geografi lingkungan

Khoirunnas anfa'uhum linnas

Kamis, 06 Desember 2012

Arus Laut


        Arus laut merupakan pergerakan massa air secara vertikal maupun secara horizontal yang sangat luas yang terjadi di seluruh lautan di dunia. Arus laut dapat juga didefinisikan sebagai pergerakan suatu massa air yang disebabkan oleh tiupan angin secara terus menerus atau dapat juga diakibatkan oleh perbedaan densitas air laut serta gelombang panjang. 
           Gambar 1. Sistem sirkulasi arus laut secara global
Pergerakan massa air laut sendiri terjadi akibat banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti gerakan angin; perbedaan tekanan dan densitas air; efek gaya inersia, coriollis, dan ekman; bentuk topografi dasar laut; dinamika arus permukaan; dan proses upwelling dan downwelling. Beberapa faktor tadi merupakan penyebab secara langsung maupun secara tidak langsung yang mempengaruhi terjadinya pergerakan massa air atau arus laut.

Menurut letaknya, arus di laut dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu arus permukaan yang berada di atas dan arus dalam yang berada di bawah permukaan laut. Arus permukaan terjadi pada beberapa ratus meter dari permukaan laut dan bergerak secara horizontal serta bergerak karena pola sebaran angin. Sedangkan arus dalam bergerak jauh di dasar kolom perairan namun pola angin tidak mempengaruhi secara langsung pergerakan arus ini.
Berdasarkan beberapa literatur-literatur, gerakan massa air laut merupakan resultan dari beberapa gaya yang bekerja terhadap permukaan kolom dan dasar air laut yang kemudian menghasilkan vektor yang memiliki besaran kecepatan dan arah. Secara matematis, gerakan massa air laut dapat dihitung melalui persamaan :
dengan : F  = resultan gaya
                m = massa
                a  = percepatan
 
Sebagaimana diawal, bahwasannya gaya-gaya yang mempengaruhi antara lain adalah gaya gesekan angin, gaya Coriollis, gaya akibat perbedaan tekanan, dan gaya molekuler.
Dari berbagai macam gaya yang bekerja tersebut, gaya dari angin merupakan faktor yang paling bervariasi dan berpengaruh dalam membangkitkan arus laut. Hal ini terjadi karena sistem angin secara global senantiasa tetap berlangsung sepanjang tahun dan tidak akan berhenti. Dari berbagai sumber referensi, angin sendiri dapat didefinisikan sebagai udara yang bergerak akibat rotasi bumi serta adanya perbedaan tekanan yang terjadi disekitarnya. Secara umum angin dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu Angin lokal ( angin darat dan angin laut, angin lembah dan angin gunung, serta angin fohn atau angin jatuh) dan Angin Musim ( angin pasat dan anti-pasat, angin barat dan timur serta angin muson)
Gerakan angin yang terjadi secara periodik dalam jangkauan area tertentu akan berdampak terjadinya suatu pola yang disebut sebagai pola sebaran angin. Sebagai contoh di perairan di wilayah Asia Tenggara, dapat dilihat bahwa terjadi perubahan arah arus laut yang juga disebabkan oleh perubahan arah angin. Peristiwa ini dikenal dengan istilah angin musim (monsoon), dimana arus di perairan Asia Tenggara terjadi pada musim barat dan musim timur. Musim barat terjadi pada bulan Oktober – April, dimana matahari berada pada belahan langit Selatan, sehingga benua Australia lebih banyak memperoleh pemanasan matahari daripada benua Asia.

Akibatnya di Australia terdapat pusat tekanan udara rendah (depresi) sedangkan di Asia terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi (kompresi). Keadaan ini menyebabkan arus angin dari benua Asia ke benua Australia. Di Indonesia angin ini merupakan angin musim Timur Laut di belahan bumi Utara dan angin musim Barat di belahan bumi Selatan. Oleh karena angin ini melewati Samudra Pasifik dan Samudra Hindia maka banyak membawa uap air, sehingga pada umumnya di Indonesia terjadi musim penghujan.

Sedangkan musim timur terjadi pada bulan April-Oktober, dimana matahari berada di belahan langit utara, sehingga benua Asia lebih panas daripada benua Australia. Akibatnya, di Asia terdapat pusat-pusat tekanan udara rendah, sedangkan di Australia terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi yang menyebabkan terjadinya angin dari Australia menuju Asia. Di indonesia terjadi angin musim timur di belahan bumi selatan dan angin musim barat daya di belahan bumi utara. Oleh kerena tidak melewati lautan yang luas maka angin tidak banyak mengandung uap air oleh karena itu pada umumnya di Indonesia terjadi musim kemarau, kecuali pantai barat Sumatera, Sulawesi Tenggara, dan pantai selatan Irian Jaya. Antara kedua musim tersebut ada musim yang disebut musim pancaroba (peralihan).

Selain menimbulkan pergerakan arus secara mendatar, angin juga mengakibatkan terjadinya gerakan massa air secara vertikal. Fenomena tersebut oleh para ahli disebut sebagai peristiwa upwelling dan downwelling (sinking). Fenomena upwelling terjadi karena adanya gerakan naiknya massa air laut dari kedalaman ± 200 m menuju ke permukaan. Sedangkan downwelling atau sinking merupakan gerakan vertical ke bawah dari massa air laut. Pergerakan naik dan turunnya massa air laut tersebut ternyata juga mempengaruhi terjadinya arus laut, khususnya di bagian permukaan dan sedikit di bagian dalam.
         
Gambar 2.  Peristiwa naik dan turunnya massa air laut yang disebut juga
upwelling dan sinking
Di atas merupakan penjelasan secara global mengenai arus laut dan penyebab terjadinya. Dapat disimpulkan arus laut merupakan gerakan massa air, baik horizontal maupun secara vertikal, yang ditimbulkan akibat resultan dari gaya-gaya yang bekerja terhadapnya. Namun gaya dari angin merupakan faktor paling dominan yang mengakibatkan terjadinya pergerakan massa air laut.
Arus air laut adalah pergerakan massa air secara vertikal dan horisontal sehingga menuju keseimbangannya, atau gerakan air yang sangat luas yang terjadi di seluruh lautan dunia. Arus juga merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dikarenakan tiupan angin atau perbedaan densitas atau pergerakan gelombang panjang. Pergerakan arus dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain arah angin, perbedaan tekanan air, perbedaan densitas air, gaya Coriolis dan arus Ekman, topografi dasar laut, arus permukaan, upwellng , downwelling.
Selain angin, arus dipengaruhi oleh paling tidak tiga faktor, yaitu :
  1. Bentuk Topografi dasar lautan dan pulau – pulau yang ada di sekitarnya : Beberapa sistem lautan utama di dunia dibatasi oleh massa daratan dari tiga sisi dan pula oleh arus equatorial counter di sisi yang keempat. Batas – batas ini menghasilkan sistem aliran yang hampir tertutup dan cenderung membuat aliran mengarah dalam suatu bentuk bulatan.
  2. Gaya Coriollis dan arus ekman : Gaya Corriolis memengaruhi aliran massa air, di mana gaya ini akan membelokkan arah mereka dari arah yang lurus. Gaya corriolis juga yangmenyebabkan timbulnya perubahan – perubahan arah arus yang kompleks susunannya yang terjadi sesuai dengan semakin dalamnya kedalaman suatu perairan.
  3. Perbedaan Densitas serta upwelling dan sinking : Perbedaan densitas menyebabkan timbulnya aliran massa air dari laut yang dalam di daerah kutub selatan dan kutub utara ke arah daerah tropik.
Adapun jenis – jenis arus dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu :
  1. Berdasarkan penyebab terjadinya
    Arus ekman : Arus yang dipengaruhi oleh angin.
    Arus termohaline : Arus yang dipengaruhi oleh densitas dan
    gravitasi
    Arus pasut : Arus yang dipengaruhi oleh pasut.
    Arus geostropik : Arus yang dipengaruhi oleh gradien tekanan mendatar dan gaya coriolis.
    Wind driven current : Arus yang dipengaruhi oleh pola pergerakan angin dan terjadi pada lapisan permukaan.
  2. Berdasarkan Kedalaman
    Arus permukaan : Terjadi pada beberapa ratus meter dari permukaan, bergerak dengan arah horizontal dan dipengaruhi oleh pola sebaran angin.
    Arus dalam : Terjadi jauh di dasar kolom perairan, arah pergerakannya tidak dipengaruhi oleh pola sebaran angin dan mambawa massa air dari daerah kutub ke daerah ekuator.
http://www.kelautankita.blogspot.com

0 comments:

Poskan Komentar