formasi Mundu.
Trap atau cebakan hidrokarbon yang terdapat di Cepu kebanyakan adalahStructural trap berupa antiklin dengan variasi yang sederhana. Hidrokarbon bermigrasi dan kemudian terperangkap lalu terakumulasi dalam puncak antiklin yang terbentuk pada umur Plio-Pleistosen akibat adanya tektonik berupa gaya kompresi yang dan kemudian juga membentuk struktur yang lain berupa thrust fault. Stratigraphic trap berupa reefal limestone complex dengan sedikit faktor struktur juga terdapat pada petroleum system di Cepu.
Lebih dari 25 sumur minyak telah ditemukan di daerah Cepu sampai Surabaya. Tapi sekarang hanya 5 lapangan minyak (Kawengan, Ledok, Nglobo, Semanggi, Wonocolo) dan lapangan gas (Balun) yang telah dihasilkan oleh Pertamina (Perusahaan Minyak Pemerintah Indonesia). Sumur minyak Kawengan merupakan lapangan minyak terbesar di Cekungan Jawa Timur Utara.Formasi Tawon bagian atas, batupasir Formasi Ngrayong, dan Formasi Wonocolo bagian bawah adalah lapisan yang menghasilkan hidrokarbon.

REFERENSI
Eisar, M., 2008. Geology of Sitimulyo, Puncakwangi-Todanan district, Pati-Bloraregency, Central Java http://eprints.undip.ac.id/1607/1/ABSTRAKSI-eisar.pdf diakses pada tanggal 18 Mei 2011 pukul 23:38 WIB
http://geology-well.blogspot.com/2011_02_01_archive.html diakses pada tanggal 18 Mei 2011 pukul 23:32 WIB
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Blora diakses pada tanggal 18 Mei 2011 pukul 23:32 WIB
http://nummulites.net/Books/Worowari.pdf diakses pada tanggal 18 Mei 2011 pukul 23:32 WIB
N. Soeparyon and P.G. Lennox, 2003 Structural development of hydrocarbon traps in the Cepu oil fields, northeast Java, Indonesia,http://www.sciencedirect.com/ diakses pada tanggal 18 Mei 2011 pukul 23:32 WIB
Srijono, dkk. 2011. Geomorfologi. Yogyakarta : Jurusan Teknik Geologi FT-UGM
Staff Asisten Geomorfologi. 2009. Panduan Praktikum Geomorfologi 2009 ed.VIIIYogyakarta : Laboratorium Geologi Dinamik Jurusan Teknik Geologi FT-UGM

0 comments:

Poskan Komentar