geografi lingkungan

Khoirunnas anfa'uhum linnas

Minggu, 14 Juli 2013

Perkembangan Ilmu Geografi




Geografi Klasik

Geografi sudah dikenal sejak zaman Yunani Kuno dan pengetahuan tentang bumi pada masa tersebut masih dipengaruhi oleh Mitologi. Secara lambat laun pengaruh Mitologi mulai berkurang seiring dengan berkembangnya pengaruh ilmu alam sejak abad ke-6 Sebelum Masehi (SM), sehingga corak pengetahuan tentang bumi sejak saat itu mulai mempunyai dasar ilmu alam dan ilmu pasti dan proses penyelidikan tentang bumi dilakukan dengan memakai logika.
Kedudukan Geografi sebagai Ilmu Pengetahuan batasan dan lapangan/objeknya masih dipertentangkan oleh para ahli sampai abad ke-19. Sampai abad ke-19 corak susunan isi Geografi hanya berupa uraian tentang penemuan daerah baru, adat istiadat penduduknya dan gejala serta sifat alam lainnya. Pengumpulan bahan-bahan tersebut belum diarahkan pencarian hubungan antara satu dengan yang lainnya serta mencari penyebab mengapa terjadinya hubungan tersebut serta diuraikan secara Deskriptif.
Pada masa sebelum masehi, pandangan dan paham Geografi dipengaruhi oleh paham Filsafat dan Sejarah. Uraian geografi bersifat sejarah, sedangkan uraian Sejarah bersifat Geografi. Selain itu juga pada masa ini muncul juga tulisan tentang pembuatan peta bumi atau lukisan fisis daerah tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa geografi pada masa ini juga bersifat matematis.
Pada awalnya ruang di muka bumi banyak dikemukakan oleh para pelancong, selain menggambarkan kejadian historis yang dialami oleh mereka, juga diuraikan gejala serta ciri alam dan manusia penghuninya. Para pelancong terutama menguraikan pengalaman mereka ketika menemukan daerah yang berlainan dengan tempat asal mereka.
Tokoh-tokoh yang termasuk dalam kategori Geografi Klasik, adalah :
1. Anaximandros, seorang Yunani yang pada tahun 550 SM membuat peta Bumi.
Ia beranggapan bahwa bumi berbentuk Silinder. Perbandingan panjang Silinder dan garis tengahnya, adalah 3:1. Bagian bumi yang dihuni manusia menurutnya adalah sebuah pulau berbentuk bulat yang muncul dari laut. Karena pendapatnya tersebut, maka peta bumi yang dibuatnya mirip sebuah jamur.
2. Thales (640-548 SM)
Menganggap bahwa bumi ini berbentuk keping Silinder yang terapung di atas air dengan separuh bola hampa di atasnya. Pendapat ini hilang seabad kemudian setelah Parminedes mengemukakan pendapatnya bahwa bumi berbentuk bulat. Kemudian Heraclides (+ 320 SM) berpendapat bahwa bumi berputar pada sumbunya dari barat ke timur. Pada masa itu juga sudah dikenal adanya beberapa zona iklim meski pada waktu itu belum diketahui bahwa kondisi tersebut merupakan akibat dari letak sumbu bumi yang miring.
3. Herodotus (485-425 SM), Ahli filsafat dan sejarah Yunani.
Mengemukakan bahwa hubungan perkembangan masyarakat dengan faktor-faktor geografi di wilayah yang bersangkutan sangat erat. Ia menganjurkan dilakukan penulisan hubungan antara keduanya. Pada tahun 450 SM membuat peta dunia dan membagi dunia menjadi tiga bagian, yaitu : Eropa, Asia, dan Libya (Afrika). Peta Herodotus tersebut sangat sederhana bila dibandingkan dengan peta yang kita kenal sekarang. Berdasarkan pandangannya, di satu pihak ia dianggap sebagai ahli sejarah, sedangkan di lain pihak ia juga dipandang sebagai ahli Geografi. Paham Geografinya bersifat Filosofis. Herodotus juga menulis tentang keadaan alam dan bangsa Mesir.
Berkenaan dengan bentuk bumi, Herodotus mempunyai pandangan bentuk bumi adalah bulatan yang tersusun oleh dua lapis bulanan, yaitu : lapis pertama terdiri dari zat padat dengan air dan lapis kedua yang mengelilingi lapis pertama terdiri dari uap pada lapis bulatan pertama karena pengaruh panas matahari. Peta yang dibuat Herodotus merupakan satu bulatan yang mencakup benua-benua yang dikelilingi lautan.
4. Homerus, penjelajah berkebangsaan Yunani
Banyak menulis tentang keadaan sekitar Laut Tengah sebagai hasil penjelajahannya.
5. Pitheas (340 SM), berasal dari Massilia (Marseile)
Membuat uraian tentang perjalanan dari pantai Eropa ke Inggris.
6. Erastothenes dan Dikaiarchos (276-194 SM),
Melakukan pembuatan jaring-jaring derajat di muka bumi. Berdasarkan pancaran sinar matahari yang jatuh ke permukaan bumi, Dikaiarchos melakukan pengukuran dan pembuatan busur jaring derajat antara Lyismachia dan Alexandria. Menurut hasil pengukuran Erastothenes, jarak antara Assuan dan Alexandria adalah 5000 stadia (=910 km) dan keliling bumi adalah 252 000 stadia (= 45.654 km). Selain itu Erastothenes juga dianggap sebagai orang yang pertama meletakkan dasar pengetahuan tentang bumi. Ia membuat karya tulis sebanyak tiga jilid yang diberi judul Geografika.
Pada jilid pertama, diuraikan tentang perubahan-perubahan antara daratan dan lautan serta arus laut. Pada jilid ke dua, diuraikan tentang benda-benda langit dengan jaring-jaring derajat astronomi. Pada jilid ke tiga, berisi uraian tentang daerah dan penduduknya. Menurut uraiannya, sebagian besar dari permukaan bumi tidak berpenduduk dan tidak dapat dihuni.
7. Strabo (64 SM-24 M), ahli Sejarah dan Geografi Yunani kuno
Strabo mencoba menguraikan besarnya pengaruh lingkungan setempat terhadap pengelompokan kebudayaan dan pembagian pemerintahan. Ia mengemukakan bahwa pengaruh lingkungan sangat menentukan. Dari pandangannya tersebut, ia termasuk tokoh Geografi berpaham “determinis lingkungan” (environmental determinism). Strabo mengemukakan bahwa Geografi berkenaan dengan faktor lokasi, karakteristik tertentu dan hubungan antara satu tempat dengan tempat lainnya di muka bumi secara keseluruhan. Ide kesatuan tunggal yang dikemukakan Strabo dijelaskannya sebagai konsep “atribut alamiah suatu tempat” (natural attributes of place), merupakan kerangka relasi suatu tempat dengan tempat lain di permukaan bumi.
Konsep ini merupakan salah satu konsep dan prosedur geografi modern yang selanjutnya menjadi konsep regional. Strabo juga membuat peta yang merupakan perbaikan dan melengkapi peta Herodotus. Pandangan determinis lingkungan yang dikemukakan oleh Strabo telah dikemukakan oleh Julius Caesar (100-44 SM) dalam tulisannya yang berjudul Gallic Wars. Julius Caesar merupakan tokoh pemerintahan dan militer Romawi yang pada tulisannya tersebut mengemukakan bahwa adanya pengaruh faktor Geografi terhadap pemerintahannya dan pengaruh lingkungan alam terhadap kemenangannya.
Strabo dalam bukunya yang berjudul Geographica yang terdiri dari 17 jilid dan diterbitkan satu abad sebelum masehi membuat sintesa antara Geografi, Menurut Strabo, Chorografi, dan topografi. Sintesa chorografi dan topografi pada geografi tidak menjadi masalah, karena dalam studi Geografi kita tidak hanya mempelajari tentang bentuk dan dimensi suatu daerah, tetapi juga tentang lokasi. Korelasi antara lingkungan alam dengan manusia sudah mulai tampak pada buku tersebut.
8. Claudius Ptolemaeus
Pada tahun 150 M menyusun peta Dunia yang menggambarkan benua Asia, Afrika dan Eropa. Karya gemilangnya tidak hanya peta namun juga menulis buku tentang pengetahuan bumi dan bangsa-bangsa di dunia yang berjudul GEOGRAFICE HYPHEGESYS dan terdiri dari 8 jilid. Bukunya Ptolemaeus tersebut menguraikan, bahwa geografi merupakan suatu penyajian dengan peta dari sebagian permukaan bumi yang menampakkan berbagai penampakan umum yang melekat padanya. Dia juga menerangkan bahwa geografi berbeda dengan Chorografi, karena chorografi membicarakan wilayah atau region tertentu yang penyajiannya dilakukan secara mendalam. Chorografi lebih mengutamakan pada penampakan asli suatu wilayah dan bukan ukurannya, segang geografi mengutamakan hal-hal yang kuantitatif. Pendapat ini merupakan sumber bagi definisi geografi zaman modern.
Ptolomeus juga merupakan orang pertama yang memperkenalkan penggolongan iklim. Dia membagi permukaan bumi menjadi 24 zona iklim berdasarkan lamanya hari yang terpanjang yang dialami, dari khatulistiwa sampai kutub. Zona pertama meliputi garis lintang sebanyak 8½0, zona ke 15 meliputi 10 dan zona ke 24 meliputi 1 menit garis lintang. Yang menjadi dasar penghitungan adalah lamanya penyinaran matahari. Pada penggolongan ini tidak diperhitungkan faktor dan unsur yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
Uraian di atas menunjukkan, bahwa Geografi sudah berkembang sejak berabad-abad sebelum masehi. Ilmuwan pada saat itu sudah menyadari dan mengemukakan akan pentingnya Geografi bagi kehidupan manusia.

Berkembangnya geografi di dunia Islam dimulai ketika Khalifah Al-Ma'mun yang berkuasa dari tahun 813 hingga 833 M memerintahkan para geografer Muslim untuk mengukur kembali jarak bumi.
Islam mendorong umatnya untuk membuka pikiran dan cakrawala. Allah SWT berfirman: Sungguh telah berlaku sunnah Allah (hukum Allah) maka berjalanlah kamu di muka bumi dan lihatlah bagaimana akibat (perbuatan) orangorang mendustakan ayat-ayat-Nya. (QS. Al-Imran: 137). Perintah ini telah membuat umat Islam di abad-abad pertama berupaya untuk melakukan ekspansi serta ekspedisi.

Selain dilandasi faktor ideologi dan politik, ekspansi Islam yang berlangsung begitu cepat itu juga didorong insentif perdagangan yang menguntungkan. Tak pelak umat Islam pun mulai mengarungi lautan dan menjelajah daratan untuk menyebarkan agama Allah. Seiring meluasnya ekspansi dan ekspedisi ruterute perjalanan melalui darat dan laut pun mulai bertambah.


Tak heran, jika sejak abad ke-8 M, kawasan Mediterania telah menjadi jalur utama Muslim. Jalur-jalur laut dan darat yang sangat sering digunakan akhirnya menghubungkan seluruh wilayah Muslim yang berkembang mencapai India, Asia Tenggara, dan Cina meluas ke utara dari Sungai Volga hingga Skandinavia dan menjangkau jauh ke pedalaman Afrika.

Ekspansi dan ekspedisi di abad-abad itu mendorong para sarjana dan penjelajah Muslim untuk mengembangkan geografi atau ilmu bumi. Di era kekhalifahan, geografi mulai berkembang dengan pesat. Perkembangan geografi yang ditandai dengan ditemukannya peta dunia serta jalur-jalur perjalanan di dunia Muslim itu ditopang sejumlah faktor pendukung.

Era keemasan Islam, perkembangan astronomi Islam, penerjemahan naskahnaskah kuno ke dalam bahasa Arab serta meningkatnya ekspansi perdagangan dan kewajiban menunaikan ibadah haji merupakan sejumlah faktor yang mendukung berkembangnya geografi di dunia Islam. Tak pelak, Islam banyak memberi kontribusi bagi pengembangan geografi.

Umat Islam memang bukan yang pertama mengembangkan dan menguasai geografi. Ilmu bumi pertama kali dikenal bangsa Yunani adalah bangsa yang pertama dikenal secara aktif menjelajahi geografi. Beberapa tokoh Yunani yang berjasa mengeksplorasi geografi sebagai ilmu dan filosofi antara lain; Thales dari Miletus, Herodotus, Eratosthenes, Hipparchus, Aristotle, Dicaearchus dari Messana, Strabo, dan Ptolemy.

Selain itu, bangsa Romawi juga turut memberi sumbangan pada pemetaan karena mereka banyak menjelajahi negeri dan menambahkan teknik baru. Salah satu tekniknya adalah periplus, deskripsi pada pelabuhan, dan daratan sepanjang garis pantai yang bisa dilihat pelaut di lepas pantai.

Selepas Romawi jatuh, Barat dicengkeram dalam era kegelapan. Perkembangan ilmu pengetahuan justru mulai berkembang pesat di Timur Tengah. Geografi mulai berkembang pesat pada era Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Ketika itu, Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Al- Mamun berkuasa, mereka mendorong para sarjana Muslim untuk menerjemahkan naskah-naskah kuno dari Yunani ke dalam bahasa Arab.

Ketertarikan umat Muslim terhadap geografi diawali dengan kegandrungan atas astronomi. Perkembangan di bidang astronomi itu perlahan tapi pasti mulai membawa para sarjana untuk menggeluti ilmu bumi. Umat Islam mulai tertarik mempelajari peta yang dibuat bangsa Yunani dan Romawi. Beberapa naskah penting dari Yunani yang diterjemahkan antara lain; Alemagest dan Geographia.

Berkembangnya geografi di dunia Islam dimulai ketika Khalifah Al- Ma’mun yang berkuasa dari tahun 813 hingga 833 M memerintahkan para geografer Muslim untuk mengukur kembali jarak bumi. Sejak saat itu muncullah istilah mil untuk mengukur jarak. Sedangkan orang Yunani menggunakan istilah stadion.

Upaya dan kerja keras para geografer Muslim itu berbuah manis. Umat Islam pun mampu menghitung volume dan keliling bumi. Berbekal keberhasilan itu, Khalifah Al-Mamun memerintahkan para geografer Muslim untuk menciptakan peta bumi yang besar. Adalah Musa Al-Khawarizmi bersama 70 geografer lainnya mampu membuat peta globe pertama pada tahun 830 M.

Khawarizmi juga berhasil menulis kitab geografi yang berjudul Surah Al- Ard (Morfologi Bumi) sebuah koreksi terhadap karya Ptolemaeus. Kitab itu menjadi landasan ilmiah bagi geografi Muslim tradisional. Pada abad yang sama, Al-Kindi juga menulis sebuah buku bertajuk ‘Keterangan tentang Bumi yang Berpenghuni’.

Sejak saat itu, geografi pun berkembang pesat. Sejumlah geografer Muslim berhasil melakukan terobosan dan penemuan penting. Di awal abad ke-10 M, secara khusus, Abu Zayd Al-Balkhi yang berasal dari Balkh mendirikan sekolah di kota Baghdad yang secara khusus mengkaji dan membuat peta bumi.

Di abad ke-11 M, seorang geografer termasyhur dari Spanyol, Abu Ubaid Al- Bakri berhasil menulis kitab di bidang geografi, yakni Mu’jam Al-Ista’jam (Eksiklopedi Geografi) dan Al-Masalik wa Al-Mamalik (Jalan dan Kerajaan). Buku pertama berisi nama-nama tempat di Jazirah Arab. Sedangkan yang kedua berisi pemetaan geografis dunia Arab zaman dahulu.

Pada abad ke-12, geografer Muslim, Al-Idrisi berhasil membuat peta dunia. Al-Idrisi yang lahir pada tahun 1100 di Ceuta Spanyol itu juga menulis kitab geografi berjudul Kitab Nazhah Al- Muslak fi Ikhtira Al-Falak (Tempat Orang yang Rindu Menembus Cakrawala). Kitab ini begitu berpengaruh sehingga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Geographia Nubiensis.

Seabad kemudian, dua geografer Muslim yakni, Qutubuddin Asy-Syirazi (1236 M - 1311 M) dan Yaqut Ar-Rumi (1179 M -1229 M) berhasil melakukan terobosan baru. Qutubuddin mampu membuat peta Laut Putih/Laut Tengah yang dihadiahkan kepada Raja Persia. Sedangkan, Yaqut berhasil menulis enam jilid ensiklopedi bertajuk Mu’jam Al-Buldan (Ensiklopedi Negeri-negeri).

Penjelajah Muslim asal Maroko, Ibnu Battuta di abad ke-14 M memberi sumbangan dalam menemukan rute perjalanan baru. Hampir selama 30 tahun, Ibnu Battuta menjelajahi daratan dan mengarungi lautan untuk berkeliling dunia. Penjelajah Muslim lainnya yang mampu mengubah rute perjalanan laut adalah Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok. Dia melakukan ekspedisi sebanyak tujuh kali mulai dari tahun 1405 hingga 1433 M.

Dengan menguasai geografi, di era keemasan umat Islam mampu menggenggam dunia. 

Kontribusi Geografer Muslim

Sederet geografer Muslim telah banyak memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu bumi. Al-Kindi diakui begitu berjasa sebagai geografer pertama yang memperkenalkan percobaan ke dalam ilmu bumi. Sedangkan, Al-Biruni didapuk sebagai ‘bapak geodesi’ yang banyak memberi kontribusi terhadap geografi dan juga geologi.

John J O’Connor dan Edmund F Robertson menuliskan pengakuannya terhadap kontribusi Al-Biruni dalam MacTutor History of Mathematics. Menurut mereka, ‘’Al-Biruni telah menyumbangkan kontribusi penting bagi pengembangan geografi dan geodesi. Dialah yang memperkenalkan teknik pengukuran bumi dan jaraknya dengan menggunakan triangulation.’’

Al-Biruni-lah yang menemukan radius bumi mencapai 6.339,6 km. Hingga abad ke-16 M, Barat belum mampu mengukur radius bumi seperti yang dilakukan Al-Biruni. Bapak sejarah sains, George Sarton, juga mengakui kontribusi sarjana Muslim dalam pengembangan geografi dan geologi. ‘’Kita menemukan dalam tulisannya metedo penelitian kimia, sebuah teori tentang pembentukan besi.’’

Salah satu kekhasan yang dikembangkan geografer Muslim adalah munculnya bio-geografi. Hal itu didorong oleh banyaknya orang Arab di era kekhalifahan yang tertarik untuk mendistribusi dan mengklasifikasi tanaman, binatang, dan evolusi kehidupan. Para sarjana Muslim mencoba menganalisis beragam jenis tanaman. 

Geografer Muslim di Era Keemasan

Hisyam Al-Kalbi (abad ke-8 M)
Dia adalah ahli ilmu bumi pertama dalam sejarah Islam. Hisyam begitu populer dengan studinya yang mendalam mengenai kawasan Arab.

Musa Al-Khawarizmi (780 M - 850 M)
Ahli matematika yang juga geografer itu merevisi pandangan Ptolemaues mengenai geografi. Bersama-sama 70 puluh geografer, Al-Khawarizmi membuat peta globe pertama pada tahun 830 M. 

Al-Ya’qubi (wafat 897 M)
Dia menulis buku geografi bertajuk ‘Negeri-negeri’ yang begitu populer dengan studi topografisnya.

Ibn Khordadbeh (820 M - 912 M)
Dia adalah murid Al-Kindi yang mempelajari jalan-jalan di berbagai provinsi secara cermat dan menuangkannya ke dalam buku Al- Masalik wa Al-Mamalik (Jalan dan Kerajaan).

Al-Dinawari (828 M - 898 M)
Geografer Muslim yang juga banyak memberi kontribusi pada perkembangan ilmu geografi.
Hamdani (893 M - 945 M) Geografer Muslim abad ke-9 M yang mendedikasikan dirinya untuk mengembangkan geografi.

Ali al-Masudi (896 M - 956 M)
Nama lengkapnya Abul hasan Ali Al-Ma’sudi. Ia mempelajari faktorfaktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pembentukan batubatuan di bumi dengan orisinalitas yang mencengangkan.

Ahmad ibn Fadlan (abad ke-10 M)
Dia adalah geografer yang menulis ensiklopedia dan kisah perjalanan ke daerah Volga dan Kaspia.

Ahmad ibn Rustah (abad ke-10 M)
Ibnu Rustah merupakan geografer yang menulis ensiklopedia besar mengenai geografi. Al Balkhi Memberikan sumbangan cukup besar dalam pemetaan dunia. Al Kindi Selain terkenal sebagai ahli oseanografi, dia juga seorang ilmuwan multitalenta. Sebagai ahli fisika, optik, metalurgi, bahkan filosofi.

Al Istakhar II dan Ibnu Hawqal (abad ke-10 M)
Memberikan kontribusi besar dalam pemetaan dunia.

Al-Idrisi (1099 M)
Ahli geografi kesohor pada zamannya, yang juga dikenal sebagai ahli zoologi.

Al Baghdadi (1162 M)
Seorang geografer Muslim terkemuka.

Abdul-Leteef Mawaffaq (1162 M)
Selain pakar geografi, dia juga merupakan ahli pengobatan.

Geografi Abad Pertengahan

Pada akhir abad pertengahan, uraian-uraian tentang Geografi masih bercirikan hasil laporan perjalanan, baik perjalanan yang dilakukan melalui darat maupun melalui laut.
Perjalanan umat manusia di muka bumi, dilakukan oleh para pedagang yang melakukan perniagaan antar negara dan antar benua, serta dilakukan oleh para tentara untuk melakukan peperangan dan meluaskan tanah kekuasaan. Perjalanan melalui darat yang terkenal adalah “Via Appia” perjalanan darat antara Roma dan Capua (950 sm), serta “Jalan Sutera” antara Tiongkok dengan Timur Tengah (abad pertengahan) telah menjadi sumber materi Geografi yang sangat berharga pada masa itu.
Perjalanan yang banyak dilakukan oleh umat manusia telah merangsang ditemukannya wilayah baru yang sebelumnya belum pernah terdengar atau diketahui manusia, sehingga masa ini sering disebut REVOLUSI GEOGRAFI.
Pesatnya perkembangan Geografi juga disorong oleh munculnya gerakan pembaharuan di bidang seni, filsafat, renesaince, dan humanisme agama (munculnya paham protestanisme) sehingga para sarjana lebih leluasa dalam mengemukakan pendapatnya tentang keadaan dunia. Pada masa tersebut para pelancong tidak didorong oleh oleh sekedar hasrat ingin tahu dari luar horisonnya, tetapi dalam melakukan perjalanan sudah memiliki tujuan tertentu, yaitu :
  1. Menemukan daerah baru sebagai sumber ekonomis, sebagai daerah koloni, atau untuk kepentingan perdagangan dengan kata lain sebagai upaya untuk memperoleh kekayaan (Gold).
  2. Sebagai tugas suci mengembangkan ajaran agamanya masing-masing atau bertujuan untuk penyebaran agama ke daerah baru (Gospel).
  3. Sebagai akibat negatif yang kemungkinan diduga lebih dahulu dari kedua tujuan di atas, yaitu karena keperluan peperangan baik karena perebutan daerah sumber atau daerah pemasaran maupun peperangan akibat bentrokan ajaran agama (Glory).
Walaupun cara penemuan daerah baru terjadi karena diorong oleh motif dan tujuan tertentu, yaitu Gold, Glory dan Gospel (3G) namun sifat penulisan geografi dan yang bersifat geografi masih dilakukan secara deskriptif dalam arti dan uraiannya itu masih belum dilakukan usaha yang sengaja memberikan uraian penjelasan (explanation) tentang gejala yang dilukiskannya. Selain tujuan di atas, perjalanan menjelajahi dunia baru juga dilakukan oleh sebagian orang dengan tujuan petualangan dan hasil petualangan tersebut telah membuka tabir dunia dan memperkaya pengetahuan tentang bumi.
Pada masa ini, selain banyak ditemukan daerah-daerah baru, konsep geografi yang bersifat matematis mendapat perkembangan lebih pesat karena mulai longgarnya tekanan gereja terjadap para sarjana, terutama sarjana pengetahuan alam yang temuan-temuannya bertentangan dengan tafsiran gereja akan kitab suci.
Tokoh-tokoh Geografi abad pertengahan diantaranya adalah :
1. Marcopollo, seorang petualang Eropa.
marco poloPada tahun 1272-1295 melakukan perjalanan menjelajahi Asia Timur dan Asia Tengah.
2. Bartholomeus Diaz, pelaut Portugis.
bartolomeus diazMelakukan perjalanan sampai ke Tanjung Harapan (Cape of the God hope) di Afrika Selatan dan diteruskan dengan mengarungi Samudera Hindia ke Kalikut di India pada tahun 1486.
3. Vasco Da Gama, pelaut Protugis.
vasco da gamaMengabdi pada raja Portugis dan dipilih untuk memimpin pelayaran mencari rute ke Timur. Vasco da Gama berlayar pada tahun 1497 dengan 4 kapal kecil dan 170 awak. Dia melakukan perjalanan dengan rute yang sama dengan Bartholomeus Diaz dan terus melanjutkannya hingga sampai ke Indonesia pada tahun 1498.
4. Columbus, seorang pelaut Genoa.
columbusPelayaran perdananya pada tahun 1492-1493 mengarungi Samudera Atlantik dan sampai ke Kuba dan Haiti, dalam perjalannya mencari jalan lain ke India yang pada akhirnya menemukan benua baru (Amerika). Pada perjalanan yang ke dua tahun 1493-1494, Colummbus sampai di kepulauan Bahama dan di dalam perjalanannya yang ke tiga pada tahun 1498 dia sampai di pantai Venezuella serta pada penjelajahan yang ke empat tahun 1502-1504 ia menjelajahi dataran Amerika Tengah.
5. Amerigo Vespucci, pelaut Italia
amerigo vespucciPada tahun 1501-1502 mengarungi samudera Atlantik melalui Tanjung Horn di Patagonia dan menyeberangi samudera Pasifik mendarat di Filipina dalam perjalanannya mengelilingi dunia.
6. Ferdinand Magelhaens,
Ferdinand MagelhaensMelakukan perjalanan ke Amerika Selatan pada tahun 1519 dan melanjutkan pelayarannya ke Filipina pada tahun 1521.
7. Nicolas Copernicus (1473-1543)
Nicolas CopernicusMengemukakan bahwa bumi berbentuk bulat, bergerak pada porosnya (rotasi) dan seperti planet lain bumi melakukan gerak edar mengelilingi Matahari (Revolusi). Teorinya tersebut dikenal dengan Heliosentris. Teori ini mematahkan anggapan yang selama itu diakui, yaitu Geosentris (bumi sebagai pusat Tata Surya). Usaha Copernicus tersebut, kemudian dilanjutkan oleh Galileo Galilei (1564-1642), Johanes Keppler (1571-1630). Keppler memberi gambaran baru tentang letak bumi dalam susunan tata surya.
Pengaruh penemuan sarjana Ilmu Alam pada abad ke-17, seperti Newton (1629-1695), Boyle (1627-1691), dan Huygins (1629-1695) menyebabkan orang mulai mempelajarinya secara mendalam proses terjadinya gejala-gejala fisis seperti gunung dan pegunungan, arus laut, angin dan sebagainya. Kondisi ini menunjukkan mulai berkembangnya geografi fisis di tengah masyarakat.
Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan, bahwa sampai abad ke-18 geografi sangat berhubungan erat dengan sejarah dan astronomi walau pun pada masa itu Erastothenes telah mempergunakan istilah Geographia namun artinya masih sangat sederhana, yaitu “writing about the world”.
Hasil karya ilmuwan yang dapat digolongkan mempunyai konsep dan pemikiran Geografi, adalah hasil karya dari Bernhardus Varenius (1622-1650), seorang Ilmuwan Belanda menerbitkan buku yang berjudul Geographia Generalis di Amsterdam tahun 1650, sebuah buku yang terdiri dari 28 bab dan 26 bab di antaranya merupakan uraian berkenaan dengan kondisi fisik bumi.
Pada dua bab lainnya berisikan uraian tentang kehidupan bangsa-bangsa dalam hubungannya dengan pengaruh faktor fisik bumi. Varenius berpendapat bahwa terdapat dualisme dalam Geografi, di satu pihak gegrafi mempelajari proses dan fenomena yang bersifat alamiah seperti litosfera, hidrosfera, dan atmosfera, serta hubungan antara matahari dengan bumi; di pihak lain geografi mempelajri fenomena sosial budaya manusia.
Karena dualisme tersebut, Varenius membedakan antara Geografi Umum (Geographia Generalis) dan Geografi khusus (Geographia Specialis). Geografi umum berhubungan dengan fenomena alamiah sedangkan geografi khusus mempelajari daerah atau wilayah yang sifatnya diperoleh dari hasil interaksi antara manusia dengan proses alamiah.
Menurut Varenius, Geografi Umum terdiri dari : General Absolut, yaitu uraian tentang bentuk dan dimensi muka bumi; Relative, yaitu berupa uraian tentang Iklim, musim, pasang naik dan pasang surut, serta berbagai fenomena astronomis lainnya; Comparative, yaitu berisikan tentang perbandingan topografi muka bumi. Sedangkan Geografi khusus mencakup : Chorographia, yaitu uraian deskriptif tentang daerah-daerah yang besar dan luas; dan Typographia, yaitu uraian yang memuat daerah-daerah yang lebih kecil/ sempit seperti desa, kota, kampung dan sebagainya.
Pada uraian khusus juga dapat dikemukakan pembagian menurut jenis bahan uraian, yaitu : Celestial Properties, merupakan segala uraian berkenaan tentang keadaan angkasa, baik benda angkasa dan pengaruhnya terhadap kehidupan di muka bumi; Terestial, merupakan segala uraian berkenaan dengan sifat dari isi terestis (daratan) kecuali manusia; dan Human Properties, berkenaan dengan uraian tentang keadaan dan aktifitas manusia di muka bumi. Pada bukunya tersebut, Varenius juga mempublikasikan hasil studi regionalnya tentang Jepang dan Siam. Uraiannya lebih bersifat matematik campuran.
Selama lebih dari satu abad, buku Varenius menjadi pegangan bagi mereka yang ingin mempelajari bumi, terutama yang berhubungan dengan segi fisik muka bumi.

Geografi akhir abad ke 19 – Abad ke 20 (bagian 1)

Pusat perhatian Geografi pada akhir abad ke-19 adalah terhadap iklim, tumbuhan, dan hewan, serta terhadap bentang alam. Kebanyakan ahli geografi pada periode ini memperdalam Geologi dan mempergunakan metode geologi dalam penyelidikannya. Sebaliknya geografi manusia menjadi semakin lemah.
Pada akhir abad ke-19, geografi manusia masih bercorak geografi Ritter tanpa adanya perspektif baru. Kenyataan ini mungkin disebabkan karena kedudukan Ritter sebagai tokoh geografi di Universitas Berlin setelah kematiannya pada tahun 1859 untuk waktu yang lama tidak ada yang menggantikannya. Demikian juga di Inggris, sejak pengunduran diri Alexander Maconochie di tahun 1830-an menyebabkan geografi di negara tersebut tidak berkembang.
Meski di Universitas, geografi manusia tidak memperoleh kemajuan tetapi di luar universitas tidak demikian. Di Amerika Serikat, Mayor Wisley Powell (1834-1902) mempelajari bentang alam dan sumberdaya air untuk menyarankan penggunaan tanah di suatu tempat dengan sebaik-baiknya.
Ahli Geografi lainnya dari Amerika Serikat, yaitu George Peskins Marsh (1801-1882) mempunyai perhatian khusus pada pentingnya mengkonservasi sumberdaya. Pada pendahuluan bukunya yang berjudul Man and Nature, or Physical Geography as Modified by Human Action (1864), Marsh berpendapat bahwa Van Humboldt dan Ritter merupakan tokoh aliran baru dalam Geografi yang pernah mengatakan bahwa “seberapa jauh keadaan lingkungan fisikal mempengaruhi kehidupan sosial dan kemajuan sosial”. Kemudian pada diri Marsh timbul pertanyaan “Bagaimana manusia mengubah permukaan bumi ?” dalam hal ini Marsh ingin menekankan bukan permukaan bumi yang menentukan kehidupan yang lebih baik, namun keadaan yang lebih jelek akan terjadi apabila manusia merusak lingkungan alamnya.
Pada masa ini, tokoh geografi lainnya yang berpengaruh, adalah :
1. Friederich Ratzel (1844-1904)
Tokoh Geografi Jerman, Tokoh Geografi yang pemikirannya memperoleh pengaruh Humboldt – Ritter dan Darwin.
Pada zaman Humboldt – Ritter, paham fisis determinis belum kelihatan tegas. Melalui metodologi ilmiah yang dikemukakan oleh Ratzel, yaitu menyatakan secara tegas bahwa alam menentukan kehidupan manusia, paham fisis determinis menjadi semakin jelas.
Ajaran Ratzel tersebut dikenal dengan “Anthropogeographie” yang juga merupakan judul buku yang ditulisnya. Buku tersebut terbit pertama pada tahun 1882. Menurut Ratzel bahwa selain lingkungan alam, aktifitas manusia merupakan faktor penting dalam kehidupan di suatu lingkungan. Ratzel selain mempelajari geografi juga mempelajari Antropologi secara mendalam. Menurutnya, apabila diadakan perbandingan antara kelompok manusia yang berbeda, pasti manusia itu sendiri yang menentukan dan terutama keadaan yang ditimbulkan oleh lingkungan kebudayaannya.
Ratzel mengungkapkan, adanya pengaruh alam yang menentukan sifat badaniah dan rohaniah manusia. Menurutnya, hubungan sifat badaniah dan rohaniah erat kaitannya dnegan pengaruh alam yang bekerja terhadap manusia. Bangsa-bangsa yang berkulit hitam dan berwarna di dalam penyebarannya mendiami negeri-negeri yang berhawa panas. Keadaan alam di negeri panas yang membuat kulit bangsa-bangsa demikian, keadaan alam juga menentukan keterbelakangan rohani dari bangsa-bangsa yang berkulit hitam dan berwarna.
Berbeda dengan keadaan alam dari bangsa-bangsa yang berwarna kulit putih, yang berhawa ingin dan sejuk menentukan warna kulit putih dari bangsa-bangsa yang mendiaminya. Keadaaan alam yang dingin dan sejuk juga menentukan kemajuan hubungannya dengan keadaan alam yang menentukan pula kemajuan rohani bangsa-bangsa kulit putih. Dalam hubungannya dengan keadaan alam yang menentukan keadaan rohaniah manusia, oleh Ratzel dikemukakan pula hubungannya dengan agama monoteisme.
Menurut pandangan Ratzel, monoteisme ditentukan oleh alam. Di daerah gurun orang mengenal adanya satu kekuasaan dari alam, yaitu satu Tuhan; monoteisme adalah agama bagi bangsa-bangsa yang tinggal di daerah gurun.
Berbeda dengan jilid pertama, jilid ke dua yang terbit pada tahun 1891 menekankan pada uraian tentang persebaran dan kepadatan penduduk, pembentukan pemukiman, migrasi penduduk dan penyebaran kebudayaan. Untuk menjelaskan hal tersebut, Ratzel tidak menitik beratkan pada pengaruh lingkungan terhadap manusia namun kedua fenomena tersebut memiliki kedudukan yang sama.
Pengaruh evolusionisme Darwin tampak jelas pada konsep Labenstraum (living space) dari Ratzel. Konsep ini diterapkan pada pandangan Geografi Politik yang memandang negara sebagai suatu organisme. Negara seperti juga mahluk hidup dapat tumbuh menjadi besar. Untuk pertumbuhan ini memerlukan makanan, jika tidak memperoleh makanan maka organisme akan mati, demikian pula keadaannya dengan negara. Paham ini diterapkan pada geopolitik Jerman sebagai landasan politik ekspansi. Menurut Ratzel, tugas utama Anthropogeograpie adalah :
  • Menguraikan daerah-daerah yang didiami oleh manusia (siedlung der Menscheit).
  • Meneliti manusia sebagai mahluk yang terikat oleh bumi (als erdgebundenes Wesen).
  • Meneliti pengaruh alam terhadap kondisi fisik dan jiwa manusia (Einfluss der Natur auf den Physik und der Geist des Menschen).
2. Ellen C Semple
Pengikut Ratzel yang memperlemah paham fisis determinis atau geografi determinis menjadi “pengawasan geografi” (geographic control).
Menurut paham ini, faktor geografi terutama faktor fisis tidak lagi ditetapkan sebagai faktor yang menentukan kehidupan manusia, melainkan dipandang sebagai faktor yang mengawasi atau mempengaruhi kehidupan manusia.
3. Otto Schluter (1873), Guru Besar Universitas Berlin
Pandangannya dianggap terlalu Fisis determinis, sehingga dipandang terlalu berat sebelah oleh kebanyakan ahli geografi yang berpandangan Antropogeografi. Ia mencari jalan ke luar dari Anthropogeographie. Ia mengemukakan konsep “Kultur-geographie” pada tahun 1872 dan memberi kedudukan terhadap faktor manusia dan kebudayaan.
Menurut Schluter, objek Geografi adalah “landscahaft” yang di dalamnya termasuk tempat tinggal manusia dan jalan lalu lintas. Menurutnya, manusia dengan perkembangan kebudayaannya harus digunakan sebagai dasar kerja geografi. Schluter juga mengemukakan bahwa peralihan dari bidang alamiah ke bidang humanis dari suatu ilmu, tidak terlalu mencolok seperti perbedaan antara faktor iklim dengan faktor bentuk-bentuk permukaan bumi atau perbedaan sifat faktor non manusiawi. Menurut pandangan kulturgeographie (geografi budaya), geografi terdiri atas :
a. Geografi tempat tinggal
b. Geografi Ekonomi
c. Geografi Lalu lintas.
4. Elsworth Huntington (1876), Ahli Geografi Universitas Yale, Amerika Serikat
Pemikiran Geografi Huntington dipengaruhi oleh paham Geografi Ratzel. Pemikirannya tersebut terlihat pada pandangannya yang tertuang dalam karya yang berjudul “Civillization and Climate”. Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1915 dan mengalami beberapa kali cetak ulang sampai cetakan ke-enam edisi ke tiga pada tahu 1948.
Ia menyatakan bahwa iklim di suatu tempat memiliki pengaruh yang menentukan terhadap perkembangan aktifitas dan kebudayaan penduduk setempat (determinis iklim), kelompok penduduk dunia yang mengalami kemajuan pesat terdapat di daerah yang iklimnya menunjang untuk kemajuan (iklim sedang).
Bukunya yang lain berjudul “Mainsprings of Civilization” yang ditulisnya pada tahun 1945. Pandangan Geografinya banyak dibahas oleh ilmuwan lainnya, terutama berkenaan dnegan paham determinis iklim yang dikemukakannya. Menurut Huntington, faktor iklim menentukan perkembangan suatu kebudayaan, saat ini paham tersebut banyak yang menentang.
5. Ferdinand von Richthofen (1833-1905), Ahli Geologi yang kemudian beralih menjadi seorang Geografer.
Richthofen memberi rumusan konsep Geografi yang merupakan suatu Sintesa dari pandangan Ritter dan Humboldt. Sebagai seorang ahli Geologi, ia mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan permukaan bumi, adalah bagian luar dari bumi yang terdiri dari bagian padat. Inti dari objek studi Geografi adalah juga yang termasuk segala gejala yang berkaitan dengannya.
Menurut pendapatnya, geografi adalah “pelukisan gejala-gejala dan sifat-sifat permukaan bumi dan penduduknya, disusun menurut letaknya dan menerangkan baik terdapat bersamaan maupun timbal baliknya gejala dan sifat-sifat tersebut”. Dengan pernyataan tersebut, Richthofen telah memberi lapangan kerja pada Geografi.
Pada definisi tersebut, geografi tidak saja diterjemahkan sebagai ilmu yang memberikan uraian dari tempat-tempat dan daerah-daerah saja, namun juga memberikan keterangan-keterangan tentang sebab musabab dari gejala yang dipelajari. Geografi tidak hanya mempelajari manusia, namun juga mempelajari hewan dan tumbuhan. Dengan ini tidak saja Geografi fisis, tetapi geografi sosial pun berkembang.
Pada pidato pelantikan untuk menempati kursi Geografi di Universitas Leipzig (1883), Richthoffen mengemukakan pendekatan baru yang disebutnya pendekatan sistematik. Menurutnya, studi geografi suatu wilayah meliputi susunan keruangan (spatial arrangement), ikatan gejala-gejala bumi yang mencakup gejala fisik, biotik dan gejala manusia yang harus diteliti bentuk, materi, kejadian dan interaksi keruangannya. Studi tersebut disebutnya sebagai Korografi, sedang bidang ilmiah yang berkenaan dengan studi tersebut, adalah korologi. Metode ilmiahnya telah mengarah pada metodologi Geografi modern.
Definisi yang disampaikan Richthofen juga mengundang beberapa pertanyaan mendasar, yaitu :
  • Gejala dan sifat apa di permukaan bumi serta penduduknya yang harus diuraikan, mengingat gejala-gejala dan sifat-sifatnya itu beragam.
  • Apakah hubungan timbal balik dan laju berbarengan dari gejala-gejala dan sifat-sifat muka bumi dan penduduknya, harus disusun menurut daftar terperinci untuk masing-masing terpisah dan terlepas satu sama lain, apalagi harus disusun berdasarkan tempat.
  • Berapa besar atau luas satuan tempat tersebut.
Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong tumbuhnya pemikiran lebih lanjut dalam Geografi, baik di kalangan pemikir lama maupun di kalangan pemikir baru di Jerman dan Perancis. Mengingat arah perkembangan Geografi di Jerman pada abad ke-19 masih berada di bawah pengaruh pemikir Ilmu Pengetahuan Alam dan masih memerlukan pengetahuan tentang negeri-negeri di luar Eropa, maka lapangan studi Geografi menurut pemikir Jerman kala itu adalah landschaft (bentang alam) dan Landerkunde (pengetahuan tengan negeri-negeri).
Manusia dipelajari sebagai bagian dari alam. Yang dimaksud dengan landschaft adalah suatu daerah yang karena sifat-sifat geografisnya dan yang oleh karena kekhususan kerjasama dari sifat-sifat tersebut merupakan satu kesatuan.
6. Oscar Peschel (1833-1905)
Melakukan kritik terhadap Ritter yang dianggapnya terlalu melebih-lebihkan pengaruh alam.
Peschel berpendapat bahwa Geografi menyelidiki gejala bumi dengan studi komparatif sehingga suatu ilmu dapat dikembangkan secara induktif dan juga membawakan konsep dalam geografi bahwa manusia merupakan pusat perhatian.

Geografi akhir abad ke 19 – Abad ke 20 (bagian 2 – terakhir)

7. Alfred Hettner (1859-1941), Ahli Geografi Jerman
Hettner berhasil mempersatukan pendapat dan pengertian tentang konsep dasar Ilmu Geografi di Jerman. Hal ini terungkap dari ucarapan terimakasih yang dikemukakan dalam tulisan “Algemeine Geographie des Menschen”, Band I, Stutgart, 1947, pp. Xi-xxxiv.
Pada tahun 1898, Hettner mengemukakan bahwa perbedaan pengetahuan geografi antara zaman purba dengan zaman sekarang yang berkenaan dengan pemasukan manusia sebagai bagian yang integral dari alam suatu areal. Pada perkembangan umum kemajuan ilmu pengetahuan, dari hasil penelitian, manusia telah dimasukkan ke dalam berbagai cabang geografi.
Pada tahun 1905 ia menulis bahwa ilmu kronologi tentang bumi atau ilmu tentang wilayah-wilayah di permukaan bumi dengan perbedaan dan relasi keruangannya. Ia telah memberi pengertian yang luas terhadap pengertian “landschaft” yang tidak hanya mengenai keadan fisik, namun juga manusia. Dalam uraian landschaft tersebut dikemukakan perbedaan khas suatu wilayah dari wilayah lainnya, sehingga mengarah pada penguraian regional. Yaitu uraian tentang geografi regional. Dalam uraiannya terlihat adanya pengaruh konsep geografi dari von Richthofen.
Berkenaan dengan segala sesuatu yang dipelajari tentang negara dan bangsa, Hettner mengemukakan kerangka sistematik sebagai berikut :
a. Letak, bentuk dan luas bumi
b. Keadaan alam permukaan bumi (relief, keadaan geologi, tanah dan sebagainya).
c. Iklim (Suhu, tekanan udara, angin, kelembapan, curah hujan)
d. Aliran Sungai dan perairan.
e. Flora dan Fauna.
f. Manusia
g. Usaha kerja dan kegiatan manusia.
Skema tersebut menurut Hettner menampilkan suatu urutan yang memudahkan untuk melihat hubungan gejala-gejala dan sifat-sifat permukaan bumi serta untuk memudahkan melakukan perbandingan di antara negeri-negeri.
Pada tahun 1927, dia mengungkapkan kembali pemikiran tentang lingkup studi Geografi, yaitu : “Tujuan dari titik pandang korologi adalah untuk mengetahui sifat-sifat dari daerah-daerah dan tempat-tempat secara menyeluruh dari adanya laju bersamaan dan hubungan kerjasama serta aneka ragam bentuk penampilan di antara kawasan yang berlainan dan gambaran permukaan bumi secara menyeluruh di dalamnya pengaturan alamiahnya ke dalam kontinen-kontinen, daerah-daerah, bentang alam serta tempat-tempat.
Tujuan titik pandang korologi yang dikemukakan oleh Hettner menunjukkan tentang sasaran yang ingin dicapai di dalam studi geografi, yaitu mendapatkan gambaran menyeluruh tentang keadaan permukaan bumi. Di dalam metodologi, hal tersebut termasuk dalam studi Geografi umum atau geografi sistematik. Studi geografi tersebut pada awalnya ingin mengetahui hukum alam yang berlaku di muka bumi. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan pandangan yang determinis.
8. Paul Vidal de la Blache (1854-1918), Profesor Universitas Sorborne Perancis.
Paul Vidal de la Blache awalnya adalah ahli Sejarah yang kemudian mempelopori geografi di Perancis, menjadi Profesor pada Universitas Sorborne, Paris pada tahun 1872 setelah melalui perjalanan yang panjang. Pandangannya banyak dipengaruhi oleh paham determinis-anthropogeographie karena banyak membaca karya Ritter, Von Humbolt dan geograf Jerman lainnya.
Setelah menyaksikan sendiri pembukaan terusan Suez, Ia melepaskan diri dari paham fisis determinis, yang karenanya dia dianggap sebagai tokoh peralihan. Ia melakukan pengamatan di lapangan dan banyak melakukan perjalanan ke berbagai penjuru Eropa termasuk ke daerah pedalaman, terutama di tanah airnya. Ia juga mendalami geologi dan botani, karenanya ia berpendapat bahwa seorang Geograf harus berwawasan luas. Ia seringkali menjelajahi berbagai daerah dengan membawa peta geologi sambil berjalan kaki.
Sebagai seorang ahli sejarah dia memiliki ketajaman penglihatan tentang adanya hubungan erat antara daerah dengan penduduk serta sejarahnya. Perhatiannya yang besar atas hal-hal tersebut telah mendorongnya untuk melahirkan metode Geografi.
Geografi Vidal de la Blache dimulai dengan mengenal dan mendalami terlebih dahulu lapangan, ia baru kemudian menulis dan menyusun buku. Langkah metodologinya adalah, bahwa geograf harus beranjak dari kenyataan. Setiap teori dan kerangka pemikiran harus dapat dibuktikan. Dia sering membawa mahasiswanya ke lapangan untuk membiasakan diri mengenal kenyataan dengan banyak menggunakan peta yang di dalam studi geografi merupakan kebutuhan mutlak.
Karya besarnya yang pertama, adalah “Atlas General, historique et geographique” yang diterbitkan di Paris pada tahun 1894. Karya tulis lainnya dalam bidang metodologi diantaranya, “Les genres de vie dans la geographie humaine dan les caracteres distinctifs de la Geographie” yang diterbitkan pada tahun 1912 dan 1913.
Pandangannya dikemukakan pada tulisan yang berjudul “Principe de Geographiehumaine” yang diterbitkan setelah dia meninggal dunia atas bantuan Emmanuel de Martone pada tahun 1922. Pandangannya terhadap Geografi bukanlah pengetahuan buku semata-mata, Geografi ditempatkan di antara natural science dan human studies. Menurut Vidal de la Blache, studi tentang lingkungan fisikal dan masyarakat telah atau sedang dipengaruhi oleh lingkungan fisikalnya. Daerah dimana proses ini telah atau sedang berlaku akan membentuk suatu unit yang disebut “wilayah” atau “region”.
Uraian tersebut menunjukkan, secara jelas bahwa yang dimaksud dengan wilayah oleh Vidal de la Blache merupakan arena dimana berlaku interaksi antara manusia dengan lingkungan fisikal yang bersifat lokal. Kondisi ini menunjukkan bahwa ciri penting suatu wilayah mungkin berbeda dengan dengan ciri wilayah lain. Pengertian tentang “regio” pertama kali dikemukakan dalam bukunya yang berjudul “La France” yang terbit tahun 1897 pada bab Des divisions du sol francais. Tulisannya tersebut menunjukkan pentingnya geografi mempelajari kenyataan-kenyataan di daerah. Pemikirannya yang lebih jauh tentang geografi dan metode yang dipakainya diterangkan dalam buku Tableau geographique de la France yang terbit tahun 1903.
Konsep Vidal de la Blache sesuai dengan keadaan Eropa sebelum revolusi industri dan sesuai pula dengan wilah yang ekonominya masih berdasarkan peasant agriculture dan local self-sufficiency. Konsep ini tidak sesuai bagi negara yang telah maju, karena negara yang telah maju tidak lagi bersifat lokal. Sumbangan Vidal de la Blache bagi Geografi, adalah :
a. Pentingnya Geologi dalam mencari hubungan alam dan manusia sebagai dasar “areal differentiation”.
b. Manusia memerankan peranan aktif dan pasif.
c. Hubungan manusia tidak statis, melainkan berubah-ubah sesuai dengan proses penyesuaiannya dengan alam atau stimulus pengaruh alam terhadapnya.
Vidal de la Blache juga mengajarkan bahwa Geografi harus :
a. Merupakan kesatuan gejala alam, interdependendi dan interkoneksi antara faktor-faktor fisis.
b. Merupakan kombinasi yang beragam beserta modifikasi gejala alam terutama iklim di dunia.
c. Mempunyai hubungan dengan gejala-gejala di permukaan bumi.
d. Mengenal kekuatan lingkungan dalam beragam bentuk.
e. Memiliki metode ilmiah dalam memberi definisi dan klasifikasi yang ada.
f. Mengetahui peranan manusia dalam menguasai lingkungan alam.
Tugas geografi yang ditekankannya antara lain Geografi menyelidiki dan mempelajari akibat usaha manusia pada permukaan bumi serta peninggalannya sesudah daerah itu dipakai sebagai tempat tinggalnya, baik penyebaran, kepadatan, gerak horizontal penduduk, sistem transportasi dan akhirnya berusaha memberikan suatu perencanaan guna memajukan daerah tersebut.
Berdasarkan padangan tersbut, Vidal de la Blache menunjukkan bahwa setiap individu memberi sejumlah kemungkinan (possibilities) yang berbeda bagi setiap tempat dan human society yang menentukan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Aliran ini kemudian banyak dikenal dengan istilah “posibilisme”. Uraian tersebut menunjukkan bahwa Vidal de la Blache menyangkal adanya fisis determinis, dan selanjutnya dirinya mengemukakan bahwa manusia adalah “free agent” yang darinya segala sesuatu dapat dimungkinkan.
Vidal de la Blache juga menekankan bahwa Geografi merupakan pengetahuan tentang tempat-tempat yang berhubungan dengan kualitas produksi dari daerah serta ciri khas daerah tersebut dinyatakan oleh keseluruhan gejala dan keragaman tempat. Faktor yang menentukannya adalah “Genre de Vie” yaitu tipe proses produksi yang dipilih oleh manusia dari kemungkinan yang diberikan oleh alam dan tingkat kebudayaan suatu daerah.
9. Jean Brunhes (1869-1930), Ahli Geografi Perancis
Jean Brunhes adalah murid sekaligus pengikut Vidal de la Blache. Melanjutkan paham Geografi gurunya yang menolak paham determinisme. Pada tahun 1910, ia menerbitkan bukunya yang berjudul “La geographiehumaine”. Pada buku tersebut dibahas pengertian regio yang berbeda, ada regio tanah, regio fisiografi, regio ekonomi dan sebagainya.
Buku tersebut banyak yang mempelajari, karena pada saat itu merupakan satu-satunya buku Pengantar Geografi Sosial. Buku tersebut kemudian diterjemahkan oleh dua orang Geograf Amerika, yaitu Bowman dan Dodge untuk diterbitkan.
Di Amerika, bukunya Brunhes merupakan buku pegangan klasik yang menjadikan aliran Posibilis terkenal di negara tersebut. Jean Brunhes membatasi lapangan kerja geographie humaine kepada benda-benda yang bersifat material dan dapat diukur. Faktor manusia ditempatkan sebagai faktor penting dalam perkembangan kebudayaan, sedang faktor alam hanya memberikan kemungkinan untuk perkembangan kebudayaan tersebut. Dibandingkan dengan pandangan Geografi Vidal de la Blache, pandangan Geografi Jeans Brunhes agak berbeda dengan pandangan gurunya tersebut. Menurutnya, geografi harus berisi :
a. Pola settlement di muka bumi, bentuk rumah, desa, kota dan sebagainya.
b. Penguasaan dan penyesuaian vegetasi dan hewan dengan tehnik pertanian/ agrikultur.
c. Uraian tentang ekonomi penduduk.
10. William Morris Davis, Ahli Geomorfologi Amerika Serikat
Pandangan William Morris Davis berpengaruh pada perkembangan Geografi. Menurutnya, faktor sejarah memegang peranan dalam menganalisa Geografi. Untuk mempelajari kehidupan manusia kini, sejarah perkembangan lingkungan alam dengan perkembangan manusia itu sendiri dapat dijadikan salah satu bahan analisa.
Mengamati suatu bentang alam (landscape) pada masa ini dengan tidak melihat bagaimana bentangan itu terjadi, ibarat kita berkunjung ke Roma dewasa ini dengan kebodohan kita, bahwa kita percaya Roma tidak pernah mengalami jaman pubanya.
11. Richard Hartshorne, pada tahun 1939 menulis buku berjudul “the Nature of Geography”.
Ia merupakan tokoh yang menjelaskan hakekat Geografi dengan segala argumentasinya berdasarkan pandangan- paham – pendapat berbagai tokoh Geografi. Ia menguraikan metode ilmiah Geografi dengan mengutip tokoh-tokoh tersebut dari zaman ke zaman. Setekah buku The Natire of Geography terbit, banyak tokoh Geografi yang berbahasa Inggris mengemukakan konsep dan pandangannya.
12. Frank Debenham, Guru besar Geografi di Inggris
Frank Debenham mempunyai pengaruh besar terhadap paham dan pandangan geografi di negerinya. Pandangannya lebih bersifat filosofis-edukatif. Menurutnya, “Geography is for everyone, and that it is full of interest at every stage, and that it is practical subject”. Selain itu, geografi merupakan subjek praktis, ia juga merupakan pengetahuan yang integratif-komprehensif, sehingga Dabenham menyarankan kepada para geograf :
  • To interpret the facts of distribution (untuk menginterpretasi fakta-fakta distribusi).
  • To Correlate the life of man with his physical environment (untuk mengkorelasikan kehidupan manusia dengan lingkungan fisiknya).
  • To Explain the interaction of human and natural agencies (Untuk meng eksplanasi interaksi manusia dengan lingkungan alam).
Uraian tersebut menunjukkan bahwa berdasarkan paham Debenham, manusia dan lingkungan alam melakukan korelasi dan interaksi di antara ke duanya. Hal ini menunjukkan pandangan dan pendekatan Ekologi dalam pandangan Geografinya.
13. James Fairgrieve, Ahli Geografi Amerika Serikat
James Fairgrieve mengemukakan bahwa fungsi Geografi adalah “to train future citizens to imagine accuraely the conditions of the great world stage and so to help them to think sanely about political and social problems in the world around”. Ia juga mengemukakan bahwa Geografi memiliki nilai edukatif (educational value) yang dapat mendidik warganegara untik berfikir kritis dan bertanggung jawab terhadap kehidupan di dunia. Menurutnya, manusia merupakan pelaku utama perubahan geografi di muka bumi. Manusia dapat merubah keadaan lingkungannya. Hal in i menunjukkan bahwa batasa Geografi harus memperhitungkan kondisi tersebut. Fairgrieve juga mengemukakan pentingnya peta dalam studi Geografi, karena 90% informasi Geografi dapat diletakkan pada peta dan peta inilah yang dapat menjawab pertanyaan “Where (Dimana)” aspek dan gejala geografi.
14. Preston E James, ahli Geografi asal Amerika Serikat yang berpengaruh dalam perkembangan Geografi.
Pandangan, paham dan pendapat Preston E James tentang Geografi dituangkan dalam buku yang berjudul “American Geography : Inventory and Prospect”. Ia mengemukakan betapa eratnya hubungan antara Geografi dengan Sejarah yang merupakan ilmu pengetahuan dwitunggal berkenaan dengan tempat dan waktu (pengulangan pernyataan Herodotus).
Tempat dan waktu menyajikan kerangka kerja yang di dalamnya dapat dijelaskan pranata manusia dan proses perubahan kebudayaan yang dapat ditelusuri. Menurutnya, “This is not geography as the list of things contained in an area, but Geography as the analisys of meaning of place and position on the earth, as an analisys of the significance of areal associations of thing”.
Hal ini menunjukkann uraian suatu gejala di suatu tempat, tempat tersebut memberikan kejelasan pada waktunya, sebaliknya waktu dapat memberikan kejelasan kepada tempatnya. Menurutnya, sumbangan yang nyata dari Geografi adalah mengarahkan perhatian kepada pengertian variasi dan relasi wilayah di permukaan bumi.

Geografi Modern

Pandangan ini mulai berkembang pada abad ke-18. Pada masa ini Geografi sudah dianggap sebagai suatu disiplin ilmiah dan sudah dipandang dari sudut praktis. Para tokohnya, adalah :
1. Immanuel Kant (1724-1804), seorang ahli filsafat Unversitas Koningsburg, Jerman yang memiliki pandangan seperti Varenius.
Dia memandang bahwa Ilmu Pengetahuan dapat dipandang dari tiga pandangan yang berbeda, yaitu
  1. Ilmu Pengetahuan yang menggolongkan fakta berdasarkan objek yang diteliti. Disiplin yang mempelajari kategori ini disebut “ilmu pengetahuan sistematis”, seperti ilmu botani yang mempelajri tumbuhan, Geologi yang mempelajari kulit bumi, dan Sosiologi yang mempelajari manusia, terutama golongan sosial. Menurut Kant, pendekatan yang dipergunakan dalam ilmu pengetahuan sistematis adalah studi tentang kenyataan.
  2. Ilmu pengetahuan yang memandang hubungan fakta-fakta sepanjang masa. Ilmu pengetahuan yang mempelajari bidang ini, adalah sejarah.
  3. Ilmu pengetahuan yang mempelajari fakta yang berasosiasi dalam ruang, dan ini merupakan bidang dari Geografi.
Meski demikian, terdapat juga berbagai tentangan terhadap pemikiran Kant, misalnya apakah ilmu pengetahuan sistematik dalam mempelajari fenomena tidak tergantung pada ruang dan waktu ?.
Secara sistematis, Kant membagi Geografi menjadi :
  1. Mathematical Geography (Geografi Matematis) yang berisi keterangan tentang gambaran bumi sebagai suatu massa dari sistem Tata Surya.
  2. Moral Geography (Geografi Moral), yaitu uraian yang berisi gambaran tentang cara dan adat istiadat manusia di berbagai daerah di muka bumi.
  3. Political Geography (Geografi Politik), yaitu uraian yang berisi gambaran tentang kesatuan-kesatuan negara di dunia yang didasarkan atas sistem pemerintahan.
  4. Physical Geography (Geografi Fisis), yaitu uraian yang berisikan gambaran tentang bumi dan bagian-bagiannya termasuk hewan, veerasi dan mineral.
  5. Merchantile Geography (Geografi Perdagangan), yaitu uraian yang berisikan gambaran tentang pola hubungan ekonomi penduduk dan bangsa-bangsa di dunia.
  6. Theological Geography (Geografi Agama), yaitu uraian yang berisi tentang agama-agama di dunia, penyebarannya serta perubahan prinsip theologi di berbagai lingkungan alam.
Kant mendapat julukan bapak Geografi Politik, ia juga dianggap sebagai peletak dasar Geografi Modern. Menurutnya, Geografi bukan hanya sekedar ikhtisar tentang keadaan alam, namun juga merupakan dasar dari sejarah. Pandangan Geografinya berpengaruh pada pandangan tokoh-tokoh lainnya seperti Karl Ritter, Alexander Van Humboldt , dan Friederich Ratzel.
2. Alexander Baron Van Humboldt (1769-1859), seorang ahli Ilmu Pengetahuan yang menaruh minat terhdap penampakan fisikal dan biologikal.
Humboldt melakukan petualangan ke beberapa daerah di benua Amerika, terutama Amerika Selatan dan membuat profil benua tersebut. Ia memperkenalkan pengertian ekologi (ecology), yaitu ilmu pengetahuan yang menyelidiki hubungan yang terdapat antara vegetasi dengan ketinggian tempat.
Namun di sisi lain Humboldt juga tidak melupakan faktor manusia, misalnya dia memperhatikan tidak adanya lagi pastoral nomads di antara orang-orang Ameriha, hal ini menunjukkan bahwa cara hidup ini adalah suatu evolusi sosial yang terjadi di seluruh dunia. Selain itu Humboldt memberi tanggapan terhadap kesamaan antara kebudayaan Asia dengan kebudayaan orang Amerika asli dan mencoba untuk menjelaskannya. Dari hasil pengembaraannya tersebut
Humboldt menulis Geografi Regional dari Cuba dan Mexico. Karena uraiannya tersebut, Van Humboldt menjadi peletak dasar phytogeography dan klimatologi. Berdasarkan pengertian ekologi tersebut, muncul pengertian lingkungan geografi (Environmental Geography). Hasil karyanya dituangkan dalam bentuk buku yang berjudul Cosmos. Buku ini tediri dari 4 jilid yang diterbitkan secara beruntun dari tahun 1845-1858. Bukunya berisikan gambaran keadaan alam di seluruh dunia. Dia juga menjadi salah seorang yang mengorganisir kongres berbagai Ilmu Pengetahuan yang pertama di Berlin.
3. Karl Ritter (1779-1839), adalah Profesor Geografi pertama dari Universitas Frederich Wilhelm, Berlin Jerman. Gelar tersebut diperolehnya pada tahun 1825.
Sebelumnya dia adalah tenaga pengajar Geografi pada Akademi Militer di Berlin. Pemikirannya sejalan dengan Humboldt terutama dalam menjelaskan kegiatan manusia di suatu wilayah meskipun dia hanya melakukan pengembaraan di Eropa saja, tetapi dia telah berhasil menggunakan hasil observasi orang lain. Pandangan terhadap Geografi dipengaruhi oleh pemikiran religius, menurutnya bumi diciptakan oleh Tuhan agar manusia dapat belajar dan memakainya untuk tempat tinggal. Pandangan ini merupakan dasar berfikirnya yang Fisis Determinis.
Namun walau demikian faktor manusia mulai mendapat perubahan dalam Geografi. Hal inilah yang menyebabkan Ritter sering disebut Bapak Geografi Sosial. Sepanjang hayatnya, Ritter menghasilkan karya besar, yaitu meulis sebuah buku yang berjudul Die Erdkunde yang terdiri dari 21 jilid dan ditulis seorang diri berisikan deskripsi regional dari seluruh dunia walau yang paling lengkap adalah Eropa dan Asia, membuat Atlas alam Eropa dan Atlas Asia tang memuat peta-peta daerah tersebut. Ritter telah berjasa memasukkan faktor penting pada studi Geografi yaitu dengan mengemukakan konsep “Geography to study the earth as dwelling place of man” . Baginya tujuan mempelajari aspek fisis dari bumi adalah menempatkan bumi sebagai tempat tinggal dan bagian dari lingkungan manusia. Ritter memandang bahwa permukaan bumi sebagai tempat tinggal manusia, dan menggolongkan permukaan bumi menjadi wilayah alamiah dan mempelajari unit wilayah ini bagi masyarakat yang menempatinya dan masyarakat yang pernah menempatinya.
4. Charles Darwin (1809-1882), Seorang naturalis Inggris yang terkenal karena teori evolusinya.
Pengaruh Darwin sangat besar terhadap pandangan Geografi setelah Humboldt dan Ritter. Teori evolusi Darwin berpengaruh luas terhadap berbagai bidang pengetahuan pada masa itu, bahkan konsep “survival of the fittest” dan “Natural Selection” merupakan dasar pemikiran berkembangnya fisis-determinis pada Geografi. Empat tema utama yang merupakan sumbangan Biologi, terutama teori Darwin pada pemikiran Geografi, yaitu :
a. Ide perubahan dari waktu ke waktu (the idea of change trough time).
b. Ide Organisasi (the idea of organization)
c. Ide perjuangan dan seleksi (The Idea of Struggle and Selection).
d. Kerandoman atau karakter yang secara kebetulan dari variasi di Alam (The randomness or chance character of variations in nature).
Keempat tema tersebut berpengaruh kuat pada perkembangan pemikiran Geografi pada masa itu dan masa-masa setelahnya. Pendekatan Ekologi serta pandangan geografi Politik dan Geopolitik dipengaruhi oleh teori Darwin. Untuk kepentingan Politik, teori Darwin pernah diselewengkan pada politik perluasan kekuasaan (politik ekspansi), terutama pada zaman NAZI Jerman atau zaman Hitler.

Geografi Mutakhir Masa Kini

Perkembangan geografi saat ini lebih mengarah pada upaya pemecahan masalah yang dihadapi oleh umat manusia. Kondisi ini mengharuskan Geografi sebagai bidang keilmuan tidak boleh melepaskan diri dari disiplin keilmuan lainnya. Seperti yang terjadi pada disiplin ilmu lainnya, geografi juga telah mempergunakan statistik dan metode kuantitatif dalam penelitiannya, bahkan penggunaan piranti komputer untuk mengolah dan menganalisa data sudah menjadi kebutuhan.
Selain itu, penggunaan Citra Satelit sudah menjadi kebutuhan dalam pengadaan data geografi yang tepat dan akurat. Citra baru dalam studi Geografi dimulai pada tahun 1960, yaitu dengan penggunaan metoda Kuantitatif dalam penelitian Geografi. Penggunaan metoda penelitian kuantitatif dipelopori oleh geograf Amerika Serikat dan Swedia yang tidak hanya menerapkannya pada penelitian Geografi fisik, namun juga pada geografi lainnya dengan dibantu pemakaian piranti komputer. Pengaruh tersebut terus menyebar ke seluruh dunia, terutama negara-negara maju.
Sampai tahun 1960, Geografi di Inggris tidak mempunyai warna dan kuno pemikirannya, sesudah tahun tersebut perkembangan Geografi semakin pesat dan terjadi perubahan yang besar-besaran dalam pemikirannya.
Geografi di Inggris yang terkenal dengan penelitiannya tentang penggunaan lahan dan pendekatan praktis berkenaan dengan perencanaan telah mendorong sekelompok geograf yang dipelopori oleh Chorley pada tahun 1964 mengembangkan pemikiran baru untuk Geografi Fisik dan Peter Haget untuk Geografi Sosial. Hasil karya mereka, yaitu Frontiers in Geography dan Models in Geography yang merupakan kumpulan karangan merupakan manifestasi dari pemikiran baru tersebut. Pemakain metoda kuantitatif dalam penelitian Geografi tidak hanya analisis tetapi juga mendorong pengembangan teori lebih lanjut.
Studi Berry tentang model teoritis jaringan kota di Amerika Serikat dapat diterapkan dalam struktur internal kota besar. Penggunaan berbagai piranti modern dalam mendukung studi Geografi akan sangat bermanfaat terutama dalam penentuan batas wilayah, gerakan penduduk, batas wilayah, serta berbagai persebaran fenomena geografi. Selain itu juga bermanfaat bagi menentukan keterkaitan antara satu variabel dengan variabel lainnya.
Wrigley mengungkapkan, bahwa Geografi tidak boleh membatasi diri dalam mempergunakan analisa untuk penelitiannya. Analisa apapun dapat dipergunakan asal dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Ia juga berpendapat bahwa geografi merupakan disiplin yang berorientasikan pada masalah (problem oriented) dalam rangka interaksi antara manusia dengan lingkungannya.
Apabila geografi wilayah (regional geography) dianggap sebagai kajian yang berkaitan dengan wilayah, maka geografi mutakhir sebagian bersifat wilayah. Metode wilayah masih merupakan alat penting bagi geografi mutakhir. Perbedaannya adalah wilayah bukan tujuan akhir dari geografi namun geografi bersifat wilayah namun bukan tentang wilayah.
Metoda kuantitatif dan berbagai piranti komputer pendukungnya yang lazim dipergunakan dalam studi Geografi dewasa ini bukan menggantikan atau menghilangkan metoda Geografi, namun hanya sebagai penambah peralatan di dalam tehnik penelitian dan analisis.
- sumber- http://rimalrimaru.com/geografi-mutakhir-masa-kini/#sthash.cihLyyUM.dpuf

0 comments:

Poskan Komentar