geografi lingkungan

Khoirunnas anfa'uhum linnas

Kamis, 28 Juli 2011

Geograf Islam (Zaman Keemasan Islam)


Abu Rayhan al-Biruni adalah seorang ilmuwan besar, fisikawan, astronom, sosiolog, sastrawan, sejarawan dan matematikawan yang tak ternilainya. Dia diberi gelar Bapak dari Unified Field Theory (teori segala sesuatu) oleh peraih penghargaan Nobel Profesor Abdus Salam (1926-1996). Abu Rayhan al-Biruni hidup hampir seribu tahun yang lalu dan sezaman dengan Ibn Sina (Avicenna) dan Sultan Mahmoud Ghazni.
Pada saat menjelang akhir hayatnya, Biruni dikunjungi oleh tetangganya yang merupakan ahli fiqih. Abu Rayhan masih dalam keadaan sadar, dan tatkala melihat sang ahli fiqih, dia bertanya kepadanya tentang hukum waris dan beberapa hal yang berhubungan dengannya. Sang ahli fiqih terkesima melihat seseorang yang sekarat masih tertarik dengan persoalan-persoalan tersebut. Abu Rayhan berkata, “Aku ingin bertanya kepadamu: mana yang lebih baik, meninggal dengan ilmu atau meninggal tanpanya?” Sang ahli fiqih menjawab, “Tentu saja lebih baik mengetahui dan kemudian meninggal.” Abu Rayhan berkata, “Untuk itulah aku menanyakan pertanyaanku yang pertama.” Beberapa saat setelah sang ahli fiqih tiba dirumahnya, tangisan duka mengatakan kepadanya bahwa Abu Rayhan telah meninggal dunia. (Murtaza Mutahhari: Khutbah Keagamaan)
Setelah itu, hampir seribu tahun yang lalu, ketika umat muslim adalah pembawa obor pengetahuan pada zaman kegelapan. Mereka menciptakan peradaban Islam, didorong oleh penelitian dan penemuan ilmiah, yang membuat bagian dunia lainnya iri selama berabad-abad.
Dalam kata-kata Carli Fiorina, seorang CEO Hewlett Packard yang visioner dan berbakat tinggi, “Adalah para arsitek yang mendesign bangunan-bangunan yang mampu melawan gravitasi. Adalah para matematikawan yang menciptakan aljabar dan algoritma yang dengannya komputer dan enkripsi data dapat tercipta. Adalah para dokter yang memeriksa tubuh manusia, dan menemukan obat baru untuk penyakit. Adalah para astronom yang melihat ke langit, memberi nama bintang-bintang, dan membuka jalan bagi perjalanan dan eksplorasi antariksa. Adalah para sastrawan yang menciptakan ribuan kisah; kisah-kisah perjuangan, percintaan dan keajaiban. Ketika negeri lain takut akan gagasan-gagasan, peradaban ini berkembang pesat dengannya dan membuat mereka penuh energi. Ketika ilmu pengetahuan terancam dihapus akibat penyensoran oleh peradaban sebelumnya, peradaban ini menjaga ilmu pengetahuan tetap hidup, dan menyebarkannya kepada peradaban lain. Tatkala peradaban barat modern sedang berbagi pengetahuan ini, peradaban yang sedang saya bicarakan ini adalah dunia Islam bermula pada tahun 800 hingga 1600, yang termasuk di dalamnya Dinasti Ottoman dan kota Baghdad, Damaskus dan Kairo, dan penguasa agung seperti Sulaiman yang Bijak. Walaupun kita sering kali tidak menyadari hutang budi kita kepada peradaban ini, sumbangsihnya merupakan bagian dasar dari kebudayaan kita. Teknologi industri tidak akan pernah hadir tanpa kontribusi para matematikawan arab.”

(Atas): Al-Khwarizmi (Algorizm) * Matematika (Aljabar, Kalkulus), Astronomi; Abul Hasan Ali al-Mas’udi * Ilmu Bumi, Sejarah; Ahmed Al-Tabari * Kedokteran;
(Tengah): Ibn Sina (Avicenna) * Kedokteran, Filsafat, Matematika, Astronomi; Qutb al-Din al-Shirazi * Astronomi, Ilmu Bumi (Geography); al-Farabi (Alpharabius) * matematika, filosofi, pengobatan, musik
(Bawah): Ibn Rushd (Averroe’s) * Filosofi, Kedokteran, Astronomi; Ibnu Taimiyah * pemikir dan ulama Islam , Ibnu Khaldun * bapak Ekonomi Islam, tafsir, hadis, usul fikih, tauhid, fikih madzhab Maliki, ilmu nahwu dan sharaf, ilmu balaghah, fisika dan matematika.

Sebenarnya, sangatlah sulit untuk mencari bidang ilmu pengetahuan yang tidak berhutang budi kepada para pionir ini. Di bawah ini adalah daftar singkat, tanpa bermaksud menyatakannya sebagai yang terlengkap, para ilmuwan muslim dari abad 8 hingga abad 14.
701 (Meninggal) * Khalid Ibn Yazeed * Ilmuwan kimia
721-803 * Jabir Ibn Hayyan * Ilmuwan kimia (Seorang ilmuwan kimia muslim populer)
740 * Al-Asma’i * Ahli ilmu hewan, ahli tumbuh-tumbuhan, ahli pertanian
780 * Al-Khwarizmi (Algorizm) * Matematika (Aljabar, Kalkulus), Astronomi
Kitab al-Hayawan. Sebuah kitab berisi ensklopedia berbagai jenis binatang karya ahli ilmu hewan muslim al-Jahiz. Pada kitab ini al-Jahiz memaparkan berbagai macam teori, salah satunya mengenai interaksi antara hewan dengan lingkungannya.
776-868 * Amr Ibn Bahr al-Jahiz * Ahli ilmu hewan
787 * Al Balkhi, Ja’far Ibn Muhammad (Albumasar) * Astronomi
796 (Meninggal) * Al-Fazari, Ibrahim Ibn Habib * Astronomi
800 * Ibn Ishaq Al-Kindi (Alkindus) * Kedokteran, Filsafat, Fisika, Optik
815 * Al-Dinawari, Abu Hanifa Ahmed Ibn Dawud * Matematika, Sastra
816 * Al Balkhi * Ilmu Bumi (Geography)
836 * Thabit Ibn Qurrah (Thebit) * Astronomi, Mekanik, Geometri, Anatomi
838-870 * Ali Ibn Rabban Al-Tabari * Kedokteran, Matematika
852 * Al Battani Abu Abdillah * Matematika, Astronomi, Insinyur
857 * Ibn Masawaih You’hanna * Kedokteran
858-929 * Abu Abdullah Al Battani (Albategnius) * Astronomi, Matematika
860 * Al-Farghani, Abu al-Abbas (Al-Fraganus) * Astronomy, Tehnik Sipil
864-930 * Al-Razi (Rhazes) * Kedokteran, Ilmu Kedokteran Mata, Ilmu Kimia
973 (Meninggal) * Al-Kindi * Fisika, Optik, Ilmu Logam, Ilmu Kelautan, Filsafat
888 (Meninggal) * Abbas Ibn Firnas * Mekanika, Ilmu Planet, Kristal Semu
900 (Meninggal) * Abu Hamed Al-Ustrulabi * Astronomi
903-986 * Al-Sufi (Azophi) * Astronomi
908 * Thabit Ibn Qurrah * Kedokteran, Insinyur
912 (Meninggal) * Al-Tamimi Muhammad Ibn Amyal (Attmimi) * Ilmu Kimia
923 (Meninggal) * Al-Nirizi, AlFadl Ibn Ahmed (Altibrizi) * Matematika, Astronomi
930 * Ibn Miskawayh, Ahmed Abu Ali * Kedokteran, Ilmu Kimia
932 * Ahmed Al-Tabari * Kedokteran
934 * Al-Istakhr II * Ilmu Bumi (Peta Bumi)
936-1013 * Abu Al-Qosim Al-Zahravi (Albucasis) * Ilmu Bedah, Kedokteran
940-997 * Abu Wafa Muhammad Al-Buzjani * Matematika, Astronomi, Geometri
943 * Ibn Hawqal * Ilmu Bumi (Peta Dunia)
950 * Al Majrett’ti Abu al-Qosim * Astronomi, Ilmu Kimia, Matematika
958 (Meninggal) * Abul Hasan Ali al-Mas’udi * Ilmu Bumi, Sejarah
960 (Meninggal) * Ibn Wahshiyh, Abu Bakar * Ilmu Kimia, Ilmu Tumbuh-tumbuhan
965-1040 * Ibn Al-Haitham (Alhazen) * Fisika, Optik, Matematika
973-1048 * Abu Rayhan Al-Biruni * Astronomy, Matematika, Sejarah, Sastra
976 * Ibn Abil Ashath * Kedokteran
980-1037 * Ibn Sina (Avicenna) * Kedokteran, Filsafat, Matematika, Astronomi
983 * Ikhwan A-Safa (Assafa) * (Kelompok Ilmuwan Muslim)
1001 * Ibn Wardi * Ilmu Bumi (Peta Dunia)
1008 (Meninggal) * Ibn Yunus * Astronomy, Matematika.
1019 * Al-Hasib Alkarji * Matematika
1029-1087 * Al-Zarqali (Arzachel) * Matematika, Astronomi, Syair
1044 * Omar Al-Khayyam * Matematika, Astronomi, Penyair
1060 (Meninggal) * Ali Ibn Ridwan Abu Hassan Ali * Kedokteran
1077 * Ibn Abi Sadia Abul Qasim * Kedokteran
1090-1161 – Ibn Zuhr (Avenzoar) * Ilmu Bedah, Kedokteran
1095 – Ibn Bajah, Mohammed Ibn Yahya (Avenpace) * Astronomi, Kedokteran
1097 – Ibn Al-Baitar Diauddin (Bitar) * Ilmu Tumbuh-Tumbuhan, Ilmu Kedokteran
1099 – Al-Idrisi (Dreses) * Ilmu Bumi (Geography), Ahli Ilmu Hewan, Peta Dunia (Peta Pertama)
1110-1185 – Ibn Tufayl, Abubacer Al-Qaysi * Filosofi, Kedokteran
1120 (Meninggal) – Al-Tuhra-ee, Al-Husain Ibn Ali *Ahli Kimia, Penyair
1128 – Ibn Rushd (Averroe’s) * Filosofi, Kedokteran, Astronomi
1135 – Ibn Maymun, Musa (Maimonides) * Kedokteran, Filosofi
1136 – 1206 – Al-Razaz Al-Jazari * Astronomi, Seni, Insinyur mekanik
1140 – Al-Badee Al-Ustralabi * Astronomi, Matematika
1155 (Meningal) – Abdel-al Rahman al Khazin *Astronomi
1162 – Al Baghdadi, Abdel-Lateef Muwaffaq * Kedokteran, Ahli Bumi (Geography)
1165 – Ibn A-Rumiyyah Abul’Abbas (Annabati) * Ahli Tumbuh-tumbuhan
1173 – Rasheed Al-Deen Al-Suri * Ahli Tumbuh-tumbuhan
1180 – Al-Samawal * Matematika
1184 – Al-Tifashi, Shihabud-Deen (Attifashi) *Ahli Logam, Ahli Batu-batuan
1201-1274 – Nasir Al-Din Al-Tusi * Astronomi, Non-Euclidean Geometri
1203 – Ibn Abi-Usaibi’ah, Muwaffaq Al-Din * Kedokteran
1204 (Meninggal) – Al-Bitruji (Alpetragius) * Astronomi
1213-1288 – Ibn Al-Nafis Damishqui * Astronomi
1236 – Kutb Aldeen Al-Shirazi * Astronomi, Ilmu Bumi (Geography)
1248 (Meninggal) * Ibn Al-Baitar * Farmasi, Ahli Tumbuh-tumbuhan (Botany)
1258 – Ibn Al-Banna (Al Murrakishi), Azdi * Kedokteran, Matematika
1262 – Abu al-Fath Abd al-Rahman al-Khazini * Fisika, Astronomi
1273-1331 – Al-Fida (Abdulfeda) * Astronomi, Ilmu Bumi (Geography)
1360 – Ibn Al-Shater Al Dimashqi * Astronomi, Matematika
1320 (Meninggal) – Al Farisi Kamalud-deen Abul-Hassan *Astronomy, Fisika
1341 (Meninggal) – Al Jildaki, Muhammad Ibn Aidamer * Ilmu Kimia
1351 – Ibn Al-Majdi, Abu Abbas Ibn Tanbugha * Matematika, Astronomi
1359 – Ibn Al-Magdi, Shihab Udden Ibn Tanbugha * Matematika, Astronomi
Dengan deretan sarjana muslim seperti itu, tidaklah sulit untuk menyetujui apa yang dikatakan George Sarton, ” Tugas utama kemanusian telah dicapai oleh para muslim. Filosof terbaik, Al-Farabi adalah seorang muslim. Matematikawan terbaik Abul Kamil dan Ibn Sina adalah muslim. Ahli geography (Ilmu Bumi) dan ensklopedia terbaik Al-Masudi adalah seorang muslim dan Al-Tabari ahli sejarah terbaik juga seorang muslim.
Sejarah sebelum Islam dipenuhi dengan perkiraan-perkiraan, desas-desus dan mitos-mitos. Adalah seorang ahli sejarah muslim yang pertama kali memperkenalkan metode sanad dan matan yang melacak keaslian dan keutuhan sebuah informasi langsung dari saksi mata. Menurut seorang ahli sejarah Bucla “Metode ini belumlah dipraktekkan oleh Eropa sebelum tahun 1597.” Metode lainnya: adalah penelitian sejarah bersumber dari ahli sejarah terkemuka Ibn Khaldun. Pengarang dari Kashfuz Zunun memberikan daftar 1300 buku-buku sejarah yang ditulis dalam bahasa Arab pada masa beberapa abad sejak munculnya Islam.
Sekarang lihatlah dunia kaum muslim. Kapankah anda terakhir kali mendengar seorang muslim memenangkan hadiah Nobel dalam bidang ilmu pengetahuan dan kedokteran? Bagaimana dengan publikasi ilmiah? Sayangnya, anda tidak akan menemukan banyak nama kaum Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan makalah-makalah ilmiah. Apa yang kurang? Alasan apa yang kita miliki?
Sebuah publikasi yang baru saja diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menanggapi pembangunan di wilayah Arab mengemukakan bahwa dunia Arab yang terdiri dari 22 negara menerjemahkan 330 buku per tahun. Angka itu sangat menyedihkan, hanya seperlima dari jumlah buku-buku yang diterjemahkan oleh sebuah negara kecil Yunani dalam setahunnya! (Spanyol menerjemahkan rata-rata 100,000 buku setiap tahunnya). Mengapa ada alergi atau keengganan untuk menerjemahkan ilmu yang asal-muasalnya berasal dari nenek moyang kita sendiri untuk mendapatkan kembali warisan terdahulu dengan menganalisa, mengumpulkan, menyempurnakan dan menyalurkan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi umat manusia.
Dikutip dari berbagai sumber.
Berkembangnya geografi di dunia Islam dimulai ketika Khalifah Al-Ma'mun yang berkuasa dari tahun 813 hingga 833 M memerintahkan para geograferMuslim untuk mengukur kembali jarak bumi.

Perhatikan peta disamping, sebelah kanan merupakan peta buatan Hadji Muhiddin Piri Ibn Hadji Mohammad Rais (Piri Reis) merupakan interpretasi dari peta amerika selatan modern (gambar kiri). Dibuat pada abad ke-14.

Islam mendorong umatnya untuk membuka pikiran dan cakrawala. Allah SWT SWT berfirman: Sungguh telah berlaku sunnah Allah SWT (hukum Allah SWT) maka berjalanlah kamu di muka bumi dan lihatlah bagaimana akibat (perbuatan) orangorang mendustakan ayat-ayat-Nya. (QS. Al-Imran: 137). Perintah ini telah membuat umat Islam di abad-abad pertama berupaya untuk melakukan ekspansi serta ekspedisi.

Selain dilandasi faktor ideologi dan politik, ekspansi Islam yang berlangsung begitu cepat itu juga didorong insentif perdagangan yang menguntungkan. Tak pelak umat Islam pun mulai mengarungi lautan dan menjelajah daratan untuk menyebarkan agama Allah SWT. Seiring meluasnya ekspansi dan ekspedisi ruterute perjalanan melalui darat dan laut pun mulai bertambah.

Tak heran, jika sejak abad ke-8 M, kawasan Mediterania telah menjadi jalur utama Muslim. Jalur-jalur laut dan darat yang sangat sering digunakan akhirnya menghubungkan seluruh wilayah Muslim yang berkembang mencapai India, Asia Tenggara, dan Cina meluas ke utara dari Sungai Volga hingga Skandinavia dan menjangkau jauh ke pedalaman Afrika.

Ekspansi dan ekspedisi di abad-abad itu mendorong para sarjana dan penjelajah Muslim untuk mengembangkan geografi atau ilmu bumi. Di era kekhalifahan, geografi mulai berkembang dengan pesat. Perkembangan geografi yang ditandai dengan ditemukannya petadunia serta jalur-jalur perjalanan di dunia Muslim itu ditopang sejumlah faktor pendukung.

Era keemasan Islam, perkembangan astronomi Islam, penerjemahan naskahnaskah kuno ke dalam bahasa Arab serta meningkatnya ekspansi perdagangan dan kewajiban menunaikan ibadah haji merupakan sejumlah faktor yang mendukung berkembangnya geografi di dunia Islam. Tak pelak, Islam banyak memberi kontribusi bagi pengembangan geografi.

Umat Islam memang bukan yang pertama mengembangkan dan menguasai geografi. Ilmu bumi pertama kali dikenal bangsa Yunani adalah bangsa yang pertama dikenal secara aktif menjelajahi geografi. Beberapa tokoh Yunani yang berjasa mengeksplorasi geografi sebagai ilmu dan filosofi antara lain; Thales dari Miletus, Herodotus, Eratosthenes, Hipparchus,Aristotle, Dicaearchus dari Messana, Strabo, dan Ptolemy.

Selain itu, bangsa Romawi juga turut memberi sumbangan pada pemetaan karena mereka banyak menjelajahi negeri dan menambahkan teknik baru. Salah satu tekniknya adalah periplus, deskripsi pada pelabuhan, dan daratan sepanjang garis pantai yang bisa dilihat pelaut di lepas pantai.

Selepas Romawi jatuh, Barat dicengkeram dalam era kegelapan. Perkembangan ilmu pengetahuan justru mulai berkembang pesat di Timur Tengah. Geografi mulai berkembang pesat pada era Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Ketika itu, Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Al- Mamun berkuasa, mereka mendorong para sarjana Muslim untuk menerjemahkan naskah-naskah kuno dari Yunani ke dalam bahasa Arab.

Ketertarikan umat Muslim terhadap geografi diawali dengan kegandrungan atas astronomi. Perkembangan di bidang astronomi itu perlahan tapi pasti mulai membawa para sarjana untuk menggeluti ilmu bumi. Umat Islam mulai tertarik mempelajari peta yang dibuat bangsa Yunani dan Romawi. Beberapa naskah penting dari Yunani yang diterjemahkan antara lain; Alemagest dan Geographia.

Berkembangnya geografi di dunia Islam dimulai ketika Khalifah Al- Ma’mun yang berkuasa dari tahun 813 hingga 833 M memerintahkan para geografer Muslim untuk mengukur kembali jarak bumi. Sejak saat itu muncullah istilah mil untuk mengukur jarak. Sedangkan orang Yunani menggunakan istilah stadion.

Upaya dan kerja keras para geografer Muslim itu berbuah manis. Umat Islam pun mampu menghitung volume dan keliling bumi. Berbekal keberhasilan itu, Khalifah Al-Mamun memerintahkan para geografer Muslim untuk menciptakan peta bumi yang besar. Adalah Musa Al-Khawarizmi bersama 70 geografer lainnya mampu membuat peta globe pertama pada tahun 830 M.

Khawarizmi juga berhasil menulis kitab geografi yang berjudul Surah Al- Ard (Morfologi Bumi) sebuah koreksi terhadap karya Ptolemaeus. Kitab itu menjadi landasan ilmiah bagi geografi Muslim tradisional. Pada abad yang sama, Al-Kindi juga menulis sebuah buku bertajuk ‘Keterangan tentang Bumi yang Berpenghuni’.

Sejak saat itu, geografi pun berkembang pesat. Sejumlah geografer Muslim berhasil melakukan terobosan dan penemuan penting. Di awal abad ke-10 M, secara khusus, Abu Zayd Al-Balkhi yang berasal dari Balkh mendirikan sekolah di kota Baghdad yang secara khusus mengkaji dan membuat peta bumi.

Di abad ke-11 M, seorang geografer termasyhur dari Spanyol, Abu Ubaid Al- Bakri berhasil menulis kitab di bidang geografi, yakni Mu’jam Al-Ista’jam (Eksiklopedi Geografi) dan Al-Masalik wa Al-Mamalik (Jalan dan Kerajaan). Buku pertama berisi nama-nama tempat di Jazirah Arab. Sedangkan yang kedua berisi pemetaan geografis dunia Arab zaman dahulu.

Pada abad ke-12, geografer Muslim, Al-Idrisi berhasil membuat peta dunia. Al-Idrisi yang lahir pada tahun 1100 di Ceuta Spanyol itu juga menulis kitab geografi berjudul Kitab Nazhah Al- Muslak fi Ikhtira Al-Falak (Tempat Orang yang Rindu Menembus Cakrawala). Kitab ini begitu berpengaruh sehingga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Geographia Nubiensis.

Seabad kemudian, dua geografer Muslim yakni, Qutubuddin Asy-Syirazi (1236 M - 1311 M) dan Yaqut Ar-Rumi (1179 M -1229 M) berhasil melakukan terobosan baru. Qutubuddin mampu membuat peta Laut Putih/Laut Tengah yang dihadiahkan kepada Raja Persia. Sedangkan, Yaqut berhasil menulis enam jilid ensiklopedi bertajuk Mu’jam Al-Buldan (Ensiklopedi Negeri-negeri).

Penjelajah Muslim asal Maroko, Ibnu Battuta di abad ke-14 M memberi sumbangan dalam menemukan rute perjalanan baru. Hampir selama 30 tahun, Ibnu Battuta menjelajahi daratan dan mengarungi lautan untuk berkeliling dunia. Penjelajah Muslim lainnya yang mampu mengubah rute perjalanan laut adalah Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok. Dia melakukan ekspedisi sebanyak tujuh kali mulai dari tahun 1405 hingga 1433 M.

Dengan menguasai geografi, di era keemasan umat Islam mampu menggenggam dunia.

Kontribusi Geografer Muslim

Sederet geografer Muslim telah banyak memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu bumi. Al-Kindi diakui begitu berjasa sebagai geografer pertama yang memperkenalkan percobaan ke dalam ilmu bumi. Sedangkan, Al-Biruni didapuk sebagai ‘bapak geodesi’ yang banyak memberi kontribusi terhadap geografi dan juga geologi.

John J O’Connor dan Edmund F Robertson menuliskan pengakuannya terhadap kontribusi Al-Biruni dalam MacTutor History of Mathematics. Menurut mereka, ‘’Al-Biruni telah menyumbangkan kontribusi penting bagi pengembangan geografi dan geodesi. Dialah yang memperkenalkan teknik pengukuran bumi dan jaraknya dengan menggunakan triangulation.’’

Al-Biruni-lah yang menemukan radius bumi mencapai 6.339,6 km. Hingga abad ke-16 M, Barat belum mampu mengukur radius bumi seperti yang dilakukan Al-Biruni. Bapak sejarah sains, George Sarton, juga mengakui kontribusi sarjana Muslim dalam pengembangan geografi dan geologi. ‘’Kita menemukan dalam tulisannya metedo penelitian kimia, sebuah teori tentang pembentukan besi.’’

Salah satu kekhasan yang dikembangkan geografer Muslim adalah munculnya bio-geografi. Hal itu didorong oleh banyaknya orang Arab di era kekhalifahan yang tertarik untuk mendistribusi dan mengklasifikasi tanaman, binatang, dan evolusi kehidupan. Para sarjana Muslim mencoba menganalisis beragam jenis tanaman.

Geografer Muslim di Era Keemasan :

1. Hisyam Al-Kalbi (abad ke-8 M)
Dia adalah ahli ilmu bumi pertama dalam sejarah Islam. Hisyam begitu populer dengan studinya yang mendalam mengenai kawasan Arab.

2. Musa Al-Khawarizmi (780 M - 850 M)
Ahli matematika yang juga geografer itu merevisi pandangan Ptolemaues mengenai geografi. Bersama-sama 70 puluh geografer, Al-Khawarizmi membuat peta globe pertama pada tahun 830 M.

3. Al-Ya’qubi (wafat 897 M)
Dia menulis buku geografi bertajuk ‘Negeri-negeri’ yang begitu populer dengan studi topografisnya.

4. Ibn Khordadbeh (820 M - 912 M)
Dia adalah murid Al-Kindi yang mempelajari jalan-jalan di berbagai provinsi secara cermat dan menuangkannya ke dalam buku Al- Masalik wa Al-Mamalik (Jalan dan Kerajaan).

5. Al-Dinawari (828 M - 898 M)
Geografer Muslim yang juga banyak memberi kontribusi pada perkembangan ilmu geografi.

6. Hamdani (893 M - 945 M) Geografer Muslim abad ke-9 M yang mendedikasikan dirinya untuk mengembangkan geografi.

7. Ali al-Masudi (896 M - 956 M)
Nama lengkapnya Abul hasan Ali Al-Ma’sudi. Ia mempelajari faktorfaktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pembentukan batubatuan di bumi dengan orisinalitas yang mencengangkan.

8. Ahmad ibn Fadlan (abad ke-10 M)
Dia adalah geografer yang menulis ensiklopedia dan kisah perjalanan ke daerah Volga dan Kaspia.

9. Ahmad ibn Rustah (abad ke-10 M)
Ibnu Rustah merupakan geografer yang menulis ensiklopedia besar mengenai geografi. Al Balkhi Memberikan sumbangan cukup besar dalam pemetaan dunia. Al Kindi Selain terkenal sebagai ahli oseanografi, dia juga seorang ilmuwan multitalenta. Sebagai ahli fisika, optik, metalurgi, bahkan filosofi.

10. Al Istakhar II dan Ibnu Hawqal (abad ke-10 M)
Memberikan kontribusi besar dalam pemetaan dunia.

11. Al-Idrisi (1099 M)
Ahli geografi kesohor pada zamannya, yang juga dikenal sebagai ahli zoologi.

12. Al Baghdadi (1162 M)
Seorang geografer Muslim terkemuka.

13. Abdul-Leteef Mawaffaq (1162 M)
Selain pakar geografi, dia juga merupakan ahli pengobatan.


14. Piri Reis (1465-1555 M)
Merupakan komandan armada Turki Utsmani di Samudra Hindia dan laksamana armada di Mesir, berkantor pusat di Suez.


Biografi Piri Reis

Biografi Piri Reis (Tokoh Geografi Ottoman) – Piri Reis (nama lengkap Hadji Muhiddin Piri Ibn Hadji Mehmed, Reis / Rais adalah Turki untuk kapten) adalah seorang ahli geografi Ottoman kaptan-i Derya, dan pembuat peta lahir antara 1465 dan 1470 dan meninggal pada 1554 atau 1555. Ia terutama dikenal hari ini untuk peta dan grafik dikumpulkan dalam-Kitab, aku Bahrie (Kitab Navigasi), sebuah buku yang berisi informasi rinci tentang navigasi serta sangat akurat untuk grafik waktu menggambarkan kota-kota pelabuhan penting dan Laut Mediterania . Ia memperoleh ketenaran sebagai kartografer ketika sebuah bagian kecil dari peta dunia pertama (disiapkan pada tahun 1513) ditemukan pada tahun 1929 di Istana Topkapi di Istanbul. peta dunia-Nya adalah atlas tertua Turki dikenal menunjukkan Dunia Baru, dan salah satu peta tertua Amerika masih ada di dunia. (Peta tertua Amerika yang masih ada adalah peta ditarik oleh Juan de la Cosa pada tahun 1500, yang disimpan di Museum Angkatan Laut (Museo Naval) dari Madrid, Spanyol.) Peta Piri Reis ‘berpusat di Sahara di Tropic of Cancer lintang.
Pada tahun 1528 Piri Reis menggambar peta dunia kedua,
dimana sebuah fragmen kecil yang menunjukkan Greenland dan Amerika Utara dari Labradordan Newfoundland di utara ke Florida, Kuba dan bagian dari Amerika Tengah di selatan. Menurut teks pencetakan, ia telah menarik peta itu menggunakan sekitar dua puluh grafik asing dan mappa Mundi (Arab, Spanyol, Portugis, Cina, India dan Yunani) termasuk salah satu Christopher Columbus.
Sedikit yang diketahui tentang identitas Piri Reis. Bahkan nama diterjemahkan secara kasar berarti “kapten laut” asal-Nya masih bisa diperdebatkan, dengan sumber merujuk kepadanya sebagai Kristen, mungkin Yunani., Yunani, Yahudi, atau etnis Turki. Hadji Muhiddin Piri Ahmed lahir baik di Gallipoli bagian Eropa dari Kekaisaran Ottoman atau di Karaman, Anatolia pusat, tetapi tanggal tepat kelahirannya tidak diketahui. Ia adalah putra Hadji Mehmed Piri, saudara Laksamana Kemal Reis dan mulai terlibat dalam pembajakan ketika ia masih muda, di 1481, mengikuti pamannya Kemal Reis, seorang bajak laut dan pelaut yang terkenal waktu yang kemudian menjadi terkenal Laksamana armada Ottoman. Selama periode Ottoman sedang berperang, bersama-sama dengan pamannya, ia mengambil bagian dalam banyak perkelahian laut melawan Spanyol, Genoa dan Venesia, termasuk Pertempuran Pertama Lepanto (Pertempuran Zonchio) pada 1499 dan Kedua Pertempuran Lepanto ( Pertempuran Modon) pada 1500. Ketika pamannya Kemal Reis tenggelam pada tahun 1511 ketika kapalnya rusak oleh badai, Piri kembali ke Gallipoli di mana ia mulai bekerja mempelajari tentang navigasi.
Pada 1516 dia lagi di laut sebagai kapten kapal di armada Ottoman. Ia mengambil bagian dalam kampanye 1516-17 melawan Mesir. Pada tahun 1522 ia berpartisipasi dalam pengepungan Rhodes terhadap Knights of St John yang berakhir dengan menyerahkan pulau itu kepada Utsmani pada 25 Desember 1522 dan keberangkatan permanen Ksatria dari Rhodes pada 1 Januari 1523. Pada 1524 ia menjadi kapten kapal yang mengambil Wazir tragis Pargal? Ibrahim Pasha ke Mesir.
Pada tahun 1547, Piri telah naik ke peringkat Reis (laksamana) sebagai komandan armada Ottoman di Samudra Hindia dan laksamana armada di Mesir, berkantor pusat di Suez. Pada 26 Februari 1548 ia merebut kembali Aden dari Portugis, diikuti pada 1552 oleh penangkapan Muscat, yang Portugal telah diduduki sejak 1507, dan pulau penting dari Kish. Turning lebih ke timur, Piri Reis ditangkap pulau Hormuz di Selat Hormuz, di pintu masuk Teluk Persia. Ketika Portugis mengalihkan perhatian mereka ke Teluk Persia, Piri Reis menduduki semenanjung Qatar dan pulau Bahrain untuk mencabut Portugis dari basa yang cocok di pantai Arab.
Dia kemudian kembali ke Mesir, seorang pria tua mendekati usia 90. Ketika ia menolak untuk mendukung gubernur Ottoman Basra, Kubad Pasha, di lain kampanye melawan Portugis di Teluk Persia utara, Piri Reis adalah publik dipenggal kepalanya di 1554 atau 1555. Beberapa kapal perang dan kapal selam Angkatan Laut Turki telah dinamai Piri Reis.
Piri Reis adalah penulis Bahrie Kitab-i salah satu buku paling terkenal modern pra navigasi termasuk peta dunia. Meskipun ia tidak seorang penjelajah dan tidak pernah berlayar ke Atlantik, dengan memanfaatkan, menurut pencetakan, dari sekitar dua puluh peta Arab, Spanyol, Portugis, Cina, India dan Yunani lebih tua, ia berhasil memberi gambaran yang komprehensif dunia yang dikenal di jamannya termasuk pantai baru-baru ini dieksplorasi dari kedua Atlantik Afrika dan benua Amerika (tercetak “tanah dan pulau-pulau ini diambil dari peta Columbus”). Dalam teks ia juga memberikan sebagai sumber “peta ditarik dalam waktu Alexander Agung”, tetapi kemungkinan besar ia telah salah bingung Ptolemeus geografi Yunani kuno abad AD 2 dengan Jenderal bernama sama Alexander (dari enam abad sebelum ) karena peta nya adalah sama dengan peta de reproduksi Johannes Stobnicza terkenal Ptolemeus, dicetak pada 1512 buku kuno itu. telah diterjemahkan dalam bahasa Turki setelah pesanan pribadi Mehmed II beberapa dekade sebelumnya. Asal Columbus dari bagian Atlantik peta dikonfirmasi oleh kesalahan yang terkandung (seperti keyakinan Columbus ‘bahwa Kuba adalah semenanjung benua) karena pada saat naskah yang dihasilkan, orang Spanyol sudah selama dua tahun di Meksiko. Selain peta, buku ini juga berisi informasi terperinci mengenai pelabuhan-pelabuhan utama, teluk, teluk, tanjung, semenanjung, pulau, selat dan tempat penampungan yang ideal dari Laut Mediterania, serta teknik-teknik navigasi dan informasi navigasi-terkait astronomi, bersama-sama dengan informasi tentang orang lokal setiap negara dan kota dan aspek ingin tahu budaya mereka. Ada tiga puluh legenda di sekitar peta dunia, 29 di Turki dan satu dalam bahasa Arab, yang terakhir adalah memberikan tanggal sebagai bulan Muharrem dari 919 AH (sesuai dengan musim semi 1513 AD) tetapi kebanyakan penelitian mengidentifikasi tanggal sebagai lebih mungkin yang 1521. Hal ini direvisi pada 1524-5 dengan informasi tambahan dan grafik yang lebih baik dibuat dalam rangka untuk disajikan sebagai hadiah untuk Suleiman I. Edisi revisi memiliki total 434 halaman berisi 290 peta.
Kitab-i Bahrie memiliki dua bagian utama, dengan bagian pertama yang didedikasikan untuk informasi tentang jenis badai, teknik menggunakan kompas, grafik portolan dengan informasi rinci tentang pelabuhan dan pantai, metode pencarian arah menggunakan bintang-bintang, karakteristik utama lautan dan tanah di sekitar mereka. Penekanan khusus diberikan kepada penemuan di Dunia Baru oleh Christopher Columbus dan orang-orang dari Vasco da Gama dan pelaut Portugis lain dalam perjalanan mereka ke India dan sisanya dari Asia.
Bagian kedua adalah seluruhnya terdiri dari grafik portolan dan panduan pesiar. Setiap topik berisi peta suatu pulau atau pantai. Dalam buku pertama (1521), bagian ini memiliki total 132 portolan grafik, sedangkan buku kedua (1525) memiliki total 210 portolan grafik. Bagian kedua dimulai dengan deskripsi Selat Dardanella dan berlanjut dengan pulau dan garis pantai Laut Aegea, Laut Ionia, Laut Adriatik, Laut Tyrrhenian, Ligurian Laut, Riviera Perancis, Kepulauan Balearic, pantai Spanyol, Selat Gibraltar, Kepulauan Canary, pantai Afrika Utara, Mesir dan Sungai Nil, Levant dan garis pantai Anatolia. Bagian ini juga berisi deskripsi dan gambar dari monumen terkenal dan bangunan di setiap kota, serta informasi biografis tentang Piri Reis yang juga menjelaskan alasan mengapa dia lebih menyukai untuk mengumpulkan grafik dalam buku, bukan gambar peta tunggal, yang tidak akan dapat mengandung informasi begitu banyak dan detail.
Satu abad setelah kematian Piri dan pada paruh kedua abad ke-17 versi ketiga bukunya diproduksi yang meninggalkan teks versi kedua terpengaruh sedangkan bagian kartografis memperkaya naskah tersebut. Ini termasuk peta tambahan besar-besaran baru kebanyakan salinan Italia (dari Battista Agnese dan Jacopo Gastaldi) dan Belanda (Abraham Ortelius) karya abad sebelumnya. Peta ini jauh lebih akurat dan menggambarkan Laut Hitam yang tidak terdiri dalam asli.
Salinan Kitab-i Bahrie ditemukan di berbagai perpustakaan dan museum di seluruh dunia. Salinan dari edisi pertama (1521) ditemukan di Istana Topkapi, Perpustakaan Nuruosmaniye dan Perpustakaan Raya Sulaimaniah di Istanbul, Perpustakaan Universitas Bologna, Perpustakaan Nasional Wina, Perpustakaan Negara Dresden, Perpustakaan Nasional Prancis di Paris, British Museum di London, Perpustakaan Bodleian di Oxford dan Walters Art Museum di Baltimore. Salinan dari edisi kedua (1525) ditemukan di Istana Topkapi, yang Köprülüzade Fazil Ahmed Pasa Perpustakaan, Perpustakaan Raya Sulaimaniah dan Perpustakaan Nasional Perancis.

0 comments:

Poskan Komentar