geografi lingkungan

Khoirunnas anfa'uhum linnas

Minggu, 30 September 2012

Gunung Pinatubo


Gunung Pinatubo
 merupakan sebuah gunung api aktif yang terletak di pulau LuzonFilipina. Terdapat di perbatasan provinsi ZambalesTarlac, dan Pampanga. secara geografis Pinatubo terletak pada koordinat 15°08′30″N 120°21′00″E.Pinatubo adalah bagian dari rangkaian gunung berapi yang terletak di bagian barat pulau Luzon, yang merupakan zona subduksi akibat penunjaman lempeng Filipina ke bawah lempeng Eurasian di sepanjang Palung Manila. 



Secara harfiah dalam bahasa Tagalog, Pinatubo memiliki makna ‘daerah subur tempat tumbuh’. Istilah ini diberikan oleh penduduk suku Aetas yang hidup berpindah-pindah secara nomaden. Suku Aetas menemukan daerah di kaki gunung Pinatubo setelah terjadi letusan besar pada tahun 1500. Letusan menyuburkan daerah-daerah di sekitar gunung sehingga bermanfaat bagi aktivitas pertanian dan membuat suku Aetas ini selanjutnya hidup menetap di daerah ini. 


Ditinjau dari morfologinya, Gunung Pinatubo dikategorikan ke dalamstratovolcanic. Hal ini dapat dilihat dari karakteristiknya yang antara lain berupa adanya zona subduksi akibat penunjaman lempeng Filipina ke bawah lempeng Eurasian, eksplosif (dengan indeks letusan volkanik di atas 5), serta adanya akumulasi lava dan debu vulkanik yang membentuk gunung tersebut. Namun demikian, selain terdapat morfologi stratovolcano, Pinatubo juga memiliki karakteristik kaldera yang terbentuk pada saat pelepasan material vulkanik dalam jumlah besar saat terjadinya erupsi. Sementara itu, magma dalam gunungapi ini bersifat andesitik, yaitu sifat pertengahan antara asam dan basa, dengan kandungan silika dioksida kira-kira 60%.
 


Sepanjang sejarah hidupnya, Pinatubo memiliki dua fase hidup besar yakni era Gunung Pinatubo kuno dan era Gunung Pinatubo modern. Pinatubo kuno secara mendasar terletak pada lokasi yang serupa dengan keberadaan gunungapi dewasa ini dan mulai tumbuh sekitar 1,1 juta tahun yang lalu. Gunung ini pernah mencapai ketinggian hingga 2300 meter di atas permukaan laut. Pinatubo kuno memiliki rata-rata letusan yang jauh lebih rendah dibandingkan aktivitas saat ini dan hidup hingga sekitar 45000-50000 tahun yang lalu. Selanjutnya selama sekitar 10000 tahun, gunung ini tidak menunjukkan tanda-tanda aktif sampai terjadinya letusan katastropik 33000 tahun sebelum masehi. Selanjutnya, era gunung modern dimulai dan menunjukkan karaktertistik letusan yang jauh berbeda. Pinatubo baru memiliki deposit magma dalam jumlah besar di bawah puncak gunung dan bererupsi secara eksplosif sepanjang fasa terakhirnya. 


Gunung Pinatubo modern merupakan gunung api yang secara rata-rata memiliki siklus letusan sekitar 450 hingga 500 tahun. Letusan yang pernah terdokumentasi terjadi pada tahun 17000 SM, 9000 SM, 7030 SM, 3550 SM, 1050 SM, 1450, dan terakhir erupsi tahun 1991-1993. Letusan-letusan yang terjadi sebelum tahun 1600 umumnya diperkirakan melalui peluruhan radioaktif dan tidak tercatat secara resmi dalam daftar historikal manusia.
 


Dalam era peradaban dunia modern, Gunung Pinatubo pernah meletus secara hebat tanggal 9 Juni 1991. Erupsi ini merupakan letusan terbesar kedua di sepanjang abad ke-20 dan memilikiVolcanic Explosivity Index (VEI) skala 6 yang setara dengan pelepasan tephra sebesar 10 kilometer kubik ke atmosfer. Sebelum letusan, gunung Pinatubo menampakkan aktivitas prekursor yang spontan dan cukup ekstrim. Gempa volkanik 7.8 skala Richter terjadi pada Juli 1990 pada 60 kilometer sebelah timur laut gunung api dan menyebabkan tanah longsor dan keaktifan sesar-sesar lokal. Selanjutnya, gempa-gempa kecil terjadi hingga ribuan kali terutama di sepanjang bulan April dan Mei 1991. Selain itu, manifestasi panasbumi berupa steam vent dan gas sulfur muncul secara tiba-tiba di permukaan wilayah sekitar Pinatubo. Tidak ketinggalan, akibat aktivitas efusif awal selama 5 hari, kubah lava besar terbentuk dengan diameter sekitar 200 meter dan ketinggian hingga 40 meter.


Dengan semua tanda-tanda aktivitas prekursor di atas, dapat dipastikan sebuah letusan hebat akan terjadi. Atas dasar itu, Institut Volkanologi dan Ilmu Gempa Bumi Filipina dibantu oleh United States Geological Survey (USGS) mulai melakukan peringatan kepada penduduk di daerah yang diduga merupakan daerah dengan potensi besar mengalami resiko. Tiga zona evakuasi ditetapkan, zona pertama merupakan daerah yang berada pada radius 10 km dari puncak gunung, zona kedua pada radius 10 - 20 km, dan zona ketiga pada radius 20 - 40 km. Sekitar 40.000 penduduk bertempat tinggal di zona pertama dan kedua, serta sekitar 331.000 penduduk pada zona tiga. berbagai tahap peringatan telah dilakukan baik melalui media massa, media elektronik, maupun secara langsung kepada penduduk pada zona-zona yang telah disebutkan di atas. Walaupun telah dilakukan berbagai peringatan, banyak juga penduduk yang tinggal di lereng gunung, baru meninggalkan desanya setelah ledakan pertama terjadi pada bulan Juni. 


Gunung Pinatubo meletus secara eksplosif dan menghasilkan kepulan besar awan debu hingga ketinggian 35 kilometer. Abu-abu volkanik yang dilepaskan dalam jumlah besar ini terbawa oleh angin musim hingga mencapai Laut Cina Selatan dan Samudera Hindia dan selanjutnya setelah beberapa bulan keberadaannya sempat terdeteksi di Benua Amerika. Kejadian ini berakibat pada kondisi iklim dunia tahun 1991-1992. Temperatur udara bumi rata-rata tercatat turun sebesar 0.7 derajat Fahrenheit atau hampir sekitar 0.4 Celcius. Di sekitar wilayah Pinatubo, debu volkanik ini turun dan menutupi permukaan sampai ketinggian 200 meter dan menenggelamkan permukiman penduduk, vegetasi, hewan-hewan ternak dan jalur transportasi darat. 


Sementara itu, molekul SO2 berupa gas yang terdapat dalam atmosfir berinteraksi secara kimiawi dengan uap-uap air dan menghasilkan asam sulfat (H2SO4) yang juga turun ke permukaan dalam bentuk hujan asam. Erupsi yang mencapai lapisan stratosfer ini juga menimbulkan efek yang signifikan terhadap tingkat ozon yang berada di angkasa. Kandungan ozon di mid-belahan bumi selatan pada musim dingin tahun 1992 mencapai level terendah sepanjang masa saat itu. Hal yang serupa juga terjadi pada daerah di atas Benua Antartika dengan keberadaan lubang ozon terluas pada masa itu.


Erupsi tahun 1991 juga melepaskan magma dari bawah permukaan dalam kapasitas yang besar. Hal ini menyebabkan kekosongan kantung magma yang berujung pada runtuhnya puncak Pinatubo yang menghasilkan daerah depresi berdiameter 2.5 kilometer. Sebagai akibat munculnya kaldera baru ini, ketinggian gunungapi turun drastis sebesar 260 meter, sehingga menjadi tinggal 1485 meter di atas permukaan laut saja. 


Produk-produk volkanik lainnya juga dilepaskan sepanjang letusan Pinatubo dan berakibat fatal bagi penduduk di sekitar Pulau Luzon. Aliran piroklastik panas menuruni lereng gunung beberapa jam pasca erupsi major, mengalir menuju Sungai Maranot dan Moraza, yang kemudian menghanguskan hampir semua material dalam radius 5 kilometer dari pusat letusan. Di beberapa tempat bahkan tercatat materi piroklastik ini mencapai titik yang lebih jauh, yakni radius hingga 16 kilometer dari puncak Gunung Pinatubo. Selain itu, keadaan pasca letusan hingga tahun 1996 juga masih dirundung bahaya lain. Temperatur deposit volkanik yang masih berkisar pada 400 derajat Celcius memiliki potensi besar untuk berinteraksi dengan aliran sungai, air danau dan air tanah. Pencampuran ini termobilisasi dalam bentuk lahar yang menuruni lereng gunung dengan kecepatan hingga 35 kilometer per jam dalam debit yang sangat besar, 1000 meter kubik per sekon, cukup untuk menghanyutkan rumah, kendaraan, dan harta benda yang dilaluinya. Secara umum, fenomena ini menghadirkan ancaman bagi sekitar 100.000 orang yang hidup di sekitar daerah Gunung Pinatubo.
 


Menurut catatan statistik, peristiwa letusan besar Pinatubo 1991 menyebabkan korban jiwa sebanyak 800 orang yang umumnya disebabkan reruntuhan rumah-rumah yang tertimpa abu volkanik basah. Kerugian ekonomi terhitung mencapai 8 miliar peso atau hampir sekitar 2 triliun rupiah. Selain itu, 2.1 juta penduduk Filipina mengalami kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian. Hutan-hutan seluas 150 km persegi mengalami kerusakan parah dan sekitar 800 km persegi lahan pertanian mengalami gagal panen. 


Dari tulisan ini, sesungguhnya telah tergambarkan berbagai dampak dari erupsi gunung Pinatubo pada tahun 1991. Mulai dari dampak langsung yang dirasakan oleh penduduk yang bermukim di sekitar lereng gunung, hingga penduduk dunia lainnya melalui perubahan iklim yang ditimbulkannya. Mitigasi bencana alam sangat berperan dalam mengurangi berbagai dampak yang dapat ditimbulkan, bukan hanya pada peristiwa erupsi pinatubo, tapi juga untuk bencana-bencana alam lainnya, karena manusia tidak dapat mencegah terjadinya bencana alam tapi hanya dapat mengurangi berbagai resiko yang ditimbulkan melalui tindakan-tindakan mitigasi yang tepat.
 
( Riddar Kurnia dan Chris Nelson disarikan dari berbagai sumber )

0 comments:

Poskan Komentar