geografi lingkungan

Khoirunnas anfa'uhum linnas

Kamis, 06 Desember 2012

Global Warming and Coral Bleaching



FENOMENA GLOBAL WARMING (PEMANASAN GLOBAL)
Bumi merupakan salah satu planet dalam gugusan tata surya Bimasakti yang terlindungi oleh lapisan-lapisan atmosfer yang tersusun dari berbagai jenis gas. Dijelaskan dalam beberapa literature bahwa atmosfer ini menyelimuti bumi hingga sampai ketinggian ± 700 km di atas permukaan tanah. Atmosfer bumi tersusun oleh beberapa lapisan, yaitu lapisan troposfer, stratosfer, mesosfer, thermosfer, dan eksosfer. Dan juga tersusun dari berbagai jenis gas, diantaranya adalah :


Gambar 1. Komposisi gas-gas penyusun di dalam atmosfer.

Keberadaan atmosfer sangatlah penting bagi kehidupan di bumi karena fungsinya yang melindungi bumi dari berbagai benda langit serta radiasi sinar matahari yang berbahaya sehingga suhu bumi dapat terjaga agar cukup stabil dan aman untuk dapat ditinggali oleh mahkluk hidup di dalamnya. Secara sederhana, lapisan atmosfer dapat diilustrasikan seperti gambar di bawah.

Gambar 2 . Skema tingkatan lapisan atmosfer.

Betapa pentingnya permasalahan atmosfer ini hingga kemudian kini menjadi perbincangan oleh banyak kalangan, khususnya para pemerhati lingkungan. Hal tersebut terjadi dikarenakan munculnya beberapa fenomena alam yang terjadi dalam beberapa dekade ini. Beberapa contoh kasus terkait dengan atmosfer adalah fenomena global warming (pemanasan global) yang terjadi hampir merata di seluruh dunia. Pemanasan global atau Global Warming adalah proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi.

Berdasarkan pengamatan selama 157 tahun terakhir menunjukkan suhu permukaan bumi yang mengalami peningkatan sebesar 0.05 °C per dekade. Selama 25 tahun terakhir peningkatan suhu semakin tajam, yaitu sebesar 0.18 °C per dekade (lihat grafik).
 

Pemanasan global ini terjadi karena diakibatkan oleh aktifitas manusia yang berlebihan sehingga menyebabkan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (gas dalam atmosfer) yang menimbulkan efek rumah kaca.

Gambar 3 . Grafik yang menunjukkan peningkatan temperatur air
per 20 tahunan.

Pemakaian bahan bakar fosil yang berlebihan, rumah-rumah peternakan yang tidak ramah lingkungan, penebangan hutan yang berlebihan, dan lain sebagainya merupakan beberapa aktifitas manusia yang menyebabkan terjadinya peningkatan efek rumah kaca. Efek gas rumah kaca ini terjadi karena gas CO2 dan CH4 yang berlebihan di atmosfer yang menahan radiasi matahari yang dipantulan dari bumi sehingga panas yang dipantulkan oleh bumi tidak dapat keluar dari atmosfer. Inilah yang menyebabkan panas tetap berada di dalam bumi dan kemudian menimbulkan peningkatan suhu bumi secara kontinu. Untuk memperjelas dapat memperhatikan gambar berikut :

Gambar 4 . Konsep terjadinya efek gas rumah kaca.

Ternyata permasalahan tidak hanya sampai di situ, sebab gejala efek gas rumah kaca ini juga menyebabkan suatu 'efek domino'. Efek lanjutan yang diakibatkan antara lain dapat diamati melalui fenomena alam akan pencairannya glestser-gletser dikutub secara besar-besaran.

Pencairan gletser-gletser ini ternyata menimbulkan kenaikan muka air laut (sea level rise) secara luas, bahkan dampaknya sudah sangat memprihatinkan. Hal ini terjadi karena meningkatnya volume air yang menuju ke laut, baik karena pencairan gletser, aliran sungai ke laut, atau curah hujan yang tinggi secara terus-menerus, Berdasarkan data hasil pengamatan mengatakan bahwa dalam 10 tahun terakhir permukaan laut meningkat setinggi 0.1 m hingga 0.3 meter, sedangkan melalui model prediksi diperkirakan ada perubahan antara 0.3 hingga 0.5 meter, dan kemungkinan akan menutupi area seluas satu juta kilometer persegi (km2). Sehingga dampak nyata dan paling mengancam dari fenomena global warming ini adalah terjadinya penaikan muka air laut (sea level rise) yang oleh para pengamat diprediksi akan mengancam kehidupan pesisir dan pulau-pulau kecil, termasuk kehidupan terumbu karang di perairan pesisir. 

FENOMENA CORAL BLEACHING (PEMUTIHAN KARANG)
Pada dasarnya banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya kerusakan karang, baik faktor yang bersifat alami seperti pemanasan global, cyclone, dan tsunami, ataupun yang bersifat buatan yang disebabkan oleh aktifitas manusia yang tidak benar, seperti penggunaan potassium dan bom ikan dalam menangkap ikan. Namun selain penyebab-penyebab di atas, perubahan iklim akibat pemanasan global yang terjadi secara signifikan dalam kurun waktu dasawarsa ini membawa dampak yang sangat berarti terhadap sumber daya kelautan dan perikanan , termasuk terumbu karang.
Terumbu karang sendiri merupakan sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis alga laut yang dikenal sebagai zooxanthellae yang kemudian berkembang dan membentuk suatu koloni terumbu karang. Koloni ini terbentuk dari ratusan bahkan ribuan hewan kecil yang juga dikenal dengan nama polip

Gambar 5 . Proses pertumbuhan polip hingga menjadi
karang yang bercabang.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberlangsungan pertumbuhan polip kecil adalah suhu, salinitas, cahaya dan kedalaman, tingkat kecerahan, serta dinamika arus dan gelombang yang diterimanya. Jika factor-factor di atas sesuai dengan standart yang diperlukan bagi pertumbuhan polip kecil maka koloni tersebut akan tumbuh dengan baik.

Namun, dampak yang terjadi akibat fenomena pemanasan global yang sudah dijelaskan di atas telah mengakibatkan terjadinya perubahan yang sangat mengkhawatirkan terhadap factor-faktor penunjang kebutuhan hidup suatu karang. Sebut saja suhu, akibat efek gas rumah kaca yang menyebabkan penaikan temperatur bumi secara berkala sehingga suhu air laut, khususnya di permukaan, juga ikut meningkat. Dengan meningkatnya temperatur air laut maka mengakibatkan zooxanthellae yang merupakan nutrisi penting yang dibutuhkan karang semakin berkurang. Dan dengan peningkatan suhu perairan, maka terumbu karang di laut tropis akan mengalami pemutihan , dimana pada tahun 1998 antara 10% hingga 15% terumbu karang dunia mengalami kematian yang berdampak lanjut hingga saat ini sekitar 15% dari karang dunia rusak setiap tahun.
 

Dan karang-karang yang mengalami pemutihan tersebut dinamakan coral bleaching. Jika hal tersebut tetap dan terus berlangsung maka karang yang mengalami pemutihan tadi akan menjadi karang mati atau death coral.
 
Gambar 6. Fenomena pemutihan karang (coral bleaching)
akibat pemanasan global.

Dalam kasus lain seperti naiknya muka air laut atau sea level rise, ternyata juga membawa dampak buruk terhadap ekosistem terumbu karang. Kenaikan muka air ini dikarenakan volume air yang sangat besar yang menuju ke laut, baik yang berasal dari pencairan gletser, aliran sungai yang menuju ke laut, serta curah hujan yang tinggi di laut. Peningkatan muka air inilah yang menjadi ancaman sirius bagi kehidupan terumbu karang. Sebab karang merupakan salah satu organisme pelagic yang sangat sensitif terhadap perubahan, seperti perubahan kedalaman, maka sedikit perubahan muka air laut saja akan menimbulkan perubahan kondisi pula. Terumbu karang tidak dapat hidup dengan baik dalam perairan yang terlalu dangkal maupun perairan yang terlalu dalam. Maka dari itu jika terjadinya kenaikan muka air adalah masalah bagi kelanjutan hidup terumbu karang.
Gambar 7. Pemutihan karang secara massal akibat
kenaikan suhu dan muka air laut.

Dampak lainnya yang disebabkan oleh pemanasan global adalah curah hujan yang tinggi di daerah tropis yang mengakibatkan debit air yang berlebihan menuju ke laut. Aliran air hujan yang menuju ke laut ini juga membawa sedimen dan limbah berbahaya yang berpotensi mencemari perairan di wilayah-wilayah pesisir. Aliran air yang membawa sedimen berupa lumpur dan pasir dalam jumlah besar selain mencemari perairan pesisr juga mampu membunuh terumbu karang di sekitarnya. Hal tersebut dapat terjadi karena butiran-butiran sedimen akan menutup mulut-mulut polip yang menempel dikarang sehingga polip tidak akan mendapat nutrisi secara optimal dan hal tersebut akan mengakibatkan karang kekurangan nutrisi dan menjadi mati.

Lumpur dan limbah yang terbawa oleh air hujan atau dari sungai tersebut juga mampu membuat perairan pesisir menjadi keruh dan kotor. Jika hal tersebut terjadi maka sinar matahari tidak akan bisa masuk kedalam laut. Padahal sinar matahari merupakan salah satu nutrisi yang dibutuhkan terumbu karang untuk dapat melakukan fotosintesis agar karang dapat berkembang. Jika tingkat kecerahan menurun dan intensitas matahari yang diterima oleh terumbu karang berkurang maka karang akan mengalami ganguan pertumbuhan dan akan terjadi pemutihan atau bleaching.

Efek lain yang ditimbulkan oleh pemanasan global adalah perubahan iklim yang sangat signifikan. Perubahan iklim ini terjadi dikarenakan adanya perubahan sistem sirkulasi laut secara global yang lebih dikenal dengan istilah Great Ocean Conveyor Belt (Sabuk Arus Laut Dalam). Dimana dalam sistem ini arus mengangkut sejumlah besar panas dan garam di sekitar bumi melalui arus permukaan laut yang hangat dan arus dalam yang lebih dingin, dimana sistem inilah yang sangat berperan penting dalam menentukan iklim di bumi. Karena terjadi perubahan dinamika arus maka iklim pun juga menjadi berubah-ubah tanpa dapat diprediksi secara tepat. Perubahan iklim ini kemudian berimbas terhadap munculnya badai-badai di laut seperti Cyclone, Typhoon, serta El Nino dan La Nina. Terjadinya badai tersebut mengakibatkan gelombang-gelombang tinggi yang kemudian diikuti dengan pergerakan arus yang semakin kencang sehingga membuat karang-karang terhempas dari mediumnya. Jika hal ini terus terjadi maka gugusan terumbu karang akan mengalami kerusakan dan akan mengakibatkan terjadinya pemutihan karang.

Peningkatan suhu air laut, kenaikan muka air laut, pencemaran wilayah pesisir, dan pergerakan air laut yang semakin ekstrim merupakan sedikt dampak yang ditimbulkan oleh fenomena pemasanan global diseluruh permukaan bumi. Dan hal ini kemudian menjadi bencana terhadap kondisi-kondisi kehidupan di dalamnya, termasuk ekosistem terumbu karang. Coral Bleaching merupakan dampak yang diakibatkan oleh efek pemanasan global dan ini dapat merugikan kehidupan sekarang maupun yang akan dapat. 

Gambar 8. Salah satu jenis terumbu karang yang
mengalami bleaching.

KESIMPULAN

Dari uraian yang sudah dijelaskan di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan terkait permasalahan Global Warming ini, di antaranya adalah :
  1. Keberadaan gas rumah kaca yang menyelimuti bumi ini adalah sebagai pelindung dari radiasi pendek sinar matahari serta penjaga agar suhu permukaan tetap stabil untuk dapat ditinggali makhluk hidup.
  2. Pemakaian bahan bakar fosil secara berlebihan yang mengakibatkan emisi karbondioksida yang terlalu tinggi menimbulkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer semakin tinggi pula. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya efek gas rumah kaca.
  3. Efek gas rumah kaca ternyata berdampak terjadinya berbagai macam fenomena alam yang mengkhawatirkan, seperti pencairan gletser-gletser di kutub, pemutihan karang secara masiv, terjadinya El Nino dan La Nina, serta bencana-bencana lainnya.
  4. Fenomena coral bleaching dan death coral terjadi dikarenakan adanya peningkatan temperature air laut, sea level rise, pencemaran wilayah pesisir, gelombang tinggi dan arus yang kencang, serta pencemaran wilayah pesisir, gelombang tinggi dan arus yang kencang, serta cyclone dan typhoon.
  5. Kerusakan karang akibat coral bleaching akan berdampak menurunnya populasi perikanan yang berimbas terhadap kerugian sektor perekonomian dan perikanan.
SARAN
Beberapa saran yang perlu diberikan dalam menanggapi permasalahan ini antara lain adalah :
  1. Hendaklah setiap individu, masyarakat, dan negara mempunyai kesadaran diri untuk ikut serta dalam mengurangi emisi gas CO2 dan CH4.
  2. Program 4R hendaknya dilakukan secara menyeluruh agar lingkungan tetap terjaga kelestariannya. (Reduce, Reuse, Recycle, and Replant)
  3. Pelestarian dan pemulihan terumbu karang merupakan kewajiban bagi seluruh elemen masyarakat secara luas karena terumbu karang juga merupakan tumbuhan laut yang dapat menyerap gas CO2 dan memproduksi O2 yang bermanfaat bagi kehidupan.
  4. Negara bersama masyarakat berkewajiban ikut andil dalam mengurangi dampak pemanasan global, termasuk kegiatan-kegiatan melindungi dan memulihkan terumbu karang, untuk kelangsungan hidup generasi masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
  1. Freddy Numberi.2009. Perubahan Iklim,Iimplikasi Terhadap Kehidupan di Laut, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil. Jakarta: Citrakreasi Indonesia.
  2. Muhammad Bakhtiar. 2007. Pengaruh Negatif Pamanasan Global bagi Kelangsungan Hidup Ekosistem Terumbu Karang. Jatinangor : UnPad.
DAFTAR GAMBAR
  1. http://ozon-crisis.blogspot.com/ (26-03-2011)
  2. http://www.kelautankita.blogspot.com/
    Rachmat Witoelar, Ketua Harian DNPI (Dewan Nasional Perubahan Iklim), menegaskan bahwa dampak negatif perubahan iklim semakin nyata dan terbukti telah menerpa di Indonesia.  Bukti dan dampak negatif tersebut telah disampaikan melalui the Indonesia Country Report on Climate Variability and Climate Change yang disusun oleh para ahli dari berbagai sektor dan institusi terkait, yang berisi ulasan analitis mengenai dampak perubahan iklim di Indonesia.

    Bukti-bukti tersebut sesuai dengan hasil kajian secara global yang dilakukan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).  Menurutnya, dampak-dampak tersebut memiliki tantangan terhadap pembangunan dalam aspek lingkungan sosial dan ekonomi secara berkelanjutan, serta terhadap pencapaian tujuan pembangungan Indonesia.
    Sementara itu, Håkan Björkman, Country Director UNDP Indonesia, mengatakan bahwa perubahan iklim mengacam usaha penanggulangan kemiskinan di Indonesia dan pencapaian Target Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals – MDGs). Perubahan pola curah hujan akan mengurangi ketersediaan air untuk irigasi dan sumber air bersih. Kemarau panjang dan banjir akan menyebabkan gagal panen yang sangat berpengaruh terhadap sumber penghidupan petani. Perubahan iklim akan paling mempengaruhi orang miskin dan kelompok rentan lainnya yang bekerja pada bidang-bidang pertanian, wilayah pesisir, sekitar hutan, serta wilayah perkotaan.
    Perubahan iklim mengancam berbagai upaya Indonesia untuk memerangi kemiskinan. Dampaknya dapat memperparah berbagai risiko dan kerentanan yang dihadapi oleh rakyat miskin, serta menambah beban persoalan yang sudah di luar kemampuan mereka untuk menghadapinya. Dengan demikian, perubahan iklim menghambat upaya orang miskin untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi diri sendiri dan keluarga mereka.
    Dalam laporannya, Sisi Lain Perubahan Iklim  (2007), UNDP Indonesia menyebutkan, pengaruh perubahan iklim lebih berat menimpa masyarakat paling miskin. Banyak di antara mereka mencari nafkah di bidang pertanian atau perikanan sehingga sumber-sumber pendapatan mereka sangat dipengaruhi oleh iklim. Apakah itu di perkotaan ataukah di pedesaan mereka pun umumnya tinggal di daerah pinggiran yang rentan terhadap kemarau panjang, misalnya, atau terhadap banjir dan longsor. Terlalu banyak atau terlalu sedikit air merupakan ancaman utama perubahan iklim. Dan ketika bencana melanda mereka nyaris tidak memiliki apapun untuk menghadapinya.
    Global Humanitarian Forum di London, Inggris, pada bulan Mei 2009 telah melansir sebuah laporan yang diklaim sebagai laporan pertama mengenai dampak perubahan iklim terhadap manusia secara global. Laporan tersebut menyebutkan bahwa perubahan iklim global telah menewaskan 300.000 jiwa setiap tahunnya. Kerugian yang ditimbulkan mencapai 125 miliar dollar Amerika Serikat. Disebutkan pula bahwa 325 juta jiwa kaum miskin adalah yang paling menderita.
    Menurut Panel Ahli Antar pemerintah untuk Perubahan Iklim atau IPCC (2007), kenaikan suhu 2 derajat Celsius akan menurunkan produksi pertanian Cina dan Bangladesh sebesar tiga puluh persen pada 2050.  IPCC (2007) membuat dua skenario penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) hingga tahun 2030. Pertama, suhu rata-rata global naik 2-2,4 derajat Celsius. Ini dicapai dengan menstabilkan konsentrasi GRK pada tingkat 445-490 ppm. Kedua, kenaikan suhu rata-rata 3,2-4 derajat Celsius dengan menjaga konsentrasi GRK antara 590-710 ppm. Skenario pertama mustahil dicapai, karena tingkat GRK pada 2005 sudah 400-515 ppm.
    Perpaduan antara meningkatnya suhu rata-rata, siklus hidrologi yang terganggu sehingga menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan musim hujan yang lebih intensif namun lebih pendek, meningkatnya siklus anomali musim kering dan hujan serta berkurangnya kelembaban tanah akan menganggu sektor pertanian.  Termasuk di Indonesia, para petani telah merasakan ketidak teraturan iklim yang mengacaukan pola tanam mereka.
    Curah hujan di beberapa wilayah di Indonesia diprediksikan akan meningkat sekitar 2-3 persen per tahun. Di Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian Sulawesi, Maluku dan Papua curah hujan akan berkurang. Kecenderungan yang akan terjadi adalah musim kemarau lebih panjang. Khusus di Pulau Jawa, perubahan musim akan sangat ekstrem dimana musim hujan akan menjadi sangat basah dan musim kering akan menjadi sangat kering dan lebih panjang. Hal ini menyebabkan Jawa menjadi rawan banjir dan kekeringan. (BMKG, 2009).
    Dalam beberapa tahun ini para petani di desa-desa di pulau Jawa sudah membicarakan mengenai musim yang tidak normal. Kearifan kuno petani padi mengenai urut-urutan musim tanam, pranata mangsa di Jawa, Palontara di Sulawesi Selatan, dan banyak kearifan lainnya sudah dikacaukan oleh perubahan iklim. Di sebagian besar wilayah di Sumatera selama kurun waktu 1960-1990 dan 1991-2003, awal musim hujan kini menjadi terlambat 10 hingga 20 hari dan awal kemarau menjadi terlambat 10 hingga 60 hari.
    Berbagai pergeseran serupa juga sudah dirasakan di pulau Jawa. Pola-pola ini berpeluang untuk berlanjut. Di masa akan datang, sebagian wilayah Indonesia, terutama wilayah yang terletak di sebelah selatan katulistiwa, dapat mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan musim hujan yang lebih pendek tetapi dengan curah yang lebih tinggi dengan tipe perubahan berpola. Di samping itu, iklim juga kemungkinan akan menjadi makin berubah-ubah,dengan makin seringnya curah hujan yang tidak menentu. Suhu yang lebih tinggi juga dapat mengeringkan tanah, mengurangi sumber air tanah, mendegradasi lahan, dan dalam beberapa kasus dapat mengakibatkan penggurunan.
    Perubahan iklim akan mempengaruhi hasil panen yang kemungkinan besar akan berkurang disebabkan oleh semakin keringnya lahan akibat musim kemarau yang lebih panjang. Pada skala yang ekstrem, berkurangnya hasil panen dapat mengancam ketahanan pangan. Selain itu, kebutuhan irigasi pertanian juga akan semakin meningkat namun disaat yang sama terjadi kekurangan air bersih karena mencairnya es di kutub yang menyebabkan berkurangnya cadangan air bersih dunia. Hal ini dapat berujung pada kegagalan panen berkepanjangan yang juga menyebabkan pasokan pangan menjadi sangat tidak pasti.
    Dampak perubahan iklim memang tengah terjadi dan dirasakah oleh masyarakat dunia. Masalahnya, dampak itu tidak dibagi secara merata. Rakyat miskin dan negara-negara miskin paling menderita karena rendahnya daya adaptasi dan ketergantungan hidup mereka pada sumber daya alam yang rentan perubahan iklim. Petani dan nelayan, termasuk dua pihak yang paling menderita. Perubahan iklim menimbulkan periode musim hujan dan musim kemarau semakin kacau, ketegangan konsumsi air untuk pertanian dan industri akan kian meningkat. Tidak hanya produksi pangan menurun, pada saat yang sama, petani akan jatuh miskin, tenaga kerja sektor pertanian menganggur, dan jumlah penganggur meningkat. Arus urbanisasi tidak terbendung lagi. Ini akan membiakkan kerawanan sosial dan masalah baru di kota. Yang paling mencemaskan adalah rapuhnya kedaulatan pangan, lalu kita bergantung pada pangan impor yang menguras devisa.
    Pewarisan Kemiskinan di Desa Hutan
    CIFOR menyebutkan, hutan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan dan masyarakat secara keseluruhan.  Menurut Bank Dunia, lebih dari satu milyar orang sangat tergantung pada hutan sebagai sumber kehidupan mereka.  Ratusan juta manusia juga bergantung pada bahan obat-obatan tradisional yang berasal dari tumbuhan hutan.
    Di Indonesia, masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan, sebagian besar merupakan kelompok masyarakat miskin yang kehidupannya sangat tergantung pada aksesibilitasnya terhadap kawasan hutan.  Alur sepanjang batas hutan, khususnya di Jawa dan Madura, dikenal sebagai lumbung kemiskinan yang kemudian oleh sebagian orang dianggap sebagai ‘ancaman’ bagi kelestarian hutan disekitarnya.
    Kemiskinan yang melingkupi masyarakat desa hutan nyaris menjadi suatu pemandangan umum sepanjang masa.  Pasalnya, kemiskinan ini kemudian ‘diwariskan’ pada generasi berikutnya karena ketidakberdayaan untuk merubah kesejahteraannya.  Kemiskinan itu menyebabkan sumberdaya manusia desa hutan, khususnya komunitas generasi muda, tidak memiliki bekal cukup untuk bersaing dengan komunitas lainnya.  Pendidikan dan kesehatan menjadi kendala umum sebagai akibat dari kecilnya pendapatan masyarakat desa hutan.  Padahal pada satu sisi, kondisi geografis tempat tinggalnya menyebabkan masyarakat desa hutan harus menanggung biaya hidup yang lebih tinggi, harga sembilan bahan pokok menjadi lebih mahal karena faktor transportasi.
    Pola pewarisan kemiskinan tersebut akan semakin menguat dan langgeng dengan adanya ancaman perubahan iklim.  Pasalnya, semua dampak dari perubahan iklim tersebut akan semakin memberatkan kehidupan masyarakat desa hutan.  Menurunnya pendapatan keluarga tani karena usaha taninya merugi, akan diikuti oleh menurunnya daya beli dan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup minimum lainnya seperti pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan, yang berujung pada menurunnya kualitas hidup dan tingkat kesejahteraannya. Termasuk, tidak mampu mewariskan kehidupan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.
    Berdasarkan data Identifikasi Desa di Dalam dan di Sekitar Kawasan Hutan (2009), di Jawa dan Madura terdapat 4.614 desa hutan (18,54 % dari seluruh desa yang ada di P Jawa Madura minus DKI Jakarta). Sebanyak 366 desa berada di dalam kawasan hutan dan 4.248 desa yang berbatasan langsung dengan hutan (Kementrian kehutanan menyebutnya berada di tepi kawasan hutan).   Sebesar 12,61 persen jumlah penduduk Jawa Madura (12,81 persen jumlah KK), tinggal di desa hutan dengan menempati areal seluas 4.186.892 hektar.
    Data yang dikeluarkan oleh Kementrian Kehutanan RI tersebut menyebutkan, 99,45 persen  desa hutan yang berada di dalam kawasan hutan dan 97,08 persen desa hutan yang berada di tepi kawasan hutan, sumber penghasilan utama masyarakatnya adalah pertanian.  Dan, 90,66 persen dari usaha tani yang menjadi sumber pendapatan utama keluarganya itu merupakan usaha tani tanaman pangan.  Data ini dengan jelas menunjukan bahwa masyarakat desa hutan adalah petani gurem yang tidak memiliki lahan pertanian dan menggantungkan seluruh hidupnya dari usaha pertanian.   Sektor kehutanan sendiri hanya dijadikan sumber penghasilan utama oleh kurang dari 1 persen masyarakat desa hutan di Jawa dan Madura.
    Data statistik itu pun dengan jelas memberikan gambaran betapa masyarakat desa hutan akan menjadi semakin miskin dan terancam kehidupannya, bila dugaan para pakar perubahan iklim benar adanya.  Lebih dari 90 persen masyarakat desa hutan di Jawa dan Madura ini tidak dapat lagi menggantungkan hidupnya dari pertanian.  Jika demikian, maka ancaman lainnya – yang semoga saja disadari oleh para pemangku kepentingan, khususnya pengelola hutan negara di Jawa dan Madura – akan semakin memperparah dampak perubahan iklim tersebut.  Ancaman semakin meluasnya deforestasi dan degradasi hutan di tingkat akar rumput, konflik tenurial dan pelanggaran hukum serta konflik-konflik lainnya yang terjadi karena dorongan pemenuhan kebutuhan hidupnya.
    Sayang sekali, sampai saat ini para pemangku kepentingan yang terkait dengan isyu perubahan iklim ini, belum secara nyata serius mengantisipasi dan memberikan perhatian penuh kepada masyarakat desa hutan.
    Terkait dengan hal tersebut, pada tataran nasional, khususnya terkait dengan perubahan iklim di Indonesia, banyak pihak tidak menyadari bahwa masyarakat desa hutan memiliki posisi yang sangat strategis.  Ilmuwan memperkirakan bahwa emisi yang ditimbulkan oleh deforestasi dan degradasi hutan mencapai sekitar 20 % dari seluruh emisi gas rumah kaca (GRK) per tahun.  Jumlah ini lebih besar dari emisi yang dikeluarkan oleh sektor transportasi secara global.  Dan, fakta menunjukan adanya korelasi antara kemiskinan masyarakat desa hutan dengan praktik illegal logging yang terjadi.
    Benar kiranya pendapat para ahli bahwa upaya pengurangan emisi carbon dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD) tidak akan effektif tanpa keseriusan melibatkan masyarakat desa hutan dalam implementasinya. Tidaklah berlebihan jika saya katakan bahwa, upaya serius untuk melakukan pemberdayaan masyarakat desa hutan, khususnya kelompok perempuan dan taruna desa hutan, tidak saja digolongkan sebagai upaya untuk menanggulangi kemiskinan di sepanjang batas hutan, namun juga termasuk salah satu bentuk usaha mengurangi emisi karbon (mitigasi) melalui pencegahan illegal loging serta peningkatan penyerapan dan penyimpanan karbon oleh ekosistem hutan.  Upaya ini sering disebut sebagai REDD (Reducing emissions from deforestation and forest degradation) atau pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan.
    Dalam upaya mewujudkan hal tersebut, maka Komunitas Masyarakat Desa Hutan perlu didorong untuk dapat berperan aktif dan terdepan dalam 3 pilar aktivitas, yaitu :

    1. Pengembangan sumberdaya manusia masyarakat desa hutan, melalui pendidikan dan pelatihan.
    2. Pengembangan ekonomi kreatif desa hutan melalui penguatan modal dan jejaring pasar.
    3. Propaganda penyadaran perubahan iklim di Indonesia.
    Melalui  3 pilar aktivitas tersebut dan dilakukan sebagai sebuah gerakan yang dapat mewujudkan harapan sekitar 20 juta orang di sepanjang batas untuk terciptanya Hutan Lestari, masyarakat Desa Hutan Sejahtera.

    Perubahan Iklim dan Pemanasan Global
    Pada awal Februari 2007 yang lalu Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) merilis laporan mengenai penjelasan ilmiah, hasil pengamatan dan proyeksi dampak perubahan iklim dunia. Laporan tersebut juga memaparkan sejauh mana kontribusi manusia dalam perubahan iklim tersebut. Tulisan berikut dimaksudkan untuk memberikan gambaran singkat tentang pesan dari laporan tersebut. Untuk mempermudah penyampaian, tulisan ini disajikan dalam bentuk tanya jawab.

    Apakah pengertian iklim? 
    Iklim adalah rata-rata dan variasi temperatur, penguapan, presipitasi dan angin selama periode tertentu yang berkisar dalam hitungan bulan hingga jutaan tahun.
    Apakah perbedaan antara iklim dengan cuaca?
    Secara singkat iklim bisa dikatakan sebagai rata-rata dari cuaca. Bedanya, memperkirakan cuaca untuk jangka waktu lebih dari beberapa hari relatif sangat sulit karena sifat ketidakpastiannya yang tinggi. Sebaliknya, memperkirakan perubahan iklim yang disebabkan oleh perubahan komposisi atmosfer atau faktor-faktor lainnya, secara umum, relatif bisa dilakukan.
    Apa yang mempengaruhi iklim bumi?
    Iklim di bumi sangat dipengaruhi oleh kesetimbangan panas di bumi. Aliran panas dalam sistem iklim di bumi bekerja karena adanya radiasi. Sumber utama radiasi di bumi adalah matahari.
    Bisa dijelaskan bagaimana mekanisme kesetimbangan panas tersebut?
    Dari seluruh radiasi matahari yang menuju ke permukaan bumi, sepertiganya dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh atmosfer dan oleh permukaan bumi (lihat Gambar 1). Pemantulan oleh atmosfer terjadi karena adanya awan dan partikel yang disebut aerosol. Keberadaan salju, es dan gurun memainkan peranan penting dalam memantulkan kembali radiasi matahari yang sampai di permukaan bumi.
    Dua pertiga radiasi