geografi lingkungan

Khoirunnas anfa'uhum linnas

Rabu, 11 Juli 2012

GEMPA ACEH, Mengungkap "Pelajaran Baru" di Sumatera


Sumatera selalu memberi kejutan. Setelah rentetan gempa besar yang diawali pada 26 Desember 2004 di Aceh, mata semua peneliti terpaku pada pergerakan di zona penunjaman. Gempa Rabu (11/4) lalu telah membuka pemahaman baru tentang perilaku sistem gempa di Sumatera yang rumit.
Ketika para ahli berkali- kali mengingatkan ancaman gempa di segmen subduksi (megathrust) Siberut, ternyata gempa muncul di lokasi yang tak terduga. Gempa itu muncul di lempeng (samudra) Indo-Australia, di luar zona subduksi.


”Di Sumatera gempa di luar subduksi amat jarang terjadi. Terakhir terjadi di lokasi itu tahun 2001,” kata Danny Hilman, ahli gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Menurut Irwan Meilano dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, hampir semua gempa besar di Sumatera terjadi di zona subduksi. ”Gempa besar yang bersumber di sesar aktif di daratan Sumatera hanya sedikit, antara lain gempa Singkarak (2007) dan gempa Liwa (1994),” ujarnya.

Menurut Irwan, gempa Rabu lalu adalah jenis gempa yang lain dari jenis gempa yang selama ini menjadi obyek penelitian di Indonesia. ”Selama ini yang kami amati adalah gempa subduksi dan gempa pada sesar aktif karena keduanya bisa mudah diamati,” katanya.

Di Sumatera terdapat sesar aktif terbesar kedua setelah sesar San Andreas di Amerika. Sesar ini membelah Pulau Sumatera sepanjang 1.650 km dari Teluk Semangko hingga Aceh. Garis patahan itu muncul di Pulau Sumatera lewat Teluk Semangko dari kedalaman Selat Sunda.
Arah gerak Lempeng Indo Australia dan Eurasia membentuk Sesar
Di sepanjang garis inilah, kulit bumi retak. Satu sisi dengan sisi lainnya bergerak horizontal. Lempeng bumi di bagian barat patahan Sumatera bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan 10 mm sampai 30 mm per tahun relatif terhadap bagian di sebelah timurnya. Pergerakan ini dipicu tumbukan antarlempeng di zona penunjaman.

Menurut catatan Danny, sejak tahun 1890, sudah terjadi sedikitnya 21 gempa besar di sepanjang Patahan ”Besar” Sumatera. Artinya, patahan berpotensi melepaskan satu hingga dua kali gempa besar tiap dekade.

Beberapa gempa besar terakhir di antaranya gempa berkekuatan 6,9 skala Richter di Liwa tahun 1994, gempa Kerinci berkekuatan 7 skala Richter tahun 1995, gempa Singkarak-Solok berkekuatan 6,4 skala Richter pada 6 Maret 2007, dan gempa Kerinci berkekuatan 7 skala Richter tahun 2009. Irwan menambahkan, periodisasi gempa di Sumatera mengacu kepada gempa-gempa di zona subduksi.

Percepat pergerakan
Gempa terjadi akibat lepasnya stres (tekanan) pada bidang zona subduksi atau pada sesar. Stres terjadi akibat terjadinya tumbukan antara dua lempeng yang memiliki kecepatan yang berbeda dan arah penunjaman berbeda.


Ilustrasi Pergerakan sesar di barat Sumatra
”Lempeng di bawah Pulau Jawa lebih tua dibandingkan lempeng di bawah Pulau Sumatera akibatnya kecepatan pergerakan lempeng di bagian utara lebih lambat dibandingkan kecepatan lempeng di bagian selatan,” kata Irwan.

Ia menjelaskan, dari kekuatan gempa atau magnitudo gempa serta pantauan gerakan di daratan, bisa diperhitungkan akumulasi tekanan pada sumber gempa. Akumulasi tekanan per tahun bisa dihitung.

”Dengan demikian bisa diperkirakan kapan tekanan yang bisa memicu gempa akan terakumulasi,” ujarnya. Akumulasi tekanan (stres) bersifat linier, dan prakiraan periodisasi gempa didasarkan pada perhitungan itu.

”Menurut perhitungan, zona subduksi di Mentawai bagian utara (Siberut) seharusnya sudah ’pecah’, tetapi ternyata sampai sekarang belum,” ujar Irwan. Menurut dia, Mentawai bagian utara dan bagian selatan pernah ”pecah” bersamaan pada 1833 dengan magnitudo 8,9.

Senada dengan itu, Widjo Kongko, peneliti di Tsunami Research Group Balai Pengkajian Dinamika Pantai (BPDP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengatakan, gempa yang terjadi Rabu telah meruntuhkan zona patahan di lempeng (samudra) Hindia-Australia sepanjang 500 kilometer.

”Gempa ini pasti akan memberi tambahan tekanan ke zona subduksi (megathrust) di bawah Siberut,” katanya. ”Kami khawatir ini akan mempercepat terjadinya gempa besar di zona subduksi.”

Sejalan dengan itu, Irwan mengungkapkan, ”Ketika terjadi gempa, ada tekanan yang lepas. Tekanan yang lepas itu memberi tambahan stres secara tiba-tiba pada sistem lain. Akibat adanya tambahan tekanan, periode gempa pada zona tertentu bisa dipercepat. Gempa Rabu melahirkan stres tambahan seperti itu pada lempeng di dekatnya.”

Widjo mengatakan, percepatan itu bisa memicu gempa dari zona subduksi di Siberut yang kekuatannya bisa mencapai 8,9 skala Richter. Dengan magnitudo sebesar itu, gempa itu berpotensi menimbulkan tsunami besar hingga ke Padang.

Menurut Irwan, konsep penambahan tekanan ada dua, yaitu tekanan dinamis (dynamic stress) dan tekanan statis (static stress). Tekanan dinamis bersifat bergerak terus, berlangsung hingga jarak amat jauh, dan pada umumnya menyebabkan gempa berkekuatan 6 skala Richter. Sementara stres statis lebih besar dan berlangsung pada area yang lebih kecil, orientasi gerak amat berpengaruh.

”Jika tambahan stres ini bersifat statis, bisa memicu gempa di Mentawai bagian utara,” kata Irwan.

Di sisi lain, fakta terjadinya dua gempa pada Rabu, pukul 15.38 WIB (8,5 skala Richter) dan pukul 17.43 WIB (8,8 skala Richter), yang keduanya terjadi di lempeng samudra Indo-Australia, diakui merupakan kejadian yang langka.

Irwan mengatakan, ”Kita sekarang tidak boleh merasa sudah aman karena itu tidak riil. Ternyata masih banyak mekanisme, yang selama ini tak pernah terjadi, tetapi ternyata ada. Pengetahuan kami masih amat terbatas. Untuk itu dibutuhkan penelitian yang lebih banyak dan lebih luas lagi.” (Kompas, 13 April 2012/ humasristek)

0 comments:

Poskan Komentar