geografi lingkungan

Khoirunnas anfa'uhum linnas

Sabtu, 15 September 2012

Gunung Tambora

  Pada suatu waktu di bulan Juni 1816 yang gelap dan mendung, Lord Byron, Percy Bysshe Shelley dan wanita yang nantinya jadi istrinya, Mary Wollstonecraft berlibur di Danau Jenewa. Mereka bersama beberapa teman mulai membaca cerita-cerita hantu dari Jerman. Suasana sekitar terekam dalam tulisan ciptaan Byron “Darkness”, sebuah puisi naratif dengan setting “sinar matahari  mulai padam” dan “pagi datang dan pergi, datang lagi, dan kemudian menjadi gelap” (“bright sun was extinguish’d” and “Morn came and went—and came, and brought no day.”) Byron kemudian menantang yang lain untuk membuat cerita mereka sendiri. John Polidori menulis The Vampire, dan Mary Wollstonecraft yang nantinya menjadi Mary Shelley mulai menulis “Frankenstein”
Pendahuluan
Letusan terbesar di bumi yang terekam dalam sejarah manusia terjadi sekitar 200 tahun yang lalu di Sumbawa, sebuah kepulauan di Indonesia. Gunung api ini bernama Gunung Tambora dan oleh seorang ahli gunung api dari Universitas Rhode Island, Haraldur Sigurdsson inilah erupsi yang paling banyak diteliti dalam sejarah.
Peta Geografis Tambora. Source: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/0a/Tambora_volc.jpg

Letusan Tambora sepuluh kali  lebih besar dari Letusan Krakatau dan seratus kali lebih besar dari letusan Gunung Vesuvius dan St Helens. Sekitar 100.000 orang menjadi korban akibat letusan ini.
Sigurdsson  mengatakan bahwa material erupsi naik hingga 43 km ke atmosfir. Bayangkan, ketinggian ini sekitar 10 kali lebih tinggi dari ketinggian pesawat terbang komersial- mengeluarkan batuan panas cair dalam bentuk abu dan batu apung dengan volume 100 km3.  Jumlah volume tersebut sangat jauh lebih besar dibanding volume erupsi vulkanik lainnya yang direkam dalam sejarah manusia.

Setting Tektonik dan Geologi Umumnya

Gunung api Tambora terletak di Kepulauan Sumbawa, di bagian timur dari busur Sunda, yang memanjang hingga 4500 km. Jarak dari busur Sunda ke Tambora sekitar 300 km. Lebih dari 100 gunung api quarternary telah terbentuk  di sepanjang busur Sunda ini. Ini  terjadi akibat lempeng Australia mengalami subduksi ke arah utara di bawah lempeng Eurasia. Semakin ke timur, proses subduksi lebih kompleks disebabkan perubahan  sifat subduksi lempeng dari oceanic/lautan ke continental/benua. Kedalaman subduksi di daerah Tambora berada termasuk dangkal yakni sekitar 200 km.
Keberadaan penujaman belakang busur  dari Bali ke Flores, termasuk kepulauan Sumbawa telah dilaporkan oleh Hamilton (1979). Ketebalan kulit bumi  dari Jawa ke Bali diperkirakan sekitar 20 km. Kepulauan Sumbawa dibentuk oleh material vulkanik masa awal Miocene (sekitar 5-3 juta tahun yang lalu), material vulkanik masa Pliocene ( 1.7-1 juta tahun lalu) dan batu gamping terumbu karang, serta material vulkanik masa pertengahan Pleistocene ke Holocene.
Gunung api Tambora, umurnya kurang dari 200 ribu tahun, pada sisi kaki gunung arah barat  berada di atas terumbu karang, dan menyelimuti gunung api yang lebih tua, yang dinamai gunung api Kawinda Toi (410 ribu tahun yang lalu) pada sisi utara.  Sebelum letusan tahun 1815, tinggi gunung diperkirakan para ahli sekitar 4000 m- 4300 m. Menurut beberapa ahli, ketinggian Tambora bisa saja lebih tinggi dari yang diperkirakan karena menurut cerita gunung ini bisa dilihat dari Pulau Bali.
Menurut masyarakat Sanggar, sebelum tahun 1815 sudah ada  3 kerajaan mengelilingi Tambora: Kerajaan Sanggar di kaki gunung sebelah utara, Kerajaan Tambora di kaki gunung sebelah barat, dan Kerajaan Pekat di kaki gunung sebelah selatan.
Secara morfologis, tambora berbentuk perisai dengan puncaknya ditempati oleh kaldera besar  yang terbentuk pada letusan tahun 1815. Diameter kaldera sekitar 7 km dengan kedalaman 1100 m. Sebuah danau kecil musiman terdapat di lantai kaldera dan lusinan aktivitas fumarol terbentuk di dinding bawah kaldera. Di lantai kaldera ada juga kubah kerucut kecil dengan nama Doro Api  yang terbentuk pasca terbentuknya kaldera dengan tinggi 100 m.
Kaldera Tambora. Source: http://www.popcrunch.com/wp-content/uploads/2010/05/4-Tambora.jpg

Sejarah Letusan/Erupsi

Dengan memanfaatkan teknologi radio karbon, diketahui bahwa gunung Tambora telah meletus tiga kali sebelum tahun 1815, walau besar letusan tersebut tidak diketahui. Para ahli memperkirakan letusan tersebut terjadi sekitar tahun 3910 SM +/- 200 tahun dan tahun 3050 SM serta 740 SM +/- 150 tahun.  Karakteristik letusan tersebut hampir sama, terdapat pusat lubang letusan, kecuali pada letusan paling akhir tidak terdapat aliran piroklastik.
Pada tahun 1812, gunung Tambora menjadi sangat aktif, dan mencapai puncak letusan pada April 1815. Letusan ini memiliki magnitude VEI= 7 dengan total  volume semburan tefra sekitar 160 milyard meter kubik. Karakteristik letusan termasuk adanya pusat semburan dengan letusan yang eksplosif, aliran piroklastk,  kehancuran dan jumlah korban yang terjadi, kerusakan tanah dan bangunan, terciptanya tsunami dan tebentuknya kaldera besar. Letusan berhenti pada July 1815. Sekitar tahun 1880, Tambora meletus lagi tetapi hanya berlangsung di kalderanya saja dan menciptakan kubah lava yang dinamai Doro Api Toi di lantai kaldera tersebut.

Kronologi letusan Tahun 1815

Gunung Tambora tidak aktif selama ratusan tahun sebelum 1815. Ini disebabkan terjadinya pendinginan bertahap dari magma cair di ruang magma tertutup. Pada ruang magma di kedalaman 1500-4500 m terjadi eksolusi (material terbagi menjadi komponen pembentuknya) magma tekanan tinggi selama pendinginan dan pengkristalan magma.
Pada tahun 1812, kaldera bergemuruh dan mengeluarkan awan hitam. Pada 5 April 1815, letusan dengan ukuran sedang terjadi, diikuti dengan dengan bunyi letusan menggelegar. Pada pagi hari 6 April 1815 debu vulkanik  jatuh di Jawa Timur dengan diiringi suara samar letusan seperti detonator dan berlangsung hingga tanggal 10 April 1815. Pada tanggal 10 dan 11 April 1815 di Pulau Sumatra (jarak dari Tambora sekitar 2600 km) suara yang terdengar seperti letusan senjata api didengar orang-orang pertama kali.
Ilustrasi Letusan Tambora. Source: http://allvacationplace.com/wp-content/uploads/2011/05/Ilustration-of-The-Tambora-Eruption_edited-1.jpg
Pada 10 April 1815 sekitar jam 7 pagi aktifitas letusan semakin meningkat. Tiga kolom semburan api naik dan bersatu. Semua daerah gunung berubah menjadi aliran massa api cair. Sekitar jam 8 pagi, hujan batu apung hingga ukuran 20 cm terjadi, diikuti oleh abu panas sekitar jam 9-10. Aliran piroklastik panas turun dari dari gunung dan mencapai laut pada semua tepi dari tanjung, membumi hanguskan desa-desa Tambora.  Campuran batu apung dan sisa pohon terbawa hingga ke laut dan membentuk ‘rakit’ hingga 5 km dari pulau. Awan gelap terlihat 600 km dari puncak gunung dan berlangsung hingga 2 hari.
Tsunami besar terjadi di pulau-pulau Indonesia.  Tsunami dengan ketinggian 4 m terjadi di Sanggar pada jam 22.00, kemudian menjelang tengah malam tsunami dengan ketinggian 1-2 m terjadi di Besuki, Jawa Timur. Di Maluku terjadi tsunami dengan ketinggian 2 m.
Letusan kuat masih terdengar hingga malam 11 April 1815. Abunya tersebar hingga sejauh Jawa Barat dan Sulawesi. Bau nitrat dan hujan tefra kebiruan yang lebat akhirnya terjadi juga di Jakarta.
Peta yang menggambarkan cakupan wilayah jatuh abu vulkanik letusan Tambora pada tahun 1815. Source: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/6e/1815_tambora_explosion.png/800px-1815_tambora_explosion.png

 Api dan gempa-gempa masih berlangsung hingga Augustus 1819, empat tahun setelah letusan. Gunung Tambora masih aktif hingga saat ini. Aliran lava masih terjadi di kalderanya yang kemudian membentuk kubah di lantai kaldera. Letusan Tambora yang terakhir adalah pada tahun 1967, dengan VEI = 0 yang berarti terjadi erupsi tetapi tanpa ada letusan.

 Pendinginan Global

Letusan ini menghasilkan awan gas yang sekitar 400 juta ton diantarnya menjadikan bumi tidak mengalami musim panas dalam tahun itu. Kejadian ini  terkenal disebut dengan  ”year without summer.” Ketika gas bereaksi dengan kandungan air di atmosfir, reaksi menghasilkan tetesan kecil asam sulfur yang terjebak di stratosfir, menciptakan kubah yang menyelimuti bumi. Di London, antara 28 Juni dan 2 Juli 1815 dan 3 September dan 7 Oktober 1815, orang-orang melihat sinar matahari berwarna-warni pada saat tenggelam di ufuk. Sinar senja langit muncul oranye atau merah dekat cakrawala langit merah muda dan ungu.
Pada masa itu tak ada yang tahu, bahkan saat ini hanya sedikit orang yang tahu kejadian tersebut. Bahkan para seniman yang berkumpul di tepi Danau Jenewa dalam cerita pembuka di atas tidak menyadari mengapa hari tiba-tiba gelap dan suram.
Barulah pada awal tahun 80 an seorang ahli bernama Sigurdsson mengemukakannya. Pada dekade tersebut para ahli mengambil contoh lapisan es abadi di Greenland dan menemukan hal yang mencengangkan: konsentrasi sulfur yang besar yang teridentifikasi pada lapisan es yang tebentuk tahun 1816. Inilah bukti pertama bahwa Tambora berpengaruh global dan belum dipelajari.

Tahun tanpa musim panas (The Year Without Summer)

Seorang dekan di Tufts University’s Friedman School of Nutrition Science menggambarkan sosio politik setelah perang Napoleon: “ ekonomi terganggu, infrastruktur hancur, pemerintah limbung”. Dan sesuatu yang salah terjadi pada tahun 1816 yaitu tidak ada musim panas pada tahun tersebut. Temperatur jatuh, panen gagal, dan orang-orang kelaparan. Ratusan ribu penduduk meninggal. “Penduduk terpaksa memakan tikus dan memperebutkan akar-akaran” demikian Webb. Kebanyakan orang meninggal karena penyakit epidemik seperti tipus dan penyakit lain yang berhubungan dengan kelaparan. Mereka kekurangan makanan. Kejadian tersaebut merata terjadi di Eropa: di Wales penduduk mengungsi karena kelaparan, di Jerman harga-harga makanan naik yang membuat banyak orang kelaparan dan menyulut demonstrasi di toko-toko makanan, Di Irlandia terjadi kegagalan penen gandum dan tomat. Ini memicu terjadinya kerusuhan dan penjarahan di berbagai  lokasi di Eropa. Terjadi bencana kelaparan terburuk pada abad 19.
Pada bulan July dan Augustus 1816, demikian Webb  menulis, penduduk New England di Amerika melihat salju turun pada saat musim panas dan suhu berada 5-10 derajad di bawah normal
Tahun tersebut juga ditandai dengan hasil panen anggur yang buruk. Alain Vauthier yang memiliki koleksi anggur dari berbagai masa di Bordeaux, Perancis menyatakan bahwa untuk anggur produksi tahun 1816 hanya terdapat beberapa botol dari yang seharusnya tersedia, dan kualitasnya pun berbeda dibanding tahun yang lain.

Pelajaran dari Lapisan-lapisan Tanah

Selama hampir 20 tahun,   Sigurdsson  telah mendapatkan hasil dari penelitian lapisan tanah di  pulau dimana Tambora berada. Setiap lapisan tersebut seperti buku. Lapisan-lapisan tersebut merepresentasikan letusan yang terjadi dan menceritakan sejarah gunung api itu sendiri.
Ketika beliau menggali lapisan, beliau menemukan hal yang lain: terdapat artefak dan tulang-belulang yang terkarbonasi ketika Tambora meletus. Itu berarti ada kehidupan dan kebudayaan yang tertimbun di bawah lapisan-lapisan letusan. Sigurdsson menggambarkan hal tersebut sebagai ” Kerajaan Tambora yang hilang” – dengan mengacu hal yang sama seperti tragedi kota Pompeii yang dihancurkan oleh letusan gunung Vesuvius pada tahun 79 M.  
Kota yang baru ditemukan sekitar lima mil (delapan kilometer) dari pantai. Sigurdsson mengatakan lokasi tersebut berada di pedalaman kemungkinan untuk perlindungan dari bajak laut dari pulau-pulau lainnya. Dengan menggunakan radar penembus tanah, para ilmuwan meneliti fitur di bawah endapan vulkanik 1815.  Petunjuk dari penduduk lokal membawa mereka ke sebuah daerah yang dinamai  Museum Gully karena tembikar dan artefak lainnya ditemukan di sana.
Dalam enam minggu, mereka menggali sisa-sisa rumah, yang telah terkarbonasi dari panas yang ekstrim dari letusan gunung berapi.  Sangat banyak hal  yang mengejutkan Sigurdsson,  terutama adalah sisa dekorasi yang elegan dari Cina atau kemungkinan dari Kamboja atau Vietnam. Hal ini mengisyaratkan bahwa penduduk Tambora adalah pedagang kaya.
“Mereka berkucupan,” katanya. ”Kita tahu orang-orang ini adalah pedagang. Mereka terkenal sebagai pedagang kuda.”
Catatan sejarah juga menceritakan bahwa orang-orang Tamboran mempedagangkan madu,kayu Sappan, – yang digunakan untuk membuat pewarna merah, dan cendana yang digunakan untuk dupa dan obat-obatan.
Beliau menggambarkan tipe keganasan kehancuran dan kematian di Tambora sama dengan Vesuvius,  bedanya adalah sisa-sisa tulang manusia di Tambora terkarbonasi menjadi seperti arang. Dengan demikian tingkat letusan dan temperaturnya lebih tinggi dibanding Vesuvius. Panas dari letusan cukup untuk melelehkan gelas/kaca dan terjadi dengan sangat cepat. Penduduk di sekitar tidak punya kesempatan menyelamatkan diri. Hal ini terlihat dari sisa korban perempuan yang ditemukan Sigurdsson.
“Dia berbaring telentang dengan tangan terulur.  Ia sedang memegang parang atau pisau besar di satu tangan. Ada sebuah sarung di bahunya. Sarungnya benar-benar seperti arang, seperti juga tulang-tulangnya,” kata Sigurdsson. ”Kepalanya bersandar pada lantai dapur, dimana dia langsung teperangkap ke dalam aliran panas.”
Ilustrasi seniman yang menggambarkan letusan Tambora. Source: http://www.exohuman.com/wordpress/wp-content/uploads/2011/09/tambora_illustration.jpg

Pelajaran dari Tambora.

Letusan-letusan gunung api seperti Tambora, Krakatau, dan Pinatubo menurunkan temperatur bumi. Beberapa ahli berpikir untuk membuat replika efek Tambora untuk mengurangi pemanasan bumi (gobal warming). Akan tetapi ide untuk membuat gunung api buatan untuk memuntahkan sulfur ke lapisan stratosfir bumi untuk mendapatkan efek seperti Tambora dinilai hanya akan membuat masalah baru: melawan polutan dengan polutan lain. Dalam kurun waktu 1000 tahun mendatang, demikian Sigurdsson menduga, akan ada letusan setara dengan Tambora, dan sebaiknya manusia peduli dengan segala konsekuensinya.  Letusan raksasa gunung api, jika terjadi akan mengakibatkan dimuntahkannya gas dalam jumlah besar ke atmosfir yang tentu saja akan mengganggu sarana telekomunikasi dan penerbangan.
Source:

0 comments:

Poskan Komentar