geografi lingkungan

Khoirunnas anfa'uhum linnas

Rabu, 18 Mei 2011

Global Warming dengan Biodiversitas


1.      Apakah kaitan Global Warming dengan Biodiversitas dan Mata Pencaharian?
Biodiversitas dan pemanasan global merupakan siklus yang saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan secara parsial satu dengan lainnya. Begitu juga keterkaitannya dengan mata pencaharian bagi masyarakat yang memanfaatkannya. Seperti gambar beriukt yang menunjukan keterkaitan ketiganya yang saling timbal balik.

Pemanasan Global dan biodiversitas
Akibat dampak yang disebabkan oleh Pemanasan Global bersifat luas dan lingkupnya mulai dari ekosistem hingga spesies, oleh karena itu sangat mengancam keberadaan spesies tertentu yang tidak dapat beradaptasi. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa pada tahun 2050 diperkirakan 24% spesies baik terrestrial maupun lautan akan punah yang diakibatkan kerusakan pada habitatnya maupun terganggunya siklus dan  waktu dari  reproduksi pada jenis spesies tertentu. Dampak dari kebijakan mitigasi yang tidak melibatkan faktor biodiversitas juga merupakan salah satu penyebab terjadinya penurunan biodiversitas.  Pengurangan carbon memang menjadi prioritas dari mitigasi tetapi jika mengorbankan biodiversitas yang ada justru akan tetap berdampak terhadap penambahan carbon itu sendiri dalam jangka panjang.
Biodiversitas dapat menjadi alat mitigasi yang baik jika penerapannya tepat. Melalui keanekaragaman di suatu ekosistem yang juga dapat menjadi sumber penyerapan carbon. Di darat kita mempunyai hutan dan lahan gambut sebagai carbon sink, dan akan menjadi penyuplai carbon terbesar pula jika terjadi deforestasi maupun konversi untuk berbagai kepentingan. Sedangkan di laut terdapat terumbu karang, lamun, hutan bakau hingga alga (phytoplankton).
Pemanasan global dan mata pencaharian
Mata pencaharian tidak akan terlepas dengan tingkat kesejahteraan masyarakat sebagai sumber pendapatan. Terjadinya gangguan akibat faktor perubahan iklim terhadap mata pencaharian tentunya akan dapat mengurangi kesejahteraan mereka. Namun yang menjadi permasalahan adalah seberapa besar kita dapat bertahan dan pulih kembali. Negara berkembang yang mayoritas memanfaatkan sumber daya alam sebagai mata pencaharian masyarakatnya akan terkena dampak langsung akibat perubahan iklim, dibandingkan negara maju yang mempunyai kemapanan ekonomi, teknologi, pengetahuan dan keahlian. Gaya hidup yang menuntut  peningkatan kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat merupakan faktor yang menentukan terus bertambahnya carbon secara signifikan di atmosfer.  Kemajuan ekonomi berbanding lurus dengan produksi carbon yang tinggi melalui perindustrian.
Biodiversitas dan Mata Pencaharian
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa secara umum negara berkembang sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya  sangat bergantung terhadap sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhannya yang dalam hal ini yaitu ekosistem. Semakin tinggi tingkat kebutuhan masyarakat akan senantiasa diiringi dengan eksploitasi ekosistem yang lebih besar yang tidak sebanding dengan daya pulih ekosistem itu sendiri. Terganggunya ekosistem juga akan berdampak sebaliknya terhadap mata pencaharian masyarakat dengan tidak tercukupinya kebutuhan yang mereka targetkan.
Pemecahan permasalahan yang dapat dilakukan Terdapat mekanisme adaptasi dalam perubahan iklim, yaitu strategi pengurangan resiko untuk memperbaiki kerugian akibat dampak perubahan iklim terhadap manusia dan komunitas ekologi (biodiversitas). Dalam adaptasi itu sendiri kita mengenal istilah adaptive capacity atau bisa disebut sebagai kemampuan kita dalam beradaptasi. Adaptive capacity terdiri lagi atas coping range dan resilience range.
Coping range merupakan batas toleransi terhadap perubahan dalam hal ini perubahan iklim sedangkan resilience range merupakan kemampuan untuk dapat bertahan (daya lenting). Kedua faktor ini ditentukan berdasarkan tingkat perekonomian, teknologi, pengetahuan dan keahlian. Oleh karena itu adaptive capacity ditiap daerah berbeda-beda dan secara umum bagi negara berkembang secara umumnya memiliki keterbatasan terhadap faktor-faktor diatas.


Oleh karena kunci dalam meminimalisir dampak Pemanasan Global yang terjadi terhadap biodiversitas dan mata pencaharian masyarakat adalah dengan meningkatkan coping range dan meminimalisir faktor yang dapat mengurangi resilience range. Konteksnya dalam biodiversitas adalah dengan menjaga kelestarian ekosistem tersebut dan mengurangi dampak-dampak yang dapat mengurangi ketahanan ekosistem tersebut seperti terjadinya pemanfaatan berlebih dan cara penangkapan yang merusak. Sedangkan terhadap mata pencaharian masyarakat yaitu peningkatan pengetahuan, keahlian dan juga peningkatan teknologi sehingga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan mereka terhadap pemanfaatan ekosistem. Melalui strategi adaptasi tersebut tentunya diharapkan adaptive capacitynya akan bertambah besar (YG).
2.      Apakah kaitan Global Warming natural (alami) atau campur tangan manusia?

Penelitian terakhir para ahli klimatologi di Amerika Serikat berhasil membuktikan bahwa pemanasan global terjadi karena Bumi menyerap lebih banyak energi Matahari daripada yang dilepas kembali ke ruang angkasa.
Kesimpulan ini diperoleh melalui model komputer yang mensimulasikan data-data iklim dari pengukuran suhu lautan. Bukti tersebut semakin menguatkan pendapat bahwa aktivitas manusia adalah penyebab pemanasan global.
Para peneliti mencoba menghitung selisih energi matahari yang diterima oleh atmosfer dengan yang dilepaskan kembali ke luar angkasa. Karena tidak dapat diukur langsung, para peneliti mengambil data dari lautan.
"Mengukur perubahan secara langsung sulit dilakukan, karena Anda harus mendeteksi variabel tertentu dari sekian banyak variabel," kata Gavin Smith, salah satu anggota tim peneliti dari NASA. "Tapi kami tahu berapa besar energi yang diserap lautan dari pengukuran selama puluhan tahun melalui satelit maupun peralatan yang ditempatkan langsung. Didukung pemahaman kami tentang atmosfer, hasil pengolahan data memperlihatkan bahwa selama ini terjadi ketidakseimbangan di atmosfer," lanjutnya.
Caranya dengan memonitor suhu permukaan laut dari ribuan pelampung (buoys) yang tersebar di berbagai lokasi. Data-data yang diambil dari berbagai tempat dimasukkan dalam komputer dan merepresentasikan model iklim yang kompleks meliputi aktivitas atmosfer, laut, angin, arus, gas, dan zat pencemar lainnya.
Dari simulasi tersebut tampak bahwa atmosfer bumi menyerap energi 0,85 watt per meter persegi (secara keseluruhan setara dengan 7 triliun bola lampu 60 watt), lebih dari energi yang dilepaskan kembali. Penyebabnya adalah efek rumah kaca yang terbentuk oleh lapisan gas karbon dioksida. lapisan tersebut menyerap radiasi panas yang dipantulkan bumi yang seharusnya dilepaskan ke ruang angkasa.
Menurut Gavin Schmidt, butuh energi yang besar untuk menghasilkan perubahan di permukaan bumi. Meskipun demikian penyerapan energi telah berjalan dalam rentang waktu yang lama.Berdasarkan laporan Nasa, penyerapan energi sudah terlalu besar sehingga peningkatan suhu bumi sebesar setengah derajat celcius tidak dapat dicegah kecuali manusia menghentikan produksi gas rumah kaca.
Tidak semua ahli sepakat dengan kesimpulan tersebut. Salah satunya adalah William Kininmonth, pimpinan pusat iklim nasional Australia dan anggota delegasi Australia dalam negosiasi perjanjian iklim PBB.
Menurutnya, terlalu banyak asumsi yang dipakai dalam simulasi komputer daripada data sesungguhnya. Oleh karena itu, sangat sulit untuk mengakui keakuratan hasil ketidakseimbangan energi dalam ukuran beberapa meter persegi.
Berbeda dengan Damian Wilson, manajer cuaca dan parameter radiasi di lembaga meteorologi Inggris yang lebih antusias dalam menanggapi hasil penelitian tersebut. "Model komputer yang mengolah perubahan suhu di permukaan bumi adalah suatu kemajuan -- tapi bukan berarti hasil pembuktian tersebut benar lho," katanya. "Paling tidak kita lebih yakin bahwa model tersebut bekerja dengan benar karena menghasilkan kesimpulan yang masuk akal," lanjutnya. Sementara Jim Hansen, direktur Goddard Institute for Space Studies milik NASA di New York, sekaligus peneliti perubahan iklim, mengatakan temuan di atas patut mendapat perhatian. "Bila kita menunggu bukti-bukti perubahan iklim (dan tidak segera mengambil tindakan), mungkin kita akan terlambat," katanya. "Tapi bila kita bertindak sejak sekarang untuk mencegah perubahan iklim, maka kita memberi waktu pada Bumi untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi." Dalam papernya yang berjudul Climatic Change (v 68, p 269), Hansen mengatakan bahwa kenaikan suhu 1°C saja bisa memicu melelehnya lapisan es dunia. Proses ini bisa diawali dari Greenland yang bakal melepaskan armada gunung es-nya ke lautan sehingga permukaan laut akan naik menjadi beberapa meter.
Model iklim berbasis komputer berkembang pesat beberapa tahun terakhir. Akan tetapi masih terdapat masalah dalam memodelkan beberapa proses yang terjadi di atmosfer, khususnya perambatan panas di awan. Para ilmuwan masih berharap dapat memperoleh lebih banyak data dari lautan dan aerosol seperti debu, abu, tanah, dan partikel yang lain di atmosfer.

0 comments:

Poskan Komentar